Bisnis.com, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) optimistis bisa memenuhi ketahanan pangannya meskipun tengah mengalami penurunan produktivitas di banyak wilayah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Hewan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menyebut ada 20 kabupaten yang dilaporkan mengalami penurunan produktivitas.
"Bukan karena alih fungsi lahan, kalau alih fungsi lahan itu akan berpengaruh terhadap luas panen. Tapi kalau produktivitas itu adalah potensi dari tanamannya itu," kata Defransisco Dasilva Tavares, Rabu (11/2/2026).
Frans, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa fenomena penurunan produktivitas yang terjadi saat ini disebabkan oleh faktor teknis dan potensi varietas tanaman.
Di sisi lain, bencana banjir yang terjadi di Jawa Tengah sejak awal tahun ini juga belum banyak memberikan dampak negatif pada produktivitas sektor pertanian.
"Di Jawa Tengah itu pernah kita [gagal panen hingga] 2%. Paling banyak puso [gagal panen] itu 37.000-73.000 Hektare (Ha). Tetapi itu tahun 2024, sudah gabungan dari yang kena bencana alam baik banjir, kekeringan maupun hama penyakit. Saat ini kan belum. Baru 10.000 Ha berapa, masih jauh dari 37.000 Ha," tutur Frans.
Baca Juga
- Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah (Jateng) Lampaui Capaian Nasional pada 2025
- Bank Jateng Purwokerto dan Surakarta Bagikan Hadiah Undian Bima
- Hotel Ciputra Semarang Tawarkan Promo Buka Puasa dan Hampers Ramadan
Harapan besar kini disematkan pada sejumlah wilayah yang akan memasuki masa panen, terutama Kabupaten Sragen. Wilayah tersebut diproyeksikan akan menyumbang pasokan gabah dalam jumlah besar secara serentak.
Potensi panen di Sragen dinilai sangat tinggi dengan luasan ribuan hektare yang siap dipetik hasilnya, meski petani harus tetap waspada terhadap tantangan curah hujan yang mulai meningkat di beberapa lokasi.
Untuk memitigasi penurunan produktivitas di masa depan, Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah berencana untuk lebih presisi dalam melakukan pengukuran data di lapangan serta melakukan evaluasi terhadap varietas benih yang digunakan oleh petani.
Pemerintah menduga peningkatan suhu global juga menjadi faktor yang menurunkan kualitas hasil panen, sehingga penyesuaian teknologi tanam menjadi prioritas selanjutnya.
Selain mengawal komoditas padi, Jawa Tengah juga ikut mendorong pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor peternakan dan perikanan. Di sektor peternakan, Jawa Tengah menargetkan produksi susu hingga 942.497 ton.
40 ekor indukan sapi perah dari Australia siap didatangkan untuk memenuhi target tersebut. Sementara itu, di sektor perikanan, Jawa Tengah menargetkan 354.029 ton ikan hasil tangkap, perikanan budidaya 600.000 ton, juga garam sebanyak 541.775 ton.





