Museum Dirgantara ‘Skadron’ terlengkap di Asia Tenggara menyimpan memoar pilu dalam sejarah dirgantara Indonesia. Salah satu jekak emosional adalah sudut yang menampilkan sisa bangkai ekor pesawat Dakota VT-CLA. Pesawat ini ditembak jatuh oleh Belanda di Dusun Ngoto, Bantul, pada 29 Juli 1947, saat membawa bantuan obat-obatan.
Kala itu, pesawat milik Palang Merah India yang membawa bantuan obat-obatan dari Singapura untuk Indonesia dicegat oleh dua pesawat tempur P-40 Kittyhawk Belanda saat hendak mendarat di Maguwo. Tanpa ampun, pesawat kemanusiaan itu ditembak hingga jatuh dan terbakar di Desa Jatingarang.
"Ini asli lho ini. Bapak Ibu ini Dakota yang asli ini," ujar Kepala Museum Dirgantara Mandala (Kamuspusdirla) Kolonel Kal Christian Tri Aryono yang menceritakan peristiwa tersebut saat ditemui di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta, Rabu (11/2).
Berdiri di depan monumen Dakota, Kolonel Christian menunjukkan bahwa yang dilihat pengunjung adalah fragmen nyata dari peristiwa yang kini diperingati sebagai Hari Bhakti TNI AU tersebut.
Chirstian menunjukkan dokumentasi yang jarang dilihat publik. Foto-foto berwarna hitam putih saat kejadian itu dipajang di samping bangkai pesawat Dakota.
"Nih, pesawat ini yang dulu jatuh di Bantul. Nih, posisinya dari jauh nih nah ini. Aslinya foto. Dan ini jarang ini, ini foto saya temukan itu jarang-jarang diliput," tambahnya sambil menunjukkan foto mesin pesawat hingga sisa obat-obatan yang berserakan.
Tragedi ini merenggut nyawa tiga tokoh besar Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Dr. Abdurrahman Saleh, dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.
Napak tilas tragedi Dakota VT-CLA tidak berhenti pada alutsista semata, tetapi juga merambah ke sejarah tempat para pionir udara ini ditempa.
Kolonel Christian menceritakan betapa sakralnya peran Hotel Tugu di jantung Kota Yogyakarta. Hotel tersebut dulunya adalah tempat tinggal bagi para siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) pertama.
"Hotel Tugu ini, paling bagus di sini. Makanya dulu AURI disebut Priayi, karena di hotel. Hotel itu ini. Hotel ini, Sekbang (Sekolah Penerbang) pertama tuh nginepnya di sini. Bapak Adisutjipto nginepnya di sini, sekalian siswanya 20 orang," kenangnya.
Tragisnya, Hotel Tugu juga menjadi tempat jenazah para korban pesawat Dakota disemayamkan sebelum diarak keliling Malioboro menuju pemakaman.
"Di Hotel Tugu jenazah semua disemayamkan di sana. Mereka tuh diarak keliling Yogya,” jelasnya.
Helikopter Soekarno, Jetstar, hingga 'Pesawat Becak' KepresidenanSementara itu di sisi lain, pengunjung Museum Dirgantara Mandala disuguhi deretan pesawat yang pernah digunakan oleh orang nomor satu di Indonesia.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Jetstar 140, pesawat legendaris yang pernah menjadi tunggangan dinas Presiden Soekarno.
"Itu juga pesawat kepresidenannya Insinyur Soekarno. Itu legend Jetstar 140," jelas Christian.
Namun, ada satu pesawat yang sering membuat pengunjung mengernyitkan dahi karena ukurannya yang sangat mungil. Saking kecilnya, pesawat ini sering dijuluki 'pesawat becak' atau 'capung'.
"Masa pesawat secimplik ini pesawat kepresidenan. Tapi benar-benar ada lho. Makanya di sini orang awam itu lihat pesawat ini nggak percaya ini kayak becak katanya," tuturnya.
Tepat di samping pesawat itu, dipajang helikopter kepresidenan pertama milik Presiden Pertama RI Soekarno ‘Hiller OH-23 Raven’.
Helikopter ini dikenal sebagai pesawat latih tiga tempat duduk yang dikembangkan dari Hiller Model 360, dengan nama pabrikan UH-12. Kode UH merujuk pada United Helicopters.
Model ini pertama kali mengudara pada 1948 dan kemudian banyak digunakan sebagai helikopter pelatihan, termasuk di lingkungan Sekolah Penerbang Angkatan Darat Amerika Serikat. Di kalangan para kadet penerbang, OH-23 bahkan mendapat julukan tidak resmi “Hiller Killer”, yang mencerminkan reputasinya dalam fase latihan terbang.
Museum Dirgantara Mandala mempunyai 61 koleksi pesawat dengan 3.000 lebih koleksi lainnya. Selain pesawat tempur, beberapa koleksi yang juga menarik perhatian yaitu Pesawat N250 yang dibuat oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie, pesawat ini mempunyai julukan ‘Gatot Koco’.





