Bangladesh menggelar pemilu pada Kamis (12/2). Pemilu kali ini menjadi yang pertama sejak kekuasaan Sheikh Hasina terguling lewat kerusuhan mematikan pada 2024 lalu.
Menjelang pemilu, kondisi politik di Bangladesh memanas. Sejumlah pemimpin partai politik menyuarakan kekhawatiran terkait konspirasi atau ancaman kecurangan yang berpotensi terjadi.
Pada saat yang sama, aparat keamanan setempat menurunkan ratusan ribu petugas gabungan tentara dan polisi demi menjaga pelaksanaan pemilu.
Kekhawatiran terhadap pelaksanaan pemilu semakin memuncak lantaran berbagai laporan yang dikeluarkan kelompok pemantau independen, termasuk dari PBB. Mereka sama-sama mengkhawatirkan tumbuhnya intoleransi, ancaman, hingga tsunami disinformasi selama pemilu.
Kekhawatiran juga dipicu oleh mencekamnya situasi Bangladesh pada periode kampanye. Saat itu, pertikaian politik berulang kali terjadi hingga menyebabkan lima orang tewas dan lebih dari 600 orang terluka.
Salah satu kandidat terkuat calon perdana menteri (PM) baru Bangladesh, Tarique Rahman (60), yakin partainya, BNP, akan menang dan berkuasa di negara berpenduduk 170 juta orang tersebut.
"Jika rakyat Bangladesh keluar untuk memberikan suara mereka, konspirasi tidak akan berhasil," kata Rahman dari kelompok nasionalis, seperti dikutip dari AFP.
Lawan kelompok nasionalis dalam pemilu ini adalah koalisi Islam yang dipimpin partai besar Jamaat-e-Islami. Pemimpin partai tersebut, Shafiqur Rahman, berjanji bila menang akan membentuk pemerintahan Islam di negara yang secara konstitusional bersifat sekuler.
“Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan hasil yang adil,” ujar Shafiqur Rahman.





