Bisnis.com, JAKARTA - Manajer Arsenal Mikel Arteta mengaku telah belajar dari kesalahan masa lalu untuk bisa membawa The Gunners lebih sukses musim ini. Dia mengungkap sempat terlalu fokus pada aspek taktis dan teknis ketimbang aspek lainnya.
Pelatih asal San Sebastian, Spanyol itu mengakui ada masanya dia sangat berorientasi pada aspek taktis dalam mengasuh Bukayo Saka Cs, sampai idealismenya itu justru berujung memaksa pemain melakukan hal-hal yang tidak secara natural mereka miliki.
"Pergeseran itu terjadi, karena pada akhirnya, harus mengenali apa yang dibutuhkan tim terlebih dahulu. Untuk menciptakan identitas dan cara bermain yang jelas, harus dilihat dengan cara tertentu," ungkapnya dalam laman resmi Arsenal, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, banyak aspek yang harus dipertimbangkan buat membangun tim sesuai yang dikehendaki seorang pelatih. Terlebih, upaya mengubah budaya atau gaya permainan sesuai idealisme, notabene membutuhkan investasi waktu dan biaya yang tak sedikit.
"Beberapa hal yang saya pelajari juga, bahwa kita bisa punya ide, ingin melakukan hal-hal tertentu, tetapi pada akhirnya, kualitas pemain adalah hal terpenting," tegasnya.
Arteta telah belajar, meminta pemain untuk melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman atau tidak alami buat mereka, hasilnya tidak akan optimal secara jangka panjang.
Baca Juga
- Prediksi Skor Brentford vs Arsenal: Head to Head, Susunan Pemain
- Bekuk Fulham 3-0, Man City Kembali Tempel Arsenal di Klasemen
- Habis Sukses Gebuk Liverpool, Pep Guardiola Mau Lihat Arsenal Terpeleset
Terlebih, saat ini ada tren muncul tekanan besar dari suatu klub agar pelatih kepala yang ditunjuk bisa secara langsung memberikan dampak nyata. Kalau tak bisa, ancaman pecat berada di depan mata, bahkan walaupun pelatih itu baru menjabat seumur jagung.
"Mungkin [terlalu memaksa pemain] berhasil untuk beberapa laga, beberapa saat. Tapi dalam jangka menengah dan panjang, itu tidak akan berhasil. Karena ada juga hal penting lain, yaitu menghormati sifat alami pemain dan mencoba mengakomodasi kualitas yang mereka miliki, jika memungkinkan," ujarnya.
Arteta mengungkap pandangannya tersebut dalam konteks menanggapi fenomena ramainya pelatih top yang dipecat klub pada musim ini.
Mulai dari sahabatnya, Xabi Alonso oleh Real Madrid, mundurnya Roberto De Zerbi dari Marseille, sampai terdepaknya Ruben Amorim, Thomas Frank, dan Sean Dyche dalam lanskap Premier League.
Oleh karena itu, Arteta mengaku senang diberikan waktu dan kesempatan oleh manajemen The Gunners untuk membangun tim. Bahkan, pada saat terpuruk dan belum bisa mendapat gelar.
"Saya sangat beruntung. Itulah yang kita semua inginkan sejak awal. Bersama-sama kita ingin membawa stabilitas, kinerja, kegembiraan, dan kemajuan yang lebih besar bagi klub. Mudah-mudahan, musim ini, kita akan menjadi lebih baik lagi," tutupnya.





