Ada satu kebiasaan modern yang semakin dipelihara dengan penuh kebanggaan yaitu kebiasaan menyamakan perasaan dengan kebenaran. Setiap kali logika merasa perlu berbicara perasaan segera maju selangkah lebih depan sambil mengangkat dada dan berkata ini valid karena aku merasa demikian. Seolah olah emosi yang muncul secara spontan memiliki status intelektual yang sama dengan hasil berpikir yang diuji dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan. Pada titik inilah pikiran tolol menemukan rumah yang nyaman. Ia tidak perlu bekerja keras. Ia hanya perlu menyamar sebagai perasaan.
Opini ini jelas kontra. Bukan karena perasaan itu tidak penting tetapi karena perasaan tanpa logika adalah bencana yang sedang dipoles agar terlihat manusiawi. Perasaan adalah reaksi. Logika adalah proses. Ketika reaksi mengambil alih proses lalu menuntut pengakuan sebagai kebenaran maka yang terjadi bukan keberanian mengekspresikan diri melainkan kemalasan berpikir yang diberi panggung moral.
Kita sering mendengar kalimat Aku berhak merasa seperti ini. Kalimat itu benar dalam konteks emosi personal. Namun ia menjadi sesat ketika dilanjutkan dengan implikasi Maka semua orang harus menerima kesimpulan yang lahir dari perasaanku. Di sinilah perasaan berubah menjadi ideologi kecil yang kebal kritik. Setiap bantahan dianggap serangan. Setiap pertanyaan dianggap penyangkalan identitas. Logika diposisikan sebagai musuh empati padahal yang sebenarnya terjadi adalah empati dipakai sebagai tameng agar tidak perlu berpikir lebih jauh.
Pikiran tolol selalu punya ciri khas. Ia tidak tahan diuji. Ia alergi pada pertanyaan lanjutan. Ia marah ketika diminta menjelaskan. Lalu dengan cerdik ia bersembunyi di balik kalimat Aku hanya jujur dengan perasaanku. Kejujuran yang tidak mau diuji bukanlah kejujuran melainkan pengakuan kelemahan yang minta dimaklumi. Dunia tentu tidak berjalan berdasarkan apa yang dirasa satu orang pada satu waktu. Jika iya maka hukum sains etika dan akal sehat sudah lama bubar jalan.
Perasaan tanpa logika sering mengklaim diri sebagai suara hati. Padahal suara hati yang tidak pernah diajak berdialog dengan akal hanyalah gema dari prasangka dan pengalaman sempit. Ia bukan kompas. Ia hanya kebiasaan emosional yang diulang ulang sampai terdengar meyakinkan. Dalam kondisi ini orang bisa merasa paling benar paling tersakiti dan paling layak didengar tanpa pernah benar benar memahami apa yang sedang dibicarakan.
Ironinya budaya ini sering dibungkus dengan narasi kemanusiaan. Seolah olah berpikir kritis adalah tindakan dingin dan tidak berperasaan. Seolah olah mempertanyakan klaim emosional adalah bentuk kekerasan simbolik. Padahal justru dengan berpikir kita menghormati realitas yang lebih luas dari diri sendiri. Logika bukan lawan empati. Logika adalah pagar agar empati tidak berubah menjadi pembenaran yang liar.
Perasaan memang nyata. Ia hadir. Ia dirasakan. Namun kenyataan bahwa sesuatu dirasakan tidak otomatis menjadikannya panduan yang benar untuk menilai dunia. Rasa marah tidak selalu berarti ada ketidakadilan. Rasa tersinggung tidak selalu berarti ada penindasan. Rasa takut tidak selalu berarti ada ancaman nyata. Tanpa logika perasaan hanya menunjuk ke dalam bukan ke kebenaran di luar diri.
Ketika pikiran tolol mengeklaim dirinya sebagai perasaan maka diskusi mati lebih cepat dari yang kita sadari. Tidak ada ruang untuk data. Tidak ada tempat untuk konteks. Yang ada hanya kompetisi siapa yang paling merasa. Dalam arena seperti ini kebenaran tidak lagi dicari. Ia dipilih berdasarkan kenyamanan emosional. Fakta yang tidak cocok disingkirkan. Argumen yang kompleks dipermudah sampai kehilangan makna.
Opini ini tidak meminta kita menjadi mesin tanpa emosi. Justru sebaliknya. Ia meminta kita bertanggung jawab atas emosi kita sendiri. Bertanya dari mana ia datang. Menguji apakah ia masuk akal. Menyadari batasannya. Perasaan yang matang tidak takut pada logika. Ia tumbuh bersamanya.
Setuju atau tidak itu bukan urusan utama. Faktanya perasaan tanpa logika telah melahirkan banyak keputusan buruk banyak konflik palsu dan banyak keyakinan rapuh yang mudah runtuh ketika disentuh realitas. Menyebut hal ini apa adanya bukan kekejaman. Ini kejujuran intelektual. Dan mungkin itu yang paling tidak disukai oleh pikiran tolol yang ingin terus merasa benar tanpa perlu berpikir.





