BEKASI, KOMPAS.com - Di usianya yang baru 12 tahun, Habibi seharusnya menghabiskan sore dengan bermain bersama teman sebaya atau berlatih mengejar cita-citanya.
Namun, bocah yang tinggal di Perumahan Citra Garden Permai, Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, itu justru akrab dengan peluh, kuda, dan roda delman.
Habibi adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang bekerja serabutan tanpa penghasilan tetap, seorang nenek yang menderita stroke, serta bibi dengan keterbelakangan mental.
Baca juga: Kronologi Pria Diduga Oknum TNI Ribut dengan Pemotor di Bekasi, Dipicu Lawan Arah
Di rumah kontrakan sederhana yang disewa Rp 600.000 per bulan itulah ia tumbuh, belajar memahami hidup lebih cepat dari anak seusianya.
Sehari-hari, Habibi berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer menuju sekolahnya di Desa Srimukti. Perjalanan itu ditempuh lebih dari 30 menit.
Ia masuk sekolah siang, dari pukul 12.00 hingga 17.00 WIB, tetapi tidak selalu bisa hadir. Dalam sepekan, Habibi hanya bersekolah sekitar tiga hari karena harus menjaga dua adiknya ketika orangtuanya bekerja.
“Kesehariannya itu jagain adik kalau enggak sekolah. Terus bersih-bersih rumah, ngepel, nyapu. Biasanya saya jadi kernet delman setiap hari Sabtu dan Minggu,” ujar Habibi saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Rabu (11/2/2026).
Sudah enam bulan terakhir, ia bekerja sebagai kernet delman. Pekerjaannya dimulai selepas Ashar hingga pukul 18.00 WIB di wilayah Darmawangsa, Tambun Utara.
Selain itu, ia juga memberi makan rumput, memandikan kuda, dan membantu mengurus delman.
“Sebenarnya ada rasa takutnya, sering ditendang sama kudanya juga, tapi udah biasa gitu,” katanya dengan mata berbinar.
Dari pekerjaan itu, Habibi memperoleh upah Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per hari. Sebagian besar uangnya diserahkan kepada ibu untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sekitar Rp 5.000 ia sisihkan untuk keperluan sekolah.
“Biasanya uang yang saya dapat dari kernet delman disimpan untuk dikasih ke ibu. Kalau untuk sekolah paling sekitar 5.000,” ucapnya.
Baca juga: Diduga Tersenggol Mobil, Pemotor Tewas di Depan RS UIN Ciputat
Habibi mengaku harus berjalan kaki seorang diri ke sekolah. Keterbatasan ekonomi yang ia miliki tidak menjadikan dirinya patah semangat.
“Saya sebenarnya senang belajar. Walaupun harus jalan kaki sendiri ke sekolah. Soalnya di sini enggak ada teman,” ujarnya.
Saat ini, ia bahkan tidak memiliki seragam sekolah yang layak. Seragam terakhir dibelinya saat kelas 2 SD. Kini, pakaiannya mulai kekecilan dan beberapa bagian sudah sobek.





