Deru mesin pesawat latih Grob G 120 TP masih menggema di Skadik 101 saat dua siswa Sekolah Penerbang TNI AU Angkatan 106 melepas helm terbang mereka, Kamis (12/2). Seragam oranye yang mereka kenakan kontras dengan langit Daerah Istimewa Yogyakarta yang mulai redup.
Di apron Skadik 101, Letda Tek Qorinna tampak tenang seusai menyelesaikan latihan menggunakan pesawat Grob G 120 TP bernomor ekor LD-1206. Di balik sikapnya yang tenang, tersimpan tekad besar untuk menjadi penerbang perempuan TNI AU.
“Izin memperkenalkan diri, Letda Tek Qorinna, asal Jakarta. Kami Sekbang Angkatan 106,” ujarnya.
Terinspirasi Sosok Ibu WaraBagi Qorinna, keputusan menjadi penerbang bukanlah pilihan yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh di lingkungan TNI Angkatan Udara dan terinspirasi langsung oleh ibunya yang merupakan Wanita Angkatan Udara (Wara) dan kini berdinas di Korps Polisi Militer AU.
“Motivasi awal saya masuk Taruni Akademi Angkatan Udara karena terinspirasi ibu. Sejak kecil sudah hidup di lingkungan TNI AU. Saya melihat bahwa perempuan juga bisa menjadi tentara,” katanya.
Dari situ, ia menanamkan target pribadi untuk melampaui capaian orang tuanya sekaligus membuktikan bahwa profesi penerbang bukan ruang eksklusif bagi laki-laki.
“Jumlah penerbang perempuan di Indonesia masih terbatas. Kami ingin membuktikan bahwa perempuan juga mampu menerbangkan pesawat apabila dilatih dengan baik dan benar,” ungkapnya.
Seleksi Ketat Menuju KokpitPerjalanan menuju kursi penerbang tidak instan. Sejak masih taruna tingkat akhir, Qorinna telah melewati rangkaian seleksi ketat, mulai dari tes kesehatan, jasmani, akademik, hingga psikologi.
Setelah itu, ia mengikuti aptitude test untuk menguji bakat terbang. Lolos dari tahap tersebut, pendidikan berlanjut ke pembinaan kelas, simulator, hingga praktik langsung menggunakan pesawat Grob G 120 TP.
Pesawat latih berwarna putih itu menjadi ruang belajar pertamanya di udara.
Beradaptasi di Lingkungan Mayoritas Laki-lakiSebagai Wara di lingkungan pendidikan yang didominasi laki-laki, fase adaptasi menjadi tantangan tersendiri. Namun Qorinna mengaku hambatan tersebut justru menguatkan mentalnya.
“Awalnya kami berpikir apakah bisa atau tidak. Tapi setelah dijalani, ternyata bisa menyesuaikan tanpa diskriminasi,” jelasnya.
Di Angkatan 106, ia hanya berdua dengan Letda Tek Demi Salma yang saat ini tengah melaksanakan navigasi jarak sedang di Madiun.
Tantangan berikutnya hadir saat berada di udara. Selain menguasai prosedur normal, siswa penerbang juga wajib memahami prosedur darurat secara detail.
“Kami harus siap dengan segala emergency. Tidak hanya prosedur normal, tapi juga emergency procedure,” katanya.
Faktor cuaca juga menjadi penentu. Jika kondisi overcast atau terjadi thunderstorm, latihan penerbangan akan ditunda hingga visibilitas dinilai aman.
Cenderung ke Pesawat AngkutMeski penjurusan resmi belum ditentukan, Qorinna memiliki kecenderungan pribadi.
“Secara pribadi, saya lebih cenderung ke fixed wing, khususnya pesawat angkut,” ujarnya.
Firja: Dari Akademi Pertahanan Jepang ke Sekbang TNI AUDi sisi lain apron, Letda Tek Firjatullah Radita Putra atau Firja membawa kisah berbeda. Ia merupakan lulusan National Defense Academy of Japan dan kini menempuh jalur yang sama sebagai siswa Sekolah Penerbang TNI AU.
“Nama saya Letda Tek Firja, Perwira Remaja AU 2023, lulusan National Defense Academy of Japan tahun 2025,” ujarnya.
Motivasinya juga lahir dari keluarga. Ayahnya adalah prajurit TNI AU, meski bukan penerbang.
“Figur penerbang yang memotivasi saya adalah ayah. Beliau prajurit TNI AU, walaupun bukan penerbang,” katanya.
Firja telah menyelesaikan fase dasar menggunakan Grob dan kini menantikan tahap lanjutan. Ia juga memiliki minat pada pesawat angkut.
“Kalau saya lebih minat ke transport,” ujarnya.
Kini, Qorinna dan Firja berada di tahap akhir latihan dasar. Selanjutnya, mereka akan menjalani penjurusan ke fixed wing atau rotary wing, menandai langkah berikutnya dalam perjalanan panjang menjadi penerbang TNI AU.
Langit bukan lagi sekadar batas pandang. Bagi mereka, langit adalah tujuan.





