EtIndonesia. Ada seorang pengusaha yang dikenal selalu bertindak tenang dan penuh pertimbangan. Meski setiap hari bergelut di dunia bisnis yang berubah sangat cepat, ia hampir tidak pernah membuat kesalahan fatal. Karena itulah, perusahaan yang ia kelola terus tumbuh dan berkembang.
Beberapa tahun kemudian, tibalah waktunya dia pensiun.
Dalam acara perpisahan masa baktinya, para wartawan menanyakan rahasia kesuksesannya selama puluhan tahun berkarier.
Dia hanya tersenyum dan berkata singkat : “Sebenarnya saya tidak punya rahasia khusus. Saya bisa berjalan relatif lancar karena saya tahu satu hal: saat sedang marah, saya berusaha sedikit berbicara dan sedikit mengambil keputusan, itulah sebabnya saya jarang merusak hal-hal besar.”
Kalimat yang singkat itu justru menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi semua orang yang hadir hari itu.
Setiap kali aku dengan tenang mengingat kembali emosi dan pikiran yang pernah muncul saat aku marah, atau ketika aku mengamati orang-orang yang sedang diliputi amarah besar, aku menemukan satu kesamaan yang mencolok:
Saat marah, kecerdasan kita hanya setara anak berusia lima tahun.
Tak peduli berapa usia seseorang saat ini, ketika ia berada dalam puncak kemarahan, cara berpikirnya menjadi sangat tidak matang, emosinya sulit dikendalikan, kata-katanya kehilangan batas, dan perilakunya sering kali tak terkendali— semuanya mirip seperti seorang anak kecil berusia lima tahun.
Di dalam Alkitab tertulis: “Orang yang berakal budi tidak mudah marah.”
Bukankah itu benar? Saat seseorang sedang marah, kebijaksanaan, kecerdasan emosional, bahkan sikap dan wibawanya akan mengalami “kemunduran” yang drastis. Akibatnya, kata-kata yang terucap dan keputusan yang diambil sering kali justru merusak keadaan.
Seperti pengusaha yang telah pensiun tadi, kesuksesannya bukan karena trik atau strategi luar biasa, melainkan karena ia memahami satu prinsip sederhana: saat marah, kurangi bicara dan tunda keputusan. Dengan begitu, ia jarang melakukan kesalahan besar.
Apakah kamu berharap hidupmu berjalan lebih mulus dan lebih sedikit kesalahan?
Maka, ingatlah selalu satu hal ini: saat marah, kecerdasan kita hanya setara anak lima tahun.
Belajarlah untuk berbicara lebih sedikit dan menunda pengambilan keputusan ketika emosi sedang memuncak, agar tidak merusak keseluruhan keadaan dan berujung pada penyesalan yang terlambat.
Hikmah Cerita
Semakin kecil kemungkinan kita berbuat salah, semakin besar pula peluang untuk meraih keberhasilan.
Saat seseorang diliputi amarah, baik perkataan maupun tindakannya sering kali tidak melewati proses berpikir yang jernih. Akibatnya, keputusan yang diambil mudah keliru, ucapan yang keluar pun menjadi tidak bijaksana, bahkan bisa melukai atau menyinggung orang lain.
Karena itu, diam saat marah sering kali justru merupakan pilihan paling cerdas.
Di balik setiap orang yang berhasil, selalu ada pola dan prinsip hidup tertentu yang mereka pegang. Pola dan metode inilah yang layak kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan kita sendiri.(jhn/yn)





