Perekonomian Tiongkok terus mengalami kemerosotan, keuangan pemerintah daerah semakin tertekan, dan berbagai sektor industri dilanda gelombang kebangkrutan serta pelarian pemilik usaha. Sejak awal tahun 2026, berbagai daerah di Tiongkok dilaporkan mengalami lonjakan aksi tuntutan pembayaran upah dan pembelaan hak pekerja.
Pada saat yang sama, suasana Tahun Baru Imlek yang seharusnya ramai dengan arus mudik justru tampak muram—stasiun-stasiun sepi dan gerbong kereta kosong mencerminkan kemerosotan ekonomi yang menusuk.
EtIndonesia. Data terbaru yang dirilis otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan bahwa pasar investasi domestik terus melemah, sementara investasi aset tetap dan properti di seluruh negeri juga mengalami penurunan.
Selain itu, data yang baru-baru ini diumumkan Kementerian Keuangan PKT menunjukkan bahwa pendapatan fiskal Tiongkok tahun lalu turun 1,7%. Mengingat pemerintah Tiongkok kerap memalsukan data, kondisi sebenarnya diyakini jauh lebih buruk.
“Kita semua tahu angka-angka seperti ini pasti dimanipulasi. Data yang diumumkan semuanya palsu dan telah dipoles. Namun hal ini justru menunjukkan bahwa ekonomi Tiongkok memang telah mencapai kondisi yang tidak lagi dapat diselamatkan,” kata ekonom dari Washington Institute for Information and Strategy, Li Hengqing.
Menjelang Tahun Baru Imlek, video-video yang beredar di internet memperlihatkan banyak pabrik dan perusahaan di berbagai daerah ditinggalkan pemiliknya yang melarikan diri, sementara banyak toko tutup dan bangkrut. Jalanan dan pusat perbelanjaan yang biasanya ramai menjelang hari raya kini tampak lengang dan sepi.
Seorang blogger daratan Tiongkok berkata: “Hari ini 30 Januari 2026, pukul 19.22 malam, tidak ada orang sama sekali.”
Setelah pemilik usaha kabur, banyak pekerja yang gajinya tertunggak tidak tahu harus mengadu ke mana. Tanpa uang, mereka bahkan tidak mampu pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru.
“Industri riil secara umum sedang lesu. Perusahaan-perusahaan, termasuk perusahaan besar, ramai-ramai melakukan PHK dan pemotongan gaji. Jumlah pengangguran terus meningkat, membuat banyak orang biasa merasa cemas dan bingung, sampai sulit tidur,” ujar seorang pemilik usaha di Zhejiang bermarga Chen.
Belakangan ini, di Guangdong, Shaanxi, Shanxi, Sichuan, Tianjin, Hubei, Chongqing, dan berbagai daerah lainnya, terjadi banyak aksi tuntutan upah oleh para pekerja dan buruh migran.
Pada 6 Februari, di Universitas Yibin, Kota Yibin, Provinsi Sichuan, para buruh migran yang gajinya ditunggak menggelar aksi tidur di depan gerbang kampus untuk menuntut pembayaran upah.
Seorang buruh migran di Chongqing bermarga Zhang mengatakan: “Saya bekerja dengan jujur, tapi gaji ditunggak setengah tahun. Tidak punya uang untuk merayakan Tahun Baru. Pemilik usaha tidak membayar gaji dan melarikan diri. Para pekerja tidak bisa menemukan perusahaan. Masih ada lebih dari 30 pekerja dengan total gaji tertunggak sekitar 360–370 ribu yuan, dan tidak ada yang mengurus.”
Para buruh migran menangis mengeluhkan nasib mereka. Upah yang sudah rendah membuat mereka hampir tidak bisa menabung dalam setahun, ditambah lagi gaji yang ditunggak membuat kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Tahun ini, mereka bahkan tidak mampu membeli kebutuhan pokok untuk Tahun Baru.
Seorang warga Desa Guanzhong, Wang Shun, berkata: “Tahun ini sama sekali tidak dapat uang, semuanya miskin. Saya sekarang bahkan tidak membeli satu jin daging pun. Tahun-tahun sebelumnya saya bisa membeli 50–60 jin daging, sayur juga banyak. Tahun ini hanya beli sedikit, cukup untuk beberapa hari saja, tidak mampu beli daging.”
Sejak Januari, berbagai daerah di Tiongkok mengalami insiden perlawanan massal. Pihak berwenang mengerahkan polisi untuk menjaga stabilitas dan melakukan penindasan.
Pada 4 Februari, perusahaan Yalei Exploration Shenzhen Co., Ltd. di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, dituduh menunggak gaji. Sejumlah pekerja berkumpul di depan kantor perusahaan untuk menuntut pembayaran. Rekaman menunjukkan petugas keamanan dengan tameng anti huru-hara berjaga di pintu masuk.
Para analis menilai bahwa seiring memburuknya kondisi ekonomi Tiongkok secara keseluruhan, konflik dan ketegangan sosial akan semakin meningkat.
Li Hengqing menambahkan: “Selama lebih dari sepuluh tahun pemerintahan Xi Jinping, segalanya berpusat pada dua tujuan inti: mempertahankan kediktatoran satu partai dan kediktatoran pribadi. Karena itu, ketika menghadapi penolakan dari rakyat, yang dilakukan hanyalah menjaga stabilitas dan menekan. Rakyat Tiongkok benar-benar menderita. Yang mereka hadapi adalah masalah kelangsungan hidup—krisis hidup yang nyata. Dan saya pikir krisis hidup ini pasti akan membawa krisis kekuasaan bagi Partai Komunis Tiongkok.”
Laporan hasil wawancara oleh wartawan New Tang Dynasty Television: Tang Rui, Xiong Bin, dan Hong Ning.





