Liputan6.com, Jakarta - Tanah Jakarta terus turun, pelan namun pasti. Di sejumlah wilayah, laju penurunan muka tanah bahkan mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun. Fenomena ini bukan sekadar data teknis, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan ibu kota, memperparah banjir, merusak infrastruktur, hingga membayangi masa depan jutaan warganya.
Pengamat Tata Kota Prof Putu Rumawan Salain, mengatakan laju penurunan tanah di Jakarta yang mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun merupakan kondisi yang mengkhawatirkan.
Advertisement
"Dengan penurunan tanah setiap tahunnya mencapai 10 sentimeter, cukup mengkhawatirkan. Jakarta wajib menyiapkan blue print penganggulan bencana seperti banjir,” ujar Prof. Putu saat diwawancarai terkait kondisi penurunan muka tanah Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Putu melihat, dari sudut pandang tata kota, penurunan tanah menciptakan efek cekungan yang berbahaya.
Menurutnya, penurunan tanah yang berlangsung di Jakarta akan berdampak pada terjadinya cekungan ‘bowl’ yang ketika hujan akan menjadi penampungan air, yang berdampak pada banjir yang bermuara pada degradasi lingkungan dan tentunya beban bagi pemerintah dan masyarakat saat pemulihannya.
"Rendaman air di perkotaan yang lama akan mempengaruhi struktur bangunan khususnya pondasi," paparnya.
Kondisi Jakarta kerap diibaratkan seperti mangkuk (bowl effect), di mana permukaan daratan berada lebih rendah dibandingkan permukaan laut dan dikelilingi tanggul. Air hujan yang masuk sulit mengalir keluar tanpa bantuan pompa. Saat hujan deras bersamaan dengan pasang laut, genangan bisa bertahan lebih lama.
Putu menambahkan, efek “bowl effect” bagi Kota Jakarta akan menimbulkan kesulitan ataupun hambatan aliran air. Untuk mempercepat aliran, menurutnya, dapat dibantu dengan pompa air.
Di samping itu, diperlukan sodetan-sodetan baru yang lebih cepat dan lancar dalam mengirimkan air genangan.
“Dapat pula dilengkapi dengan empang penahan limpahan air yang selanjutnya dapat diuraikan atau dengan mesin pompa, dari aspek perkotaan perlu menyiapkan master plan drainase yang canggih dan berkelanjutan,” ujarnya.




