Tangerang: PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan penjualan bersih dari operasi yang masih berjalan sebesar Rp31,9 triliun pada 2025, naik 4,3 persen secara tahunan. Laba bersih dari operasi yang masih berjalan tercatat Rp3,5 triliun, meningkat 21,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut didorong pertumbuhan volume penjualan pada kuartal keempat serta penguatan penjualan domestik dan ekspor. Perseroan menilai capaian ini mencerminkan penguatan fondasi bisnis dan langkah transformasi yang dijalankan sepanjang tahun.
Secara rinci, laba bruto dari operasi yang masih berjalan mencapai 46,9 persen, melemah 60 basis poin akibat biaya transformasi yang lebih tinggi. Di luar biaya transformasi, laba bruto meningkat 46 basis poin. Laba sebelum pajak tercatat 14,1 persen, naik 183 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Tanpa memperhitungkan biaya transformasi, laba sebelum pajak mencapai 16,3 persen.
Mengikutsertakan operasi yang dihentikan dan laba bersih dari penjualan bisnis es krim, laba bersih perseroan pada tahun buku 2025 mencapai Rp7,6 triliun. Perseroan juga mencatat free cash flow sebesar Rp4,9 triliun atau 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan posisi tanpa utang.
Baca Juga :
Unilever Jual Bisnis Teh Sariwangi Rp1,5 Triliun ke Grup DjarumPresiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap. Foto: Metrotvnews.
Momentum pemulihan terus menguat
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan momentum pemulihan terus menguat seiring penerapan langkah disiplin dan perubahan struktural.
"Hasil kinerja kami menunjukkan momentum pemulihan yang terus menguat. Langkah disiplin dan perubahan struktural yang diterapkan memberikan dampak berkelanjutan, tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas," ujar Benjie, saat paparan kinerja secara daring, Kamis, 12 Februari 2026.
Sepanjang 2025, strategi pertumbuhan difokuskan pada tiga pilar utama, yakni kategori, saluran penjualan, dan efisiensi biaya.
Pada aspek kategori, perseroan memperkuat portofolio menuju segmen dengan pertumbuhan lebih cepat serta mendorong strategi social-first demand creation. Kontribusi segmen pertumbuhan tinggi meningkat dari 8,0 persen menjadi 9,8 persen. Sebanyak 16 merek utama mencatat pertumbuhan dan menyumbang 75 persen total penjualan dengan kenaikan penjualan 9,1 persen.
Sementara di sisi saluran penjualan, perseroan memperkuat infrastruktur distribusi dan memperluas kehadiran di saluran D-Commerce serta Health & Beauty yang tumbuh signifikan. Sedangkan dari sisi biaya, perusahaan menekankan disiplin efisiensi di seluruh rantai nilai guna mendukung reinvestasi pada pembangunan merek dan inovasi.
Memasuki 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan berbasis kualitas dan volume, meski mengantisipasi perlambatan sementara pada kuartal pertama akibat pergeseran pola belanja karena Idulfitri yang lebih awal.
"Kami memulai 2026 dengan fondasi yang lebih kuat dan fokus untuk tumbuh secara berkelanjutan serta memberikan nilai bagi masyarakat Indonesia," kata Benjie.




