Bisnis.com, JAKARTA — Buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) membeberkan penyebab angka pemutusan hubungan kerja (PHK) melonjak pada 2025, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat menyampaikan bahwa PHK merupakan persoalan yang berlanjut sebagai imbas dari kondisi perekonomian dalam negeri hingga kepercayaan investor asing.
“PHK justru begini, ini kan carry over masalah kepercayaan, masalah orang berinvestasi, melihat keadaan kita. Itu kan carry over dari masalah utang yang meningkat dan sebagainya,” kata Jumhur usai pembukaan Rakornas II & Rakernas IV KSPSI di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berimbas kepada industri dalam negeri yang tidak berkembang. Selain itu, terdapat pula masalah persaingan dengan membeludaknya barang impor dan impor ilegal, sehingga industri dalam negeri menyetop produksi hingga gulung tikar.
Jumhur menyebut bahwa serikat buruh terus mendukung pemangku kepentingan terkait agar menghidupkan kembali geliat industri di Tanah Air, terutama demi keberlanjutan industri penopang perekonomian nasional.
“Bahwa buruh di belakang mereka yang mau berbisnis, mau berekonomi, mau berindustri, kita dukung. Dan kita satu langkah, karena tidak ada gunanya kita sebagai buruh, kalau tidak ada industrinya,” tuturnya.
Baca Juga
- Dasco Bicara Nasib Satgas PHK & Dewan Buruh yang Dijanjikan Prabowo
- Buruh Ragu Angka Pengangguran Turun, KSPN: Korban PHK Tak Dihitung
- Suram! Bos Buruh Ramal Jumlah PHK Melonjak di 2026, Ini Biang Keroknya
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa lonjakan PHK sepanjang 2025 tak terlepas dari krisis global.
Menurut Dasco, DPR bersama pemerintah dan serikat buruh terus berupaya agar angka PHK dapat dibatasi melalui perumusan kebijakan yang tepat.
“Kita juga melakukan mitigasi dan pemerintah juga melakukan antisipasi-antisipasi yang dianggap perlu supaya tidak kemudian terjadi pelebaran PHK,” ujar Dasco.
Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan melalui portal Satu Data Kemnaker mencatat angka PHK mencapai 88.519 sepanjang 2025, meningkat sekitar 13,54% dari tahun sebelumnya.
Indah Anggoro Putri, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemnaker menyampaikan bahwa PHK banyak melanda sektor manufaktur dan padat karya. Dia menyebut kondisi ini dipengaruhi oleh tekanan kinerja ekspor-impor dan dinamika geopolitik global sepanjang tahun lalu.
“Tekanan ekspor impor itu pasti, kondisi dunia pada 2025 awal sampai semester pertama kan masih ada dinamika geopolitik tinggi, ada perang dan sebagainya,” kata Indah saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026) lalu.





