Lembaga pemeringkat internasional ternama, Standard & Poor’s (S&P), menilai bahwa kelebihan pasokan di sektor properti daratan Tiongkok sudah sangat serius. Jika kondisi ini tidak dapat diperbaiki secara efektif, penjualan rumah baru pada 2026 berpotensi anjlok hingga 14%, sementara harga rumah diperkirakan terus turun sekitar 4%.
EtIndonesia. S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya yang dirilis di Hong Kong pada 9 Februari menyampaikan peringatan tersebut. Laporan berjudul “China Property Watch: Supply Glut to Impede Recovery” (Pemantauan Properti Tiongkok: Kelebihan Pasokan Menghambat Pemulihan) menyebutkan bahwa penumpukan besar stok rumah komersil membuat “jalan pemulihan” pasar properti Tiongkok semakin berat.
Data statistik yang dikutip dalam laporan menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, total luas rumah komersial yang belum terjual di seluruh Tiongkok telah mencapai 766 juta meter persegi, naik 1,6% secara tahunan.
Laporan tersebut menyatakan bahwa ini merupakan tahun keenam berturut-turut peningkatan luas rumah yang belum terjual, dan angkanya sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan rata-rata 10 tahun sebelum gelombang penurunan pasar properti saat ini.
Isi laporan menegaskan bahwa kelebihan pasokan perumahan pasti menekan harga rumah. Penurunan harga yang berkelanjutan akan melemahkan kepercayaan calon pembeli, sehingga membentuk lingkaran setan yang sulit diputus.
Jika situasi ini tidak membaik secara signifikan, penjualan rumah komersial baru secara nasional pada 2026 diperkirakan akan terus menurun dengan penurunan mencapai 10%–14%. Nilai penjualan diperkirakan turun menjadi 7,2–7,6 triliun yuan, jauh lebih buruk dibandingkan proyeksi dasar sebelumnya yang memperkirakan penurunan 5%–8%.
Laporan itu juga menunjukkan bahwa data resmi memperlihatkan pada kuartal keempat 2025, penurunan harga rumah baru dan rumah bekas di kota-kota tingkat pertama di Tiongkok semakin cepat, sebuah perkembangan yang patut dicermati.
Seiring terus meningkatnya stok perumahan di dalam negeri, para pengembang diperkirakan akan terus menurunkan harga jual untuk mengurangi persediaan. S&P memperkirakan harga penjualan rumah baru tahun ini akan turun 2%–4%, dengan besaran penurunan yang kurang lebih sama seperti tahun lalu.
Bahkan, isi laporan secara gamblang menyatakan bahwa “tren penurunan ini telah mengakar kuat”, dan hingga kini belum terlihat adanya niat yang jelas dari pihak berwenang untuk meluncurkan langkah nasional yang terpadu guna mengatasi masalah penumpukan stok perumahan.
Penanggung jawab redaksi: He Yating




