Mumi es legendaris dari peradaban Inca telah menyimpan misteri selama puluhan tahun sejak pertama kali ditemukan. Kini, teknologi pemindaian CT (computed tomography) membuka tabir baru tentang bagaimana detik-detik terakhir kehidupan anak yang dikorbankan itu berlangsung.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Archaeological Science: Reports, para peneliti meneliti jasad empat anak Inca yang dibunuh sekitar 500 tahun lalu dan ditinggalkan di puncak-puncak terpencil Pegunungan Andes sebagai utusan bagi para dewa.
Namun hasil CT scan mengungkap fakta baru, di mana setidaknya satu dari anak tersebut ternyata dibunuh di lokasi lain sebelum jasadnya dipindahkan ke puncak gunung.
Penelitian ini juga mematahkan sejumlah catatan awal penulis Spanyol yang menyebut korban ritual pengorbanan penting dalam budaya Inca disebut capacocha, selalu dalam kondisi fisik sempurna. Temuan ilmiah justru menunjukkan beberapa anak mengalami cedera atau penyakit saat mereka dikorbankan.
“Temuan kami menunjukkan bahwa catatan para penulis kronik harus disikapi dengan hati-hati,” ujar Dagmara Socha, arkeolog dari University of Warsaw, Polandia, sekaligus penulis utama studi ini, sebagaimana dikutip Live Science.
“Meski sumber sejarah menggambarkan anak-anak itu sebagai sosok yang sempurna secara fisik dan tanpa cacat, analisis ilmiah modern menunjukkan realitas yang sangat berbeda.”
Keempat mumi yang diteliti adalah seorang anak perempuan berusia 8 tahun, satu anak perempuan 10 tahun, remaja perempuan 14 tahun, serta sosok terkenal “Lady of Ampato” yang juga dikenal sebagai “Ice Maiden” atau “Momia Juanita”. Ia dikurbankan saat berusia sekitar 14 tahun, dan jasadnya ditemukan pada 1995 di sebuah kuil dekat puncak Gunung Ampato, Peru.
Dari hasil pemindaian, peneliti menemukan bahwa anak perempuan 10 tahun yang ditemukan di lokasi yang sama ternyata tidak dikorbankan di sana. Organ-organ di rongga perut dan dadanya telah diangkat, lalu digantikan dengan batu dan tekstil sebelum tubuhnya dibungkus dan ditempatkan dalam posisi duduk dengan lutut menempel ke dagu di sebuah dataran dekat puncak gunung.
Meski mumi-mumi tersebut terawetkan secara alami oleh udara kering ekstrem di ketinggian sekitar 5.800 meter di atas permukaan laut, hilangnya organ pada anak 10 tahun itu menjadi bukti pertama bahwa salah satu jasad telah dipersiapkan secara sengaja untuk proses mumifikasi. Peneliti menduga hal ini mungkin dilakukan untuk memperbaiki apa yang dianggap sebagai kekurangan fisik korban.
Pemindaian medis terhadap empat mumi, terdiri dari tiga dari Gunung Ampato dan satu dari kuil dekat puncak Gunung Sara Sara, juga menunjukkan bahwa sebagian korban muda tersebut menderita sejumlah penyakit.
Pada mumi anak perempuan 8 tahun, CT scan memperlihatkan kerongkongan yang membesar, kemungkinan gejala penyakit Chagas (infeksi parasit yang umum di wilayah tersebut), serta bekas luka di paru-paru yang diduga akibat tuberkulosis.
Kondisi kesehatan ini kemungkinan lazim di kalangan masyarakat Inca saat itu. Karena itu, tidak mengherankan bila para korban tidak sempurna seperti yang digambarkan dalam catatan Eropa.
“Ini mungkin mencerminkan kondisi kehidupan umum di Kekaisaran Inca, tetapi juga bisa menunjukkan bahwa para penulis Eropa tidak sepenuhnya memahami apa yang dianggap ideal oleh masyarakat Inca sendiri,” kata Socha.
Ritual Capacocha dan Peran sebagai ‘Utusan’Menurut sejumlah penulis Spanyol awal di Peru, ritual capacocha merupakan salah satu upacara paling penting dalam dunia Inca. Dalam ritual ini, anak-anak atau remaja, baik laki-laki maupun perempuan, dikorbankan dalam ritual, lalu jasadnya dibiarkan termumifikasi secara alami di puncak gunung tinggi agar menjadi “utusan bagi para dewa”.
Metode pembunuhan bervariasi. Beberapa korban dicekik, sementara yang lain mati karena sesak napas. Namun dalam studi ini, Socha menyebut keempat korban kemungkinan tewas akibat pukulan keras di kepala, mungkin menggunakan tongkat kayu.
Menariknya, catatan awal Spanyol juga menyebut para korban capacocha tetap dianggap hidup secara spiritual dan berfungsi sebagai perantara dalam waktu lama setelah kematian mereka. Dalam laporan conquistador Pedro Pizarro disebutkan bahwa orang-orang yang masih hidup bahkan mendatangi mumi es untuk meminta restu pernikahan.
“Bukti menunjukkan bahwa anak-anak ini terus berfungsi sebagai mediator antara komunitas yang hidup dan para Apus (dewa-dewa Andes) jauh setelah kematian mereka,” ujar Socha.
Temuan ini tak hanya memperkaya pemahaman tentang praktik spiritual Inca, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah yang ditulis berabad-abad lalu tak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Kini, sains modern membantu menghidupkan kembali kisah sunyi yang tersimpan di balik tubuh-tubuh beku di atap Andes.





