Selama tiga hari siswa SMK Jawa Timur unjuk karya inovasi dalam Expo Expose SMK 2026 di Grand City Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/2/2026). Pameran tersebut menjadi ikhtiar dan usaha Bidang SMK Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk mempersiapkan lulusan SMK dalam memasuki dunia wirausaha atau kerja sesuai keahlian dan kompetensinya.
Pada hari pertama, pengunjung yang datang merupakan pelajar yang ingin melihat karya inovasi-inovasi yang telah terkurasi. Tidak seperti pada umumnya pameran yang menonjolkan sekolah, pameran ini dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan bidang kekhususan seperti kemaritiman, teknologi manufaktur dan rekayasa, seni dan ekonomi kreatif, kesehatan, dan banyak lainnya.
Bagi siswa yang menjadi penampil, pameran ini menjadi ajang yang sangat dibanggakan dan ditunggu-tunggu. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu peserta dari SMK Negeri 2 Jombang, Refina Putri Aprilia. Dirinya bersama dua teman dan seorang guru dipilih untuk mewakili sekolah.
“Saya bangga bisa mewakili sekolah. Ini kesempatan berharga untuk menunjukkan karya saya dan teman-teman lainnya, “ Ujar Refina di tengah-tengah menunggu stan. Tidak hanya menunggu stan, Refina juga sibuk melayani pertanyaan para pengunjung. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, tidak lupa dia menawarkan katalog yang memuat busana rancangannya dan teman-temannya.
“Sejauh ini saya memang belum pernah mendapat pesanan, tapi saya senang setelah belajar di SMK, dari yang dulunya hanya menjahit dengan tangan sekarang saya bisa membuat pakaian utuh. Selama ini saya membantu di galeri sekolah,” kata Refina yang masuk SMK karena senang menjahit. Dalam katalog karya Refina dijual dengan harga Rp 1.800.000.
Di bagian lain dari ruang pamer, siswa SMK Negeri 3 Malang, Al Hazby Lazuardy Yahya, tampak sibuk mengoperasionalkan robot universal. Robot yang dioperasionalkan itu mempunyai fungsi memindahkan barang-barang. Siswa jurusan teknik elektronika tersebut tampak fokus memperbaiki saat sebuah kesalahan terjadi sehingga robot tidak berfungsi dengan sempurna.
“Ini penuh tantangan. Apalagoi saat mengoperasionalkan robot ternyata ada komunikasi yang tidak singkron sehingga kita harus cari masalahnya. Untungnya semua masalah bisa terselesaikan karena perangkat lunak yang digunakan saya sudah paham,” ujar Al Hazby.
Al Hazby sendiri mengaku sangat senang dengan elektronika sejak SMP. Dia mengaku ingin melanjutkan diri kuliah di bidang yang sama. “Saya prinsipnya tidak ingin memberatkan orang tua. Jadi jika nanti tidak ada biaya saya akan bekerja dulu untuk menabung, “ kata Al Hazby.
Di tengah tantangan yang tidak kecil di masa depan, kegiatan-kegiatan sejenis bisa mengukur sejauh mana kesiapan siswa SMK dalam menjawab kebutuhan industri.




