- Seperti apa duduk perkara gerakan tanah di Tegal?
- Sebenarnya tipe gerakan tanah apa yang terjadi di Tegal?
- Seperti apa karakteristik gerakan tanah di Tegal itu?
- Sampai kapan biasanya gerakan tanah tipe ini terjadi dalam satu kejadian?
- Apa yang bakal dilakukan pemerintah daerah menyikapi kejadian ini?
- Sejauh ini, seperti apa perkembangan penanganan ribuan pengungsi?
Gerakan tanah terjadi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sejak 2 Februari 2026. Hingga Rabu (11/2/2026), gerakan tanah masih terjadi.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tegal, sebanyak 413 rumah rusak berat, 189 rumah rusak sedang, dan 97 rumah rusak ringan. Sebanyak 2.453 jiwa mengungsi di delapan lokasi.
Warga menyebut, kejadian kali ini terjadi setelah hujan deras. Sesudah hujan deras, mereka mendengar suara seperti atap bergeser hingga lantai dan jalan retak. Hal itu terjadi perlahan sehingga warga keluar dari rumahnya yang mulai rusak.
Gerakan tanah di Desa Padasari dikenal sebagai tipe rayapan atau nendetan. Tidak seperti tipe rombakan yang terjadi dengan cepat, dampak tipe rayapan memang terbilang jauh lebih lama. Meski begitu, ujungnya tetap saja merusak.
Selain di Tegal, berdasarkan data Kompas, kejadian serupa terjadi di beberapa daerah lain, terutama di Jawa Barat. Beberapa wilayah yang pernah mengalami gerakan tanah seperti itu misalnya Curugkembar di Sukabumi, Bojongkoneng di Bogor, Cigintung di Majalengka, hingga Culamega di Tasikmalaya.
Dari beberapa kejadian, ada sejumlah ciri khas gerakan tanah tipe rayapan, mulai dari suara gemuruh yang didengar warga Padasari hingga terjadi saat hujan deras setelah kemarau panjang.
Penyebab lain adalah terganggunya dataran rendah, seperti lereng-lereng sungai. Lereng sungai menjadi kaki-kaki yang menyangga lapisan tanah yang lebih tinggi.
Biasanya, kejadian ini tidak terjadi sekali. Dalam satu tempat, kejadiannya bisa berkali-kali.
Di Bojongkoneng, gerakan tahan semacam ini pernah terjadi pada 1982, 2007, dan 2022. Di Curugkembar, kejadian serupa pernah muncul tahun 1930, 2002, 2007, 2012, dan 2017. Di Padasari, longsor serupa terjadi di tahun 1986 dan 2022.
Belum bisa dipastikan sampai kapan satu kejadian gerakan tanah rayapan akan aktif. Namun, dari beberapa kejadian, gerakan tanah rayapan bisa terjadi lebih dari satu minggu.
Hal itu terjadi baik di Bogor, Sukabumi, maupun di Tegal. Hingga Rabu (11/2/2026), longsor rayapan di Tegal yang terjadi sejak 2 Februari dilaporkan masih terjadi.
Sejauh ini, Pemkab Tegal dan Pemerintah Provinsi Jateng sepakat merelokasi permukiman warga. Alasannya, bila warga kembali ke rumah yang rusak, dampaknya bisa lebih berbahaya.
Hal itu juga selaras dengan keinginan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang datang ke lokasi bencana. Sejumlah opsi lantas diapungkan.
Salah satunya mencari lokasi anyar yang lokasinya tidak jauh dengan permukiman warga. Targetnya, warga punya rumah saat merayakan Lebaran atau lebih kurang sebulan dari sekarang.
Wapres Gibran mewanti-wanti pemda memperhatikan kebutuhan pengungsi. Kalangan rentan, anak, ibu hamil, dan warga lansia harus mendapat prioritas.
Selain itu, survei lahan relokasi sudah mulai dilakukan. Salah satu lokasinya dikelola Perhutani.
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, lokasinya sekitar 3 kilometer dari permukiman lama warga.
”Sejauh ini, luas lahan yang dikaji bervariasi, antara 3,238 hektar dan 10,042 hektar,” kata Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto.





