EtIndonesia. Suatu ketika, aku pernah mewawancarai seorang pengusaha yang sangat sukses. Saat menghubunginya lewat telepon, dia dengan ramah mengatakan bahwa dia akan mengirimkan sopir pribadinya untuk menjemputku. Dalam hati aku berpikir, inilah memang ciri khas orang sukses.
Begitu masuk ke dalam mobil, aku langsung memperhatikan sikap dan penampilan sang sopir. Dia jauh berbeda dari gambaran sopir pada umumnya. Sikapnya lembut, sopan, tutur katanya terjaga, dan pembawaannya menenangkan—kesan pertamaku sangat baik.
Tak lama setelah mobil berjalan, aku mulai mengobrol dengannya. Yang membuatku terkejut, dia ternyata mampu membahas dunia usaha, keuangan, pasar saham, dan manajemen keuangan dengan cukup mendalam. Hal itu sungguh membuatku kagum.
Tak lama kemudian, dia menoleh dan berkata dengan sopan : “Maaf, Pak. Saya lupa mengambil sesuatu. Bolehkah kita mampir sebentar ke rumah saya, lalu baru ke kantor?”
Aku melihat jam tangan—waktu masih cukup longgar.
Aku pun menjawab: “Tidak masalah, silakan.”
Mobil melintasi Jembatan Zhongshan dan melaju ke kawasan Tianmu, lalu berhenti di depan sebuah rumah mewah. Sang sopir masuk dengan cepat dan keluar membawa dua atau tiga map dokumen. Pemandangan itu membuatku semakin penasaran.
Begitu ia kembali ke mobil, aku pun tak tahan untuk “mewawancarainya”.
“Rumah ini milik Anda?” tanyaku.
Dia mengangguk santai : “Ya.”
Rasa ingin tahuku semakin besar. Dengan nada bercanda aku bertanya: “Kalau begitu, pasti Anda punya ayah yang sangat kaya, ya?”
Dia menggeleng : “Ayah saya hanya seorang petani. Tidak punya uang lebih, hanya cukup untuk hidup sederhana.”
“Kalau begitu… istri Anda pasti luar biasa?”
Dia tersenyum dan menjawab: “Istri saya hanya ibu rumah tangga biasa.”
Aku semakin bingung. Bagaimana mungkin seorang sopir dengan penghasilan bulanan biasa bisa memiliki properti semewah ini?
Meski sering dikatakan bahwa di Taiwan uang berlimpah, namun rasanya tidak mudah sampai ‘menggenangi’ seorang sopir.
Tentu saja aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengetahui rahasia kesuksesannya.
Aku pun bertanya dengan sungguh-sungguh.
Tanpa ragu, dia membagikan kisah hidupnya.
Dia berkata: “Saya sudah menjadi sopir hampir 20 tahun. Awalnya, saya merasa terpaksa menjalani pekerjaan ini. Sebagai pemuda yang baru keluar dari wajib militer dan tidak punya pendidikan tinggi, merantau ke Taipei untuk mencari pekerjaan yang layak bukanlah hal mudah. Jadi saya pikir, dicoba dulu saja—kalau tidak cocok, baru ganti pekerjaan.”
Tak disangka, setelah setahun, dia justru mulai menyukai pekerjaannya. Bukan karena pekerjaan sopir itu sendiri menantang atau bergengsi, melainkan karena dia sering mengantar majikan yang memiliki jaringan pergaulan sangat luas.
Dia pun berkesempatan bertemu banyak tokoh yang sebelumnya tak pernah terbayangkan: pengusaha besar, investor saham, penasihat keuangan, pejabat pemerintah, dan para profesional.
Dari merekalah dia mulai mengamati sikap, cara berpikir, dan gaya hidup orang-orang sukses. Pengalaman ini terasa baru dan sangat menarik baginya.
Sambil fokus mengemudi, dia juga diam-diam mendengarkan percakapan di dalam mobil. Setelah itu, dia rajin mencatat, merenungkan, dan meniru cara berpikir serta cara bekerja mereka. Inilah kenikmatan belajar yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tak hanya itu, dia juga meluangkan waktu menghadiri seminar investasi dan keuangan, serta membeli buku-buku terkait. Keuntungan menjadi sopir adalah dia memiliki banyak waktu menunggu, yang dimanfaatkannya untuk membaca.
Jika ada hal yang tidak dia pahami, dia akan memanfaatkan kesempatan untuk bertanya langsung kepada para ahli yang pernah menumpang mobilnya.
Semangat belajar dan rasa ingin tahunya membuat banyak profesional menghargainya. Mereka pun dengan senang hati membimbing dan berbagi wawasan dengannya.
Beberapa tahun lalu, saat saham teknologi mulai marak, dia tanpa sengaja mendengar percakapan antara seorang pakar modal ventura dan majikannya di dalam mobil.
Sang ahli berkata: “Pak Direktur, saham teknologi adalah masa depan pasar. Ini peluang besar, aman, dan menjanjikan!”
Dia yang duduk di depan semakin bersemangat. Tak lama kemudian, dia pun bertindak— dia membeli saham teknologi dalam jumlah besar.
Kini, dia berhasil membangun kekayaan yang membuat banyak orang iri.
Sesungguhnya, kesuksesan bukanlah hak istimewa orang berpangkat tinggi atau pejabat besar. Pegawai kecil dan orang biasa pun memiliki peluang yang sama. Semua tergantung pada pola pikir, kesediaan untuk terus belajar, dan kesiapan menunggu saat peluang itu datang.
Seperti sopir ini. Dia tidak menganggap menyetir sebagai satu-satunya tugas hidupnya. Jika dia hanya fokus mengemudi tanpa memperhatikan kehadiran orang-orang berharga di sekitarnya; jika dia hanya menghabiskan waktu tanpa belajar; jika dia hanya menjalankan tugas secara formal tanpa berani bertanya dan menyerap ilmu— maka hari ini, dia mungkin masih hidup pas-pasan, bukan pemilik rumah mewah seperti sekarang.
Pernah ada yang berkata, kesempatan sukses hanya datang kepada mereka yang sudah siap.
Lalu, bagaimana dengan kita—apakah kita sudah benar-benar siap?
Hikmah Cerita
Kesuksesan membutuhkan banyak unsur: jaringan, keberuntungan, peluang, kecerdasan, keberanian, dan keinginan kuat untuk berhasil. Ketika semua unsur itu bertemu,itulah saat kesuksesan hadir.
Dalam kisah ini, sang sopir memenuhi semua syarat tersebut.
Jaringan, keberuntungan, dan peluang: Dengan mengantar majikan dan klien, dia terpapar pada percakapan bisnis dan peluang emas setiap hari.
Kecerdasan, keberanian, dan keinginan kuat untuk sukses: Dia tidak menyia-nyiakan peluang itu. Dia belajar, menganalisis, dan berani mengambil keputusan saat waktunya tepat.
Kesempatan selalu ada, tetapi hanya mereka yang siap yang mampu membedakan mana peluang yang membawa keuntungan dan mana yang berujung kerugian.
Dan ketika keyakinan telah matang, dia pun berani melangkah— menciptakan masa depan yang dia impikan sendiri.(jhn/yn)





