Bisnis.com, JAKARTA — Layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di industri pembiayaan atau multifinance terus mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhir 2025.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL pada Desember 2025 meningkat 75,05% (year on year/YoY) menjadi Rp11,94 triliun. NPF gross pun terjaga di level 2,73%
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi berpendapat lonjakan pertumbuhan itu menunjukkan dua hal utama. Pertama, permintaan masih sangat kuat dan ruang ekspansi belum jenuh.
“Kedua, ekonomi masyarakat saat ini nampaknya lagi sulit, sehingga menggunakan BNPL,” ucapnya kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, meski NPF gross tercatat 2,73% yang artinya masih terjaga dan menunjukkan fundamental industri tetap sehat, perlu juga dicermati lebih dalam distribusinya di masing-masing pelaku usaha.
Oleh karena itu, Heru memperkirakan layanan BNPL di industri multifinance akan tetap tinggi meski cenderung lebih moderat, karena basisnya semakin besar dan pengawasan risiko yang lebih ketat.
Baca Juga
- Akulaku: Prospek Bisnis Paylater Cerah pada 2026
- Aturan Paylater Tak Bahas Larangan Gestun, Begini Penjelasan OJK
“BNPL akan makin terintegrasi dengan ekosistem digital dan ritel, sehingga berpotensi menjadi instrumen pembiayaan konsumtif jangka pendek yang semakin mainstream, terutama di segmen urban dan semi-urban,” jelasnya.
Heru melanjutkan, pada 2026 layanan BNPL akan bertumbuh karena meningkatnya transaksi e-commerce, pembayaran digital, promosi merchant, serta preferensi konsumen terhadap cicilan tanpa kartu kredit. Kemudian, stabilitas daya beli kelas menengah turut berperan.
Dia menilai segmen yang paling banyak memanfaatkan BNPL umumnya adalah generasi muda, baik milenial dan Gen Z, pekerja awal karier, serta konsumen yang belum memiliki akses kartu kredit.
“Sementara untuk produk, yang banyak adalah produk fashion, elektronik, dan kebutuhan gaya hidup biasanya menjadi kategori dengan penggunaan BNPL tertinggi,” sebutnya.
Lebih jauh, Heru membeberkan beberapa cara yang bisa dilakukan perusahaan dalam menjaga kualitas pembiayaan di tengah pertumbuhan penyaluran kredit BNPL yang tinggi.
Caranya adalah perusahaan perlu memperkuat credit scoring berbasis data alternatif, integrasi dengan biro kredit, serta pemantauan perilaku pembayaran secara real time.
“Penetapan limit adaptif dan segmentasi risiko penting agar ekspansi tetap selektif. Edukasi literasi keuangan juga krusial. Selain itu, kolaborasi dengan merchant untuk mengendalikan fraud serta strategi penagihan berbasis analitik dapat menjaga NPF tetap terkendali di tengah pertumbuhan tinggi,” ungkapnya.



