JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Tahun Baru Imlek, tidak semua persiapan keluarga Tionghoa berbentuk kue keranjang atau hiasan lampion.
Pada momen ini, sebagian orang diam-diam kembali mengingat nama Tionghoa mereka, yang dulu jarang disebut di ruang publik.
Di Indonesia, ada masa ketika nama-nama Tionghoa kerap tidak digunakan dalam dokumen resmi.
Baca juga: Potret Suram Jalur Sepeda di Jakarta Pusat, Diserobot Parkir Liar, Ojol, hingga Bajaj
Banyak warga keturunan Tionghoa mengganti atau menyesuaikan nama mereka agar terdengar lebih “Indonesia” demi kepentingan administrasi, pendidikan, maupun pekerjaan. Nama asli pun perlahan hanya hidup sebagai panggilan di lingkup keluarga.
Pengalaman itu dirasakan betul oleh Elvina Fadli (25), warga Bandung, Jawa Barat.
“Saya sebenarnya sudah punya nama Tionghoa sejak kelas empat sekolah dasar (SD), memiliki nama Tionghoa Li Hua Rong," ucap Elvina saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Menurut dia, nama bukan sekadar pelengkap, tetapi ada doa di setiap kalimatnya.
Elvina menjabarkan, Li memiliki arti gemilang, Hua bermakna indah atau berkembang, dan Rong berarti kehormatan serta kemakmuran. Nama tersebut merupakan harapan agar dia hidup bercahaya, penuh hormat, dan sejahtera.
Namun dalam kesehariannya, nama itu nyaris tak pernah digunakan.
Ia menuturkan, selama tinggal di Indonesia, nama Tionghoa memang tidak dibutuhkan dalam urusan administrasi maupun pergaulan formal.
“Saya pernah sembunyikan nama Tionghoa saya ya karena semua informasi identitas ditulis nama Indonesia yang sesuai dengan data lahir. Karena tidak dibutuhkan nama Tionghoa selama tinggal di Indonesia,” lanjut dia.
Namun, nama itu kembali menemukan tempatnya. Ketika melanjutkan studi ke China pada 2020, nama Tionghoanya justru menjadi identitas utama.
Baca juga: Pengendara Tewas Usai Motornya Tabrak Bus Transjakarta lalu Terlindas Sedan di Ciputat
“Saat saya kuliah ke China dibutuhkan nama Tionghoa agar dosen dan rekan Tiongkok bisa mengenal nama saya. Ketika studi semua rekan saya dari berbagai negara dan dosen mengenal nama Tionghoa saya,” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan di Negeri Tirai Bambu, nama Tionghoa miliknya justru lebih sering terdengar.
Di ruang kelas, daftar hadir, hingga saat berdiskusi dengan teman-teman lintas negara, nama Li Hua Rong itulah yang dipanggil. Nama itu membuatnya merasa lebih terhubung dengan akar budaya yang sebelumnya terasa jauh.




