Daun dan bunga yang terhampar di taman luas serta serangga-serangga yang hinggap di atasnya adalah gambaran kecantikan sebuah taman yang menjadi acuan bagi direktur kreatif Jonathan Anderson, pula dikenal dengan nama JW Anderson, dalam mengkaryakan tas Lady Dior teranyar. Anderson 'melahirkan kembali' tas ikonik ini dalam dua masterpiece.
Lady Dior Clover yang datang dalam tiga warna: hijau, hitam dan merah muda, serta Lady Dior Buttercup yang berwarna kuning cerah.
Pada Lady Dior Clover, bentukan clover alias daun semanggi empat helai memenuhi permukaan tas, dengan sematan satu bentuk kepik. Sementara Mini Lady Dior Buttercup datang dalam warna kuning, dengan bentukan bunga buttercup tiga dimensi tertempel di sekujur fasad dan satu sematan lebah.
Proses penciptaan Mini Lady Dior Clover dan Buttercup, patuh pada savoir-faire rumah mode asalnya. Bentukan daun semanggi empat helai distempel panas ke atas potongan kulit, lalu dibordir tangan satu per satu.
Begitupun dengan bentukan bunga buttercup yang dibuat tiga dimensi. Daun semanggi kabarnya dipilih karena kedekatan bentuknya dengan daun shamrock alias semanggi muda, yang berhelai tiga. Daun shamrock adalah lambang Irlandia, negeri asal JW Anderson.
Kesegaran dan kecantikan alam taman merunut ke konsep kampanye Lady Dior Clover dan Buttercup. Aktris berbakat pemenang piala Oscar tahun lalu dalam film Anorra, Mikey Madison, jadi pilihan.
Dengan tata rambut dan wajah natural, dalam balutan blazer plus denim serta gaun ringan amat klasik, Mikey berjalan, duduk dan berpose di taman kastil serta di dalam ruang-ruangnya. Kemurnian alam dan keklasikan budaya Eropa, bersanding serasi dengan persona seni kekinian.
Sejak kelahirannya lebih dari empat dekade lalu, kisah Lady Dior masih jauh dari usai. Lahir pada 1995 saat Gianfranco Ferré menjabat sebagai direktur kreatif, Lady Dior diciptakan sebagai penghargaan bagi mendiang Lady Diana Spencer dari ibu negara Prancis saat itu, Bernadette Chirac.
Tampilan perdana tas Lady Dior warna hitam di genggaman sang putri ketika mendarat di Buenos Aires pada November 1996, sontak mencuri perhatian dan hati para pencinta mode.
Tak hanya sukses mencuri hati para pencinta mode, Lady Diana Spencer pun jatuh cinta berat. Pasca-penampilan perdananya, ia kabarnya memesan ragam warna dan ukuran, lalu menggandengnya ke berbagai acara resmi.
Dari sekian banyak momen gaya, salah satu yang paling lekat di ingatan para pemerhati mode adalah ketika ia memasangkan Lady Dior berukuran mini berwarna midnight blue dengan terusan satin karya direktur kreatif Dior pengganti Ferré, John Galliano, di acara Met Gala pada Desember 1996.
Nama Lady Dior yang ikonis, tak langsung lahir beserta awal penciptaannya. Nama awalnya adalah Chouchou - yang berarti kesayangan. Pasca-proses kepopulerannya, nama Chouchou berganti jadi Princesse, berkat kedekatannya dengan Lady Diana yang saat itu menyandang gelar Princess of Wales.
Nama Lady Dior akhirnya menjadi pilihan final, dan terbukti ampuh menatah posisinya sebagai salah satu benda mode yang konsisten bertransformasi dan terus diinginkan.
Penulis: Rifina Marie




