Jakarta: Di balik kemegahan menara Masjid Istiqlal, terselip kegelisahan para pedagang kaki lima (PKL) yang menggantungkan nasib di atas trotoar. Meski Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta baru saja melakukan penertiban besar-besaran di lima titik kawasan tersebut pada Selasa malam, 10 Februari 2026, denyut ekonomi jalanan tak benar-benar mati.
Hanya berselang sehari, para pedagang kembali berdatangan. Mereka mempertaruhkan modal dan barang dagangan demi sisa-sisa rezeki dari wisatawan religi.
“Kalau di luar (trotoar Istiqlal), pandemi. Pandemi tahun 2020. Ya, kurang lebih 2020. Dulu pernah (ditertibkan), saat itu termos dan beberapa barang diangkut," kenang Siti (nama samaran), seorang pedagang yang sudah berjualan di kawasan itu sejak era pandemi saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Rabu, 11 Februari 2026.
Baca Juga :
Bagi Siti, setiap deru motor atau seragam cokelat petugas yang melintas bukan lagi sekadar pemandangan biasa, melainkan pemicu rasa cemas yang mendalam. Ia mengaku terjebak dalam dilema, ingin patuh pada aturan kebersihan kota, namun tak memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup.
“Sempat trauma. Kalau setiap ada kejadian seperti itu, langsung kayak orang trauma. Jadi kalau ada Satpol PP lewat langsung parno, langsung buru-buru gitu. Biasanya itu kalau pas ada (momen tertentu) baru akan disterilkan,” ujarnya lirih menggambarkan suasana "kucing-kucingan" yang meletihkan.
Harapan untuk berjualan secara legal di dalam kawasan masjid bukannya tak ada, namun tembok realitas ekonomi terasa terlalu tinggi. Siti mengaku hingga kini belum ada komunikasi atau tawaran relokasi resmi dari pihak berwenang.
Berdasarkan selentingan informasi yang ia dengar, biaya sewa di kantin resmi pun jauh di luar jangkauan kantongnya.
Kondisi depan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Foto: Metrotvnews.com/Christian.
“Kalau saya pribadi, belum pernah sih (mendapat penawaran relokasi). Kalau untuk nominal, yang jelasnya itu kurang paham. Cuman mereka yang pernah di dalam, itu yang kantin, satu bulan Rp4 juta. Karena saya pribadi memang saya belum (diajak komunikasi),” tambah Siti.
Siti bukanlah pedagang yang abai. Di tengah tudingan sebagai penyebab kumuhnya kawasan, ia selalu menyapu bersih sisa dagangannya setiap sore pukul 17.00 WIB sebelum beranjak pulang. Ia bermimpi suatu saat bisa berjualan tanpa perlu merasa takut, menetap di area resmi dengan harga yang bersahabat bagi rakyat kecil.
"Harapan saya ada, tolong harga sewanya lebih murah, lalu kami akan tertib juga. Dengan adanya yang jualan di dalam, kemungkinan kita juga akan lebih tertib," ujar Siti.




