IHSG naik 0,13 persen dengan berada di level 8302 pada pembukaan perdagangan Kamis, 12 Februari 2026.
Baca juga: Sentimen Global Mereda, IHSG Melonjak dan Dekati Level 8.200
Selain itu, indeks unggulan LQ45 turun sedangkan indeks unggulan JII naik. LQ45 turun 0,02 persen dan JII naik 0,40 persen. Saham yang menopang IHSG pada pembukaan hari ini adalah INCO, NCKL, MBMA, UNTR serta MDKA.
Investor asing kembali mencatatkan net outflow sebesar Rp526 miliar pada perdagangan kemarin, meski IHSG menguat 2% ke level 8,291. Tekanan jual asing masih terfokus pada BBCA (outflow Rp626miliar), menunjukkan bahwa reli pasar belum didukung oleh minat institusional asing.
Kenaikan indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham konglomerasi seperti BRPT, CUAN, dan BREN milik grup Prayogo Pangestu, yang menguat signifikan di tengah rotasi
spekulatif dan aksi bargain hunting jangka pendek.
Mirae Sekuritas melihat menilai penguatan IHSG bersifat spekulatif dan taktis, belum ditopang oleh saham berfundamental solid.
Dari sisi kebijakan, BEI bersama MSCI membahas rencana pembukaan shareholders concentration list untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar, sebagai salah satu upaya BEI untuk sejalan dengan best practice internasional dan menjawab ekspektasi MSCI atas peningkatan kualitas tata kelola.
"Dalam jangka pendek, kami melihat ruang penguatan IHSG relatif terbatas dan tetap bergantung pada arus dana asing," ujar Mirae Sekuritas. Wall Street Melemah Sementara itu, Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, WIB, meskipun data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar.
Dow Jones Industrial Average turun 0,13% ke level 50.121,40. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi tipis dan berakhir stagnan di 6.941,47.
Pelemahan terjadi setelah Biro Statistik Ketenagakerjaan AS akhirnya merilis data nonfarm payrolls Januari yang sebelumnya tertunda akibat government shutdown parsial. Laporan tersebut mencatat penambahan 130.000 tenaga kerja baru jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 55.000 dan realisasi sebelumnya yang hanya 48.000. Tak hanya itu, tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3% dari posisi sebelumnya 4,4%.
Pada awal sesi perdagangan, pasar sempat merespons positif data tersebut. Ketiga indeks utama bahkan sempat menguat. Namun, sentimen berbalik arah seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa data tenaga kerja yang solid akan membuat Federal Reserve menahan diri untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Menguatnya pasar tenaga kerja memperkecil probabilitas pelonggaran kebijakan moneter, sehingga memicu aksi ambil untung di akhir perdagangan. Di sisi lain, volatilitas pasar relatif terkendali dengan indeks VIX turun ke 17,65. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga turun ke 6,43%.
Dari pasar komoditas, harga minyak naik 1,05% ke USD 64,63 per barel. Emas turut menguat 1,17%, sementara nikel melonjak lebih dari 2%. Sebaliknya, harga CPO terkoreksi 0,87%. Pergerakan pasar global ini akan menjadi katalis penting bagi perdagangan di kawasan Asia, termasuk Indonesia, pada sesi berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





