Ekspor Perkebunan Diproyeksikan Tancap Gas di Awal 2026, Sawit hingga Kelapa Catat Tren Menguat

pantau.com
11 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Ekspor sektor perkebunan diproyeksikan tumbuh kuat pada awal 2026 seiring menguatnya kinerja sepanjang 2025 dengan komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, teh, dan karet menunjukkan tren peningkatan.

Ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya pada Januari–Desember 2025 tercatat US$24,42 miliar atau meningkat 21,83 persen dibanding 2024.

Lonjakan kinerja sawit didorong kenaikan volume ekspor sekitar 9 persen secara tahunan, harga sawit global yang relatif tinggi, serta permintaan solid dari pasar utama seperti Tiongkok, India, dan negara-negara Asia lainnya.

Sawit ditegaskan menjadi penyumbang devisa terbesar sektor perkebunan, dengan ekspor CPO di akhir 2025 disebut melonjak signifikan seiring menguatnya harga minyak nabati dunia yang berlanjut hingga awal 2026.

Kopi disebut menjadi kisah sukses berikutnya setelah sempat melemah pada 2023 dan kemudian bangkit tajam pada 2024 serta berlanjut hingga 2025.

Pada 2024, volume ekspor kopi tercatat 316,7 ribu ton dengan nilai US$1,64 miliar yang disebut tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan pasar utama Amerika Serikat dan Eropa.

Penguatan tren pada 2025 disebut ditopang panen yang membaik dan harga kopi global yang tinggi, termasuk lonjakan nilai ekspor bulanan yang sangat signifikan.

Pertumbuhan ekspor kopi dinilai tidak hanya didorong volume, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui kopi specialty.

Produk arabika premium dari Gayo, Toraja, dan Kintamani disebut semakin diminati pasar global serta memberikan premium price.

Indonesia disebut sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia dan dinilai memiliki prospek cerah memasuki 2026.

Kakao disebut muncul sebagai bintang baru paling mencolok pada 2025 karena dorongan hilirisasi yang menggeser struktur ekspor dari biji mentah ke produk olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder.

Nilai ekspor kakao dan olahannya pada Januari–September 2025 mencapai US$2,8 miliar atau melonjak hampir 70 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Permintaan cokelat global disebut meningkat di Eropa, Australia, dan Asia, yang bertemu dengan kapasitas industri pengolahan domestik yang kian matang.

Ekspor kelapa dan produk olahannya pada Januari–Oktober 2025 tercatat sekitar US$2,48 miliar atau melonjak 58 persen dibanding periode sebelumnya.

Permintaan pasar Asia disebut meningkat dengan fokus Tiongkok yang disebut menjadi pembeli terbesar dan menyerap lebih dari 17 persen total nilai ekspor kelapa Indonesia.

Ekspor kelapa utuh disebut tumbuh hingga 122 persen secara tahunan seiring meningkatnya pengapalan untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut.

Malaysia, Singapura, Belanda, dan Thailand juga disebut mencatat permintaan solid terhadap produk kelapa Indonesia.

Prospek kelapa memasuki awal 2026 dinilai makin optimistis dengan peluang perluasan pasar ke Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika seiring upaya mendorong hilirisasi.

Karet dan teh disebut menunjukkan dinamika yang lebih menantang meski ekspor karet relatif stabil sepanjang 2025 karena tertekan penurunan harga global dan tantangan pasokan akibat faktor iklim.

Permintaan industri otomotif dunia disebut masih menopang ekspor karet, sementara lemahnya hilirisasi dinilai menjadi pekerjaan rumah utama.

Teh disebut menghadapi tren penurunan struktural akibat menyusutnya produksi dan luas kebun meski pasar teh global terus tumbuh.

Kinerja 2025 disebut memberi titik tolak kuat memasuki 2026, namun diperlukan kebijakan produktivitas, hilirisasi, dan keberlanjutan agar momentum ekspor tetap terjaga.

Permintaan global yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi dunia disebut menjadi pendorong utama, dengan kebutuhan pangan, minuman, dan bahan baku agroindustri dinilai relatif tahan guncangan.

Pasar tradisional seperti Tiongkok, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat disebut masih menjadi penyerap utama, sementara pasar nontradisional mulai menunjukkan peran strategis melalui lonjakan ekspor ke Afrika dan Asia Tengah sepanjang 2025.

Dukungan tren global seperti pemulihan pascapandemi, pertumbuhan populasi, perubahan gaya hidup, serta harga internasional yang relatif stabil di level tinggi disebut ikut mendorong ekspor.

Penguatan ekspor disebut ditopang perluasan akses pasar melalui perjanjian dagang seperti RCEP dan Indonesia–Australia CEPA, disertai deregulasi ekspor, digitalisasi layanan perdagangan, promosi lewat pameran dan misi dagang, serta dorongan hilirisasi.

Lonjakan ekspor produk olahan kakao dan turunan sawit disebut menandai pergeseran dari bahan mentah ke produk bernilai lebih tinggi yang memperkuat posisi Indonesia di segmen pasar premium.

Stabilitas produksi, pasokan dalam negeri yang aman, nilai tukar rupiah yang kompetitif, serta kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi industri disebut memperkuat efisiensi rantai pasok ekspor.

Tantangan strategis disebut bergeser dari tarif dan kuota ke regulasi non-tarif yang lebih ketat seperti standar teknis dan isu keberlanjutan.

Regulasi European Union Deforestation-free Regulation disebut menuntut kepastian produk bebas deforestasi dan dapat ditelusuri dari kebun hingga pelabuhan untuk komoditas sawit, kakao, kopi, dan karet.

Persyaratan sanitasi-fitosanitasi, residu pestisida, dan sertifikasi keberlanjutan juga disebut menjadi pintu seleksi pasar tujuan.

Perubahan iklim disebut membuat pola cuaca sulit diprediksi dan meningkatkan risiko kekeringan, curah hujan ekstrem, serta serangan hama dan penyakit pada kopi, kakao, karet, dan sawit.

Dampak tantangan alam dinilai memengaruhi volume sekaligus konsistensi pasokan untuk memenuhi kontrak ekspor.

Biaya logistik yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur disebut menggerus daya saing, termasuk jarak sentra produksi ke pelabuhan, keterbatasan fasilitas pascapanen, antrean muat, ketersediaan kontainer, serta risiko penurunan mutu.

Tantangan tersebut disebut perlu dituntaskan agar momentum ekspor 2026 berkelanjutan dan berdampak pada kesejahteraan petani serta ekonomi nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kendalikan Inflasi Menjelang Ramadan, Pemkot Surabaya Gencarkan Panen Cabe Lokal
• 30 menit lalurealita.co
thumb
Khofifah Bantah Terima Aliran Ijon Dana Hibah dari BAP Kusnadi Eks Ketua DPRD Jatim
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tumpang Tindih, Pemerintah Kini Pulihkan Sertifikat Tanah Transmigran di Kalsel
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
BPJS PBI Nonaktif Mendadak, Pasien Stroke di Depok Terima SJP Sementara dari Dinkes
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Wall Street Turun Tipis, Investor Kaji Ulang Taruhan soal Suku Bunga The Fed
• 16 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.