Gelaran Dewi Fashion Knights, yang menjadi acara pamungkas Jakarta Fashion Week, berlangsung pada awal November 2025 lalu. Melandaskan karya pada tema Nusantara, keenam label yang terpilih untuk ikut serta dalam gelaran ini, menerjemahkannya ke dalam barisan koleksi yang menempatkan perempuan sebagai tokoh multi-fasad.
Para perempuan ini dibalut dalam potongan-potongan jenius beragam wastra yang megah. Berikut catatan-catatan utama dari gelaran apik Dewi Fashion Knights 2026.
Tangan PrivéNusantara dahulu, kini dan nanti. Margaretha Novi dan Zico Halim mengaduk kontinum waktu, menyuntikkan kebaruan pada identitas bangsa. Kebaya kutu baru, kebaya kartini, dan baju kurung direkonstruksi. Kebaya kutu baru dilapisi blazer panjang dan dipasangkan dengan celana palazzo.
Kebaya kartini berlengan dolman dan berkerah tinggi. Baju kurung dicipta dari linen, beraksen lipatan bahan zig-zag. Tradisi kerudung tampil lebih cair, praktis menyatu dengan atasan atau ditata asimetris dekonstruktif.
Peran wastra tetap berarti. Songket menjadi luaran dari congsam dan bawahan, batik setia menemani kebaya. Jadi, inilah gambaran perempuan Nusantara di hari nanti: melajukan peradaban sambil setia pada identitas akarnya.
Kraton by Auguste SoesastroKapal-kapal berlabuh, berlayar, dan pergi. Para pedagang dari Asia Timur, Tengah, dan Eropa berniaga dengan penduduk Nusantara.
Auguste Soesastro terinspirasi oleh kota-kota pelabuhan di Sumatra masa lampau. Maka kerah Nehru, bolero berlengan, sarouel tujuh perdelapan dan tenun bermotif kertas origami pun sampai pada koleksinya.
Bicara pertemuan, Auguste tanpa ragu mempertemukan satu wastra dengan wastra lainnya. Tenun di atas, batik di bawah. Songket di atas, tenun di bawah. Siluet-siluet dikaryakan leluasa, memberi ruang antara bahan dan kulit tubuh. Mungkin sudah waktunya ruang kejayaan perniagaan maritim Nusantara didominasi perempuan Indonesia.
Toton StudioSuwarnadwipa alias pulau emas, adalah sebutan bagi pulau Sumatra. Bukan hanya tumpah ruah sumber daya alamnya, tapi juga kilau perjuangan para pejuang perempuannya seperti Laksamana Keumalahayati dan Tjoet Nja’ Dhien.
Berangkat dari gaya busana tradisional perempuan Aceh, Toton mengeksplorasi elemen-elemennya. Bawahan celana ia reka menjadi rok asimetris, sarouel dan celana klasik bermateri renda. Baju kurung bereinkarnasi penuh renda keemasan.
Ada pula blazer tanpa kelepak dan atasan satu lengan yang edgy. Perkara hiasan kepala, kerudung lebar ia juntaikan dramatis. Sunting direkonstruksi ke arah avant-garde. Menyaksikan ruh gaya para pejuang, kita pun teringat bahwa perlawanan perempuan terhadap segala ketidakadilan, masih jauh dari selesai.
TulolaGerak, kata, komunitas, dan warisan: Empat elemen yang merasuk ke dalam koleksi Tulola. Gerak tari Janger, Tae Benu, dan Pajoge termanifestasi ke dalam kipas kembar emas yang menempel di obi kain tenun, kerah yang ‘menyangga’ kepala dengan lingkaran berisi mutiara Baroque dan batu Carnelian, serta korset emas berhiaskan batu Mabe dan mutiara.
Kata-kata dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer, terjelma ke dalam untaian kalung hampir sepanjang tubuh. Keterhubungan para manusia dengan komunitasnya, dilambangkan bentuk lingkaran tas anyaman emas.
Sifat kristal dan Brazilian Amethyst yang berharga dan abadi, serupa warisan. Ditatah menghias kotak emas, dibawa melangkah perlahan. Karena kebudayaan Nusantara adalah harta dua puluh empat karat. Silakan ditimang, tapi jangan dihanguskan.
Sapto DjojokartikoMasa lalu adalah memori, masa lalu adalah sejarah. Sapto meyakini ada keindahan di dalam segala yang menua. Maka ia memutuskan untuk mencipta dengan tenun Bali dan kain songket antik, melahirkannya kembali ke dalam gaya maskulin dan modern.
Kemeja dan blazer berbahu tegas, rompi dan blazer berleher Nehru, berjalan bersama dengan rok-rok mini dengan ‘ekor’ di samping atau di belakang, layaknya penari Panji Semirang dan Pendet.
Terusan semata kaki dibuat lurus, dengan draperi menyalut leher. Bordir benang emas yang melabur luaran semata kaki menjadi pengingat akan kekayaan Nusantara. Kekayaan peradaban dan budaya yang tua. Bijak, bukan usang.
Sebastian Gunawan SignatureDialog antara kebaya dan kain batik adalah percakapan tak lekang waktu. Seiring pergerakan zaman dan pergeseran detail, inti siluetnya tetap patuh kepada pakem umbar daya feminitas.
Belasan karya Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese mencapai hal ini. Rekonstruksi detail dan aksen piawai dilaksanakan.
Lengan asimetris. Belahan dada yang meluncur hingga ke pusar. Bahu yang mencuat tegas. Puntiran bahan serupa kelopak mawar. Siluet ala Bar Jacket mendominasi koleksi. Tegas di bagian bahu, ramping di pinggang dan ‘mekar’ di bagian panggul.
Kebaya terus ajek, bahwa kedigdayaan seorang perempuan bukan otot kawat dan tulang besi, tapi akal tajam dan mental liat.
Penulis: Rifina Marie




