JAKARTA, KOMPAS.com — Teriknya cahaya matahari nyaris tak pernah menyentuh permukiman padat penduduk di RT 20 RW 17, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Deretan bangunan kayu yang menutup bagian atas gang seolah memblokade akses sinar matahari setiap hari.
Berdasarkan data Ketua RT 20 Hendri Kurniawan, sekitar 150 rumah di wilayah tersebut membangun lantai dua yang menjorok hingga menutup area di atas jalan. Akibatnya, gang-gang sempit di permukiman itu menjadi gelap dan lembap.
Lantai dua rumah warga yang menutup area atas jalan memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter. Posisi pondasi lantai kayu bahkan hanya berjarak satu jengkal dari kepala orang yang melintas di bawahnya. Beberapa warga terpaksa menundukkan kepala saat melewati gang tersebut.
Selain gelap, kondisi gang juga lembap. Sejumlah warga menjemur pakaian di depan rumah karena keterbatasan ruang, sehingga sirkulasi udara semakin terbatas.
Baca juga: Menyusuri Kampung yang Tak Pernah Siang di Balik Gemerlap Pantai Mutiara
Cemas akan kesehatanSalah satu warga, Martha (40), mengaku telah tinggal di gang sempit dan gelap tersebut sejak berusia enam tahun. Ia menetap di Muara Baru karena almarhum ayahnya bekerja sebagai nelayan dan harus tinggal dekat dengan laut.
Kini, setelah ayahnya meninggal, Martha tinggal bersama ibu dan adik-adiknya di rumah yang nyaris rubuh, dengan lebar gang hanya sekitar 40 sentimeter.
"Itu rumah saya atasnya sudah hancur, kalau enggak ada rumah di samping kanan kirinya juga sudah rubuh," tutur dia saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (11/2/2026).
Kondisi bangunan yang rapuh membuat Martha tidak berani menempati lantai dua rumahnya karena khawatir membahayakan keselamatan.
Di sisi lain, puluhan tahun hidup di gang sempit dan minim cahaya matahari membuatnya cemas terhadap kesehatan keluarga.
"Ya, memang khawatir kesehatan terganggu, karena kurang matahari, karena di sini kan banyak anak kecil gitu kan," sambung dia.
Martha menyebutkan, permukiman di RT 20 sangat minim penerangan alami. Akibatnya, ia harus menyalakan lampu rumah selama 24 jam. Jika lampu dimatikan, aktivitas sehari-hari di dalam rumah menjadi sulit dilakukan.
Kebiasaan menyalakan lampu sepanjang hari berdampak pada tagihan listrik. Biaya listrik yang sebelumnya sekitar Rp 80.000 per bulan kini meningkat menjadi lebih dari Rp 100.000.
Baca juga: Cerita Pekerja Muda Jalani Multi Job: Siang di Kantor, Malam Freelancer
Suka dan dukaPuluhan tahun tinggal di gang sempit dan gelap membuat Martha merasakan berbagai suka dan duka.
"Sukanya karena ramai lingkungannya, banyak tetangganya, walau malam juga ramai banyak yang lewat enggak takut," tutur Martha.
Namun, selain minim cahaya matahari, duka lainnya adalah permukiman di RT 20 kerap dilanda banjir. Belum lama ini, rumah Martha kembali terendam air akibat selokan di depan rumahnya tersumbat.





