Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto akan membawa sekitar 20 pengusaha nasional untuk menghadiri pertemuan dengan pengusaha Amerika Serikat (AS).
Prabowo sendiri dijadwalkan terbang ke AS untuk menandatangani kerja sama perdagangan yang merupakan hasil proses panjang negosiasi tarif impor yakni Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyebut para pengusaha juga akan ikut ke AS untuk menyelenggarakan business summit sejalan dengan agenda Prabowo di Negara Paman Sam itu.
Shinta menyebut ada sekitar 20 pengusaha yang akan ikut hadir terdiri dari berbagai asosiasi maupun pelaku usaha terkait.
"Dari kami mungkin sekitar yang udah [konfirmasi] ya, so far, masih terus nambah sih mungkin sekitar 20," terangnya kepada wartawan usai menghadiri pertemuan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Shinta mengaku seluruh persiapan untuk pertemuan pengusaha nasional dengan pengusaha AS itu sudah matang. Dia berharap agar seluruh perjanjian dagang baru antara Indonesia dan AS bisa diselesaikan dengan baik.
Baca Juga
- Usai Bertemu Ulama dan Eks Menlu, Prabowo Bergegas Ikut Rapat Perdana BoP di AS
- Israel Resmi Gabung Board of Peace (BOP), Kemenlu Buka Suara soal Sikap RI
- Eks Wamenlu Dino Patti Jelaskan Risiko Indonesia Terlibat Board of Peace
Pengusaha yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu turut berharap sektor padat karya masih bisa mendapatkan bea masuk impor yang lebih kompetitif.
"Kami masih mengharapkan sektor-sektor padat karya bisa mendapatkan tarif yang lebih baik. Harapan kami ke situ," terangnya.
Meski demikian, Shinta enggan memerinci apabila ada perkembangan baru terkait dengan produk maupun komoditas yang dikecualikan dari tarif impor AS sebesar 19%. Dia menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan adanya kerahasiaan informasi.
Shinta hanya menyampaikan bahwa nantinya pengusaha yang akan ikut bersama Presiden Prabowo ke AS berkepentingan dengan negara tersebut dari sisi perdagangan.
Dia menjelaskan, atas kesepakatan tarif impor lebih rendah oleh AS, Indonesia telah menyetujui untuk mengimpor lebih banyak produk atau komoditas negara adidaya tersebut. Misalnya, kedelai, terigu, jagung maupun kapas.
Dari sisi Indonesia, pengusaha yang paling berkepentingan dalam hal ekspor ke AS yakni tekstil, garmen, sepatu, mebel hingga minyak kelapa sawit (CPO). Khusus komoditas asli yang ditanam di Indonesia seperti kakao hingga sawit, Indonesia berhasil mendapatkan pengecualian dari tarif 19%.
"Jadi kami masih mengumpulkan ini karena waktunya juga sangat mepet gitu, tetapi harapan kami yang pasti kami akan hadir untuk mendukung pemerintah di dalam penyelesaian ini," pungkas CEO Sintesa Group itu.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan berangkat ke AS pada 19 Februari 2026.
Di antara agenda itu, Prabowo akan menandatangani kerja sama perdagangan bertajuk Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan AS. Pernyataan Airlangga itu disampaikan di Istana Negara usai dipanggil Presiden Prabowo Subianto pada hari ini, Rabu (11/2/2026).
"Tadi membicarakan terkait dengan update perundingan Indonesia-Amerika dan disampaikan Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara di tanggal 19 dan di sekitar tanggal itu juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu (11/2/2026).
Secara terpisah, Airlangga menyatakan bahwa secara substansi, seluruh negosiasi terkait dengan tarif dengan AS telah rampung. Kedua negara pun telah menuntaskan proses harmonisasi bahasa hukum (legal drafting).
Sebelumnya, usai pertemuan dengan USTR Jameson Greer di Washington D.C. akhir tahun lalu, pemerintah menargetkan dokumen ART dapat diteken oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump pada kisaran tanggal 12—19 Januari 2026.
Kendati demikian, hingga memasuki pekan kedua Februari 2026, seremoni tersebut belum terealisasi.
Sebagai catatan, dalam kerangka kesepakatan awal yang dibangun sejak Juli tahun lalu, Indonesia berkomitmen membebaskan tarif bea masuk untuk mayoritas produk asal AS. Sebagai timbal balik, Negeri Paman Sam sepakat menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Selain itu, AS memberikan lampu hijau pengecualian tarif bagi komoditas unggulan ekspor RI, mulai dari minyak kelapa sawit (CPO), kopi, hingga kakao.





