JAKARTA, KOMPAS.com — Jalur sepeda di sejumlah ruas Jakarta Pusat, mulai dari kawasan Gambir, Thamrin, hingga Gondangdia, masih tampak jelas secara fisik melalui marka putih dan lapisan cat hijau di tepi jalan.
Namun, di lapangan, fungsi ruang khusus pesepeda itu kerap bergeser dari peruntukannya. Alih-alih menjadi ruang aman bagi pesepeda, jalur tersebut justru sering berubah menjadi area parkir sementara hingga tempat mangkal berbagai jenis kendaraan bermotor.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com pada Rabu (11/2/2026), di sejumlah titik jalur sepeda digunakan sebagai lokasi parkir mobil pribadi, deretan ojek online yang menunggu penumpang, hingga pangkalan bajaj yang berhenti memanjang dan menutup lintasan hijau.
Baca juga: Jalur Sepeda di Jakarta Kian Tergusur Motor
Kondisi ini memaksa pesepeda keluar dari jalur khusus dan berbagi ruang dengan arus kendaraan bermotor di lajur utama, yang tentu meningkatkan risiko kecelakaan.
Tak hanya terhalang kendaraan, kualitas fisik jalur sepeda di Jakarta Pusat juga belum sepenuhnya mendukung kenyamanan dan keselamatan.
Di beberapa ruas, permukaan jalur terlihat tidak rata, bergelombang, serta marka cat yang mulai memudar. Situasi tersebut membuat pesepeda harus ekstra waspada, terutama saat menghindari kendaraan yang berhenti di jalur khusus.
Di ruas lain, jalur sepeda bahkan tampak terputus dan menyempit tanpa perlindungan fisik memadai dari kendaraan besar seperti bus.
Salah seorang pesepeda yang telah lima tahun rutin melintasi kawasan Thamrin–Gondangdia, Zikri (29), menilai keberadaan jalur sepeda di Jakarta Pusat belum sepenuhnya memberikan rasa aman.
Ia mengatakan, hambatan paling sering justru berasal dari kendaraan yang berhenti di atas jalur khusus pesepeda.
“Sering banget ketutup mobil parkir atau ojol yang mangkal. Jadi mau enggak mau harus keluar jalur dan campur sama motor atau mobil,” ujar Zikri saat ditemui Kompas.com di kawasan Thamrin, Rabu.
Baca juga: Kronologi Wanita Adang Pengendara Motor di Jalur Sepeda Jalan Sudirman
Menurut dia, kondisi tersebut membuat fungsi jalur sepeda sebagai ruang aman menjadi tidak optimal, padahal jalur itu diharapkan bisa melindungi pesepeda dari kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor.
Selain terhalang kendaraan, Zikri juga menyoroti kondisi fisik jalur yang di beberapa titik tidak rata dan mulai rusak.
“Ada bagian yang bergelombang, catnya juga sudah pudar. Kalau enggak hati-hati bisa goyang atau jatuh,” kata dia.
Keluhan serupa disampaikan pesepeda lain, Maya (32). Ia menilai pengawasan terhadap penggunaan jalur sepeda masih lemah.
Ia mengaku kerap melihat bajaj maupun sepeda motor melintas bahkan berhenti di atas marka hijau tanpa adanya penertiban.





