GenPI.co - Irlandia Utara tengah menghadapi krisis kesehatan yang kian mengkhawatirkan seiring lonjakan tajam kematian akibat alkohol.
Dilansir PA Media, Rabu (11/2), Badan Statistik dan Penelitian Irlandia Utara (Nisra) mengungkap kenyataan pahit mengenai tren kesehatan masyarakat.
Pada 2024, jumlah kematian yang terkait langsung dengan alkohol hampir menyentuh 400 jiwa.
Fenomena itu bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan lonjakan drastis sebesar 81,3 persen dibandingkan satu dekade lalu.
Pada 2014, jumlah kematian berada di angka 219 jiwa.
Mayoritas kematian ini disebabkan penyakit hati kronis, diikuti gangguan mental dan perilaku yang timbul akibat ketergantungan alkohol.
Dilihat dari sisi demografi, pria tetap menjadi kelompok yang paling terdampak dengan kontribusi lebih dari 60 persen dari total kematian.
Meski demikian, tren pada kelompok wanita menunjukkan perkembangan yang sangat mengkhawatirkan.
Tingkat kematian wanita melonjak hingga 104,1 persen dalam 10 tahun terakhir.
Secara geografis dan sosial, beban krisis ini tidak tersebar merata.
Wilayah Belfast mencatatkan tingkat kematian tertinggi.
Sementara itu, data menunjukkan bahwa penduduk di daerah termiskin memiliki risiko kematian empat kali lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal di daerah makmur.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Asosiasi Medis Inggris (BMA).
Wakil Ketua Dewan Irlandia Utara BMA Clodagh Corrigan menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang mengkhawatirkan sekaligus mendesak.
"Tenaga medis menyaksikan secara langsung bagaimana alkohol merusak kesehatan kardiovaskular dan menjadi pemicu kanker serta masalah kesehatan mental," ujarnya.
BMA pun mendorong pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan penetapan harga minimum per unit (MUP).
Kebijakan itu dianggap sebagai instrumen yang hemat biaya untuk menekan tingkat konsumsi, khususnya di kelompok masyarakat yang paling rentan. (*)
Kalian wajib tonton video yang satu ini:





