VIVA –Penyakit jantung bawaan atau disebut sebagai congenital heart disease adalah kelainan struktur dan fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisi ini dapat menggangu aliran darah dari dan menuju jantung sehingga bisa mengancam jiwa.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid menyebut bahwa kelainan ini paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir dengan prevalensi kira-kira 9-10 per 1000 kelahiran hidup.
“Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir, dengan angka prevalensi kira-kira 9-10 per 1000 kelahiran hidup. Penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan,” kata dia di Jakarta, Kamis 12 Februari 2026.
Nadia juga menjelaskan bahwa screening penyakit jantung bawaan dengan sasaran siswa Sekolah Dasar merupakan Upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan cakupan deteksi dini PJB. Sementara itu program skrining PJB sudah dimasukkan dalam salah satu daftar skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak tahun 2025.
“Program skrining PJB sejak tahun 2025 merupakan salah satu skrining pada Cek Kesehatan Gratis (CKG). Oleh karena itu kegiatan deteksi dini PJB pada anak sekolah merupakan salah satu upaya edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memperkuat deteksi dini agar anak-anak dengan PJB dapat memperoleh penanganan yang tepat sedini mungkin. Kolaborasi antara organisasi profesi, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan anak Indonesia,” ujarnya.
Dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB) yang berlangsung pada 7–14 Februari, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Bawaan bekerja sama dengan GE HealthCare Indonesia menyelenggarakan program skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB) gratis bagi anak usia sekolah secara berseri di 27 kota di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Jayapura. Program skrining ini menargetkan siswa sekolah dasar dan santri pondok pesantren, tidak hanya untuk mendeteksi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga sebagai langkah awal pengumpulan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai gambaran PJB di Indonesia.





