Pengosongan Air Bendung Bekasi Picu Longsor di Margahayu dan Margajaya

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com — Pengosongan air di Bendung Bekasi saat tinggi muka air (TMA) melonjak hingga hampir 700 sentimeter pada Rabu (11/2/2026) memicu longsor di sejumlah titik bantaran Kali Bekasi.

Dampak paling terasa terjadi di wilayah Margahayu dan Margajaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Peristiwa tersebut memicu protes warga yang mendatangi lokasi bendung. Mereka menilai penurunan debit air secara mendadak membuat tanah di bantaran sungai kehilangan tekanan penahan sehingga menjadi tidak stabil dan ambles.

Baca juga: Tinggi Muka Air Kali Bekasi Sempat Capai 640 Cm, Kini Kembali Normal

Berdasarkan unggahan akun Instagram @infobekasi_official, situasi sempat memanas. Warga menyebut turunnya volume air secara drastis menyebabkan retakan dan pergeseran tanah di lereng sungai, merusak akses jalan lingkungan, serta memengaruhi sistem drainase setempat.

Dalam video yang beredar, tampak jalan ambles dan retakan tanah menganga di dekat permukiman warga. Masyarakat diminta menjauhi tepi tanggul yang mengalami retakan untuk mengantisipasi longsor susulan.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh infobekasi_official (@infobekasi_official)

Pengosongan air dan dampaknya

Pengosongan air dilakukan sebagai langkah antisipasi karena debit sungai meningkat tajam akibat hujan deras serta kiriman air dari wilayah hulu.

Namun, turunnya volume air secara cepat berdampak pada perubahan tekanan tanah di bantaran sungai yang belum seluruhnya diperkuat tanggul permanen.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi Idi Sutanto menegaskan, operasional Bendung Bekasi merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).

“Kali Bekasi itu kewenangannya dari Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) atau Balai Cilicis, ya. Jadi kewenangan operasional pintu Bendung Bekasi itu ada di mereka,” ujar Idi saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Rumah Rusak Digerus Longsor, Warga Bantaran Kali Bekasi Desak Tanggul Permanen

Idi menjelaskan, pembukaan dan penutupan pintu air telah dilakukan sesuai prosedur operasional standar (SOP), mengingat ketinggian air saat itu sangat tinggi.

“Memang semalam air tinggi banget hampir 700 TMA nya. Saat buka-tutup pintu memang sudah dijalankan sesuai SOP. Dan memang ada dampak di beberapa titik longsor di Margahayu sama di Margajaya,” kata dia.

Tanggul belum permanen

Menurut Idi, longsor terjadi di titik-titik yang tanggulnya belum dibangun secara permanen. Pemerintah pusat melalui BBWSCC telah merencanakan pembangunan tanggul permanen pada tahun ini.

“Kenapa longsor? Karena memang itu tanggulnya belum permanen. Jadi, anggaran tahun ini mereka akan membangun tanggul permanen, di antaranya yang di samping Lotte itu di Margajaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan bangunan yang berdiri di sempadan sungai turut menjadi kendala dalam penataan bantaran.

“Juga karena bangunannya berdiri di sempadan sungai, jadi Pemkot tahun ini akan menertibkan bangunan itu, nanti dibangun tanggul permanen oleh Balai Cilicis,” ucapnya.

Baca juga: Longsor di Bantaran Kali Bekasi, Rumah Warga Hanya Tersisa Ruang Tamu

Idi menyebut beberapa titik longsor terjadi di lokasi tanggul yang belum diperkuat. Persoalan lahan dan relokasi warga juga menjadi tantangan dalam percepatan pembangunan tanggul.

“Memang kendalanya ada di lahan gitu, sama masyarakatnya belum mau direlokasi. Tapi untuk yang satu di titik Lotte sama sepanjang itu sampai ke bendung, itu nanti kita tertibkan dan dikerjakan oleh BBWS,” kata Idi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Meski terjadi longsor, Idi memastikan tidak ada limpasan air seperti banjir besar sebelumnya. Hal itu karena sebagian tanggul permanen telah dibangun, termasuk di kawasan Pondok Gede Permai.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya percepatan pembangunan tanggul permanen di sepanjang bantaran Kali Bekasi guna meminimalkan risiko longsor dan dampak kenaikan debit air, terutama saat musim hujan dan banjir kiriman dari hulu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IFG: Kenaikan limit investasi dapen-asuransi perlu mitigasi risiko
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Dukungan Netizen Mengalir, Ressa Rizky Rossano Bersyukur: Alhamdulillah
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Gus Ipul Pastikan DTSEN Pangkas Inclusion Error PBI-JK
• 8 jam laludetik.com
thumb
Diduga Muatan Berlebih, Mobil Angkutan Desa Jatuh ke Sungai Sedalam 10 Meter | KOMPAS PETANG
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, DLH Kota Tangerang Lakukan Pemantauan Intensif
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.