Menolong Pelaku Kezaliman

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Idealnya, hubungan antarsesama manusia berlangsung dalam suasana yang harmonis. Dalam arti, yang satu tidak merugikan yang lain. Kondisi itu penting untuk dibangun dan dipelihara, terlebih lagi oleh kaum Muslimin. Sebab, Islam adalah agama yang menebar rahmat kepada seluruh semesta (rahmatan lil 'alamin).

Acap kali, keharmonisan terganggu oleh orang-orang yang berlaku zalim terhadap sesama insan. Perbuatan itu juga akan merusak ketenteraman.

Baca Juga
  • Dibakarnya Patung Ba'al Raksasa di Iran dan Misteri Ritual Satanisme Epstein
  • Sejarah dan Perkembangan Islam di Panama
  • Netanyahu Ngotot Hapus ‘Negara Palestina’ Diganti ‘Board of Peace’ di Paspor Gaza

Bentuk kezaliman bisa bermacam-macam, tetapi polanya selalu sama. Ini terjadi ketika individu atau pihak yang kuat atau berkuasa menindas mereka yang lemah atau nirdaya.

Terkait itu, ada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang penting disimak. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi."

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Ketika mendengarkan nasihat itu, para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara menolong orang yang zalim?"

Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya."

Pencegahan yang dimaksud bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari lisan hingga perbuatan. Sebagai contoh, ketika seorang Muslim menyaksikan seseorang merencanakan jahat kepada yang lain, maka langsung katakan kepadanya, "Jangan sampai kamu melakukannya."

Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat suatu kebijakan yang menangkal kezaliman. Ini mengandaikan bahwa pencegah kezaliman adalah orang yang diamanahi kekuasaan.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemunkaran) dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."

"Dengan kedua tangannya" tidak selalu berarti harfiah. Seorang presiden atau gubernur, misalnya, bisa mencegah kezaliman di wilayahnya dengan cara membuat kebijakan. Bahkan, tindakannya itu bisa jauh lebih efektif ketimbang dakwah yang dilakukan satu atau dua orang dai.

Dari uraian di atas, tampak hubungan dialektis dalam menolong orang-orang agar terlepas dari kezaliman, baik mereka sebagai pelaku atau korban. Ketika lisan dan perbuatan tidak mampu juga melakukannya, maka hati yang "menjerit" sudah dinilai suatu kebaikan bila memang diniatkan untuk menolong sesama Muslim.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Shio-shio yang menurut pakar Feng Shui beruntung pada tahun Kuda Api
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Jelang PSM Makassar vs Dewa United, Ini Pesan Khusus Suporter kepada Tomas Trucha
• 11 jam laluharianfajar
thumb
TNI AU Sukses Uji Coba Pendaratan Pesawat Tempur di Jalan Tol Trans Sumatera, Pertama Kali dalam Sejarah Indonesia
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Mohan Hazian Akhirnya Ngaku Lakukan Pelecehan Seks ke Model, Umumkan Mundur dari Seluruh Jabatan di Thanksinsomnia
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Perayaan HUT Kaisar Jepang di Makassar, Sulsel Buka Peluang Penjajakan Kerja Sama yang Lebih Besar
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.