TAPANULI TENGAH, KOMPAS – Belum selesai penanganan bencana banjir bandang dan longsor, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kembali dilanda banjir. Hujan deras melanda pada Rabu sore hingga Kamis (12/2/2025) dini hari. Tanggul dan jembatan darurat yang baru dibangun roboh lagi. Empat desa kembali terisolasi karena jembatan putus.
“Perubahan cuaca tiba-tiba terjadi. Setelah panas terik dan musim kering, hujan deras tiba-tiba turun di Tapanuli Tengah selama berjam-jam,” kata Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu.
Masinton mengatakan, hujan deras melanda hampir semua wilayah Tapanuli Tengah sejak Rabu sekitar pukul 17.00, baik di daerah pegunungan maupun di dekat pantai. Debit sungai meningkat hingga meluap ke kawasan permukiman setelah turun beberapa jam.
“Tanggul darurat yang sudah dibangun kembali jebol. Ini membuat air mengalir sangat deras dari sungai. Aliran air juga membawa kayu-kayu. Sungai-sungai kembali dipenuhi sedimen,” kata Masinton.
Air pun menggenangi permukiman hingga setinggi satu meter. Pemerintah bersama aparat TNI dan Polri mengevakuasi masyarakat yang rumahnya dilanda banjir.
Pelaksana Harian Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah Leonardus J Sinaga mengatakan, banjir melanda sembilan desa dan kelurahan di empat kecamatan, yakni Tukka, Sarudik, Pandan, dan Barus. “Tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat banjir itu,” kata Leonardus.
Martahan Sitompul, warga Desa Sait Nihuta Kalangan II, Kecamatan Tukka, mengatakan, dirinya sudah lebih dua bulan menyewa rumah di pusat kecamatan karena desa mereka masih terisolasi sejak banjir bandang dan longsor pada November 2025.
Namun, rumah kontrakan mereka kini terendam banjir. “Kami mengungsi dari desa yang terisolasi dan sekarang terkena banjir lagi,” kata Martahan.
Martahan mengatakan, air masuk hingga ke rumah-rumah hingga ketinggian satu meter setelah sungai-sungai meluap. Di Sungai, air naik hingga setinggi lima meter hingga ke badan jembatan. Warga sempat mengungsi pada Rabu malam karena debit air yang terus naik.
Martahan mengatakan, warga sangat terpukul akibat banjir susulan itu. Sampai sekarang, masyarakat masih berjibaku untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Sawah dan ladang yang rusak berat belum diperbaiki. Ladang dan kebun mereka masih terisolasi.
Desa Sait Nihuta Kalangan Dua bersama tiga desa lain, yakni Sigiring-Giring, Aek Bontar, dan Saur Manggita terisolasi selama dua bulan sejak bencana banjir dan longsor. Satu di antaranya, yakni Sigiring-Giring, sudah bisa diakses mobil secara darurat sejak awal Februari 2026 setelah empat jembatan darurat dibangun.
“Namun, setelah banjir kembali melanda, satu dari empat jembatan putus lagi. Keempat desa itu kembali terisolasi,” kata Martahan.
Jalan sepanjang 15 kilometer yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sama sekali tak bisa dilalui kendaraan. Jalan itu hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki melewati perbukitan dan material longsor yang masih tersisa.
Jalan yang masih putus total membuat masyarakat tidak bisa menjual hasil bumi berupa durian, jengkol, petai, duku, dan lainnya. Sebagian kebun, ladang, dan sawah mereka juga rusak berat.
Jaringan listrik juga lumpuh total ke desa-desa itu. Demikian juga distribusi elpiji. Karena perbaikan jalan tak kunjung dilakukan, warga meninggalkan empat desa terisolasi itu. Mereka menyewa rumah di desa-desa terdekat.
Beberapa keluarga harus berbagi rumah untuk menghemat seperti yang dilakukan Martahan. Mereka mengontrak rumah dengan biaya Rp 5 juta per enam bulan dan ditempati dua keluarga.





