Rumput Mulato: Hijauan Unggul Penopang Pakan Ternak di Tengah Tantangan Iklim

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketersediaan hijauan pakan ternak masih menjadi persoalan klasik dalam dunia peternakan ruminansia di Indonesia. Alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan ketergantungan pada rumput alam membuat peternak kerap menghadapi kekurangan pakan, terutama saat musim kemarau. Padahal, pakan hijauan merupakan komponen utama ransum sapi, kambing, dan domba.

Di tengah tantangan tersebut, rumput mulato (Brachiaria hybrid cv. Mulato) hadir sebagai salah satu solusi hijauan unggul yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal di Indonesia.

Apa Itu Rumput Mulato?

Rumput mulato merupakan rumput hibrida hasil persilangan Brachiaria ruziziensis dan Brachiaria brizantha yang dikembangkan oleh International Center for Tropical Agriculture (CIAT) di Kolombia.

Rumput ini dirancang khusus untuk wilayah tropis dengan karakter tahan kekeringan, cepat tumbuh kembali setelah dipotong, dan memiliki kualitas nutrisi yang lebih baik dibandingkan rumput brachiaria konvensional.

Secara morfologi, rumput mulato tumbuh menjalar membentuk hamparan lebat dengan tinggi sekitar 40–60 cm. Daunnya relatif lembut, tidak menyebabkan gatal saat dipanen, dan memiliki palatabilitas tinggi sehingga sangat disukai ternak.

Unggul dari Sisi Produksi dan Nutrisi

Penelitian menunjukkan bahwa kualitas nutrisi rumput mulato cenderung lebih baik pada musim hujan dibandingkan musim kemarau (Argel et al., 2009). Namun demikian, dibanding banyak jenis hijauan lain, penurunan kualitas pada musim kering relatif lebih kecil, menjadikannya rumput yang adaptif terhadap fluktuasi iklim.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumput mulato berdampak positif terhadap performa ternak. Pada sapi perah, penggembalaan atau pemberian rumput mulato mampu meningkatkan produksi susu dibandingkan penggunaan rumput brachiaria lainnya.

Sementara pada sapi potong, pergantian pakan dari rumput alam ke rumput mulato terbukti meningkatkan pertambahan bobot badan harian secara signifikan.

Tak hanya sapi, kambing dan domba yang diberi rumput mulato juga menunjukkan peningkatan konsumsi pakan, kecernaan, dan pertambahan bobot badan. Hal ini mempertegas bahwa rumput mulato berpotensi menjadi hijauan unggulan lintas komoditas ternak.

Nirwana (2016) menyatakan bahwa sapi Bali yang diberi rumput alam hanya dapat memberi pertambahan berat badan harian sebesar 193 g/hari, setelah pakannya diganti dengan rumput mulato maka pertambahan berat badan harian dapat mencapai 366 g/h.

Hasil Penelitian dari Ngila dkk (2016) menunjukan bahwa kambing yang diberikan rumput mulato mengalami pertambahan bobot badan sebesar 0.17 kg/hari dan rata-rata feed intake per harinya, yaitu 513-661 gr/ekor/hari.

Silase Mulato, Solusi Saat Hijauan Melimpah

Salah satu tantangan dalam produksi hijauan adalah ketidakseimbangan antara musim hujan dan kemarau. Saat hujan, hijauan sering berlimpah hingga terbuang, sementara pada musim kemarau justru terjadi kekurangan.

Di sinilah teknologi silase berperan penting (Ilustrasi 1). Silase adalah proses pengawetan hijauan pakan segar dalam kondisi anaerob dengan pembentukan atau penambahan asam.

Rumput mulato sangat potensial diolah menjadi silase melalui proses fermentasi anaerob. Dengan penambahan bahan sederhana seperti dedak, molases, dan urea, silase mulato dapat disimpan selama berbulan-bulan tanpa kehilangan kualitas nutrisi secara signifikan (Ilustrasi 2).

Padahal, dengan semakin sempitnya lahan dan meningkatnya ketidakpastian iklim, diversifikasi hijauan dan penguasaan teknologi pengawetan pakan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Rumput mulato bukan sekadar rumput unggul, melainkan juga bagian dari strategi ketahanan pakan ternak di masa depan.

Dengan produktivitas tinggi, kualitas nutrisi baik, dan fleksibel diolah menjadi silase, rumput ini layak mendapat perhatian lebih luas, baik dari peternak, penyuluh, maupun pembuat kebijakan.

Pengembangan rumput mulato secara masif dapat menjadi langkah kecil, tetapi berdampak besar dalam mewujudkan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan di Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diplomat dan Petugas Intelijen Rusia yang Diusir dari Eropa Menuju Afrika untuk Bekerja
• 20 jam laluerabaru.net
thumb
Korban Penganiayaan di Jakbar Desak Polisi Tetapkan Pelaku Jadi Tersangka
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Jadwal Persib Vs Ratchaburi FC di Leg Kedua Babak 16 Besar AFC Champions League 2: Laga Hidup Mati
• 12 jam lalubola.com
thumb
Mohan Hazian Akhirnya Terang Benderang Akui Kesalahan, Resmi Mundur dari Thanksinsomnia Buntut Pelecehan Seksual
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Perkuat Sinergi Jelang Pemilu Mendatang, KPU Kota Madiun Kunjungi PWI Madiun Raya
• 17 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.