Biogas & Solar Dryer House Hadir di Sukabumi

jpnn.com
18 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Bupati Sukabumi, Asep Japar meresmikan pemanfaatan fasilitas biogas rumah di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, serta Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Aktivitas edukasi teknologi energi terbarukan berbasis komunitas ini juga merupakan bagian dari proyek Pro Women 3 yang didukung oleh pendanaan Ford Foundation.

BACA JUGA: Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Daerah, Jamkrindo Jamin 577.454 UMKM-K di Jateng & DIY

Peresmian ini menjadi langkah nyata dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal.

Asep Japar menyampaikan pembangunan berbasis energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

BACA JUGA: Hadirkan Program Literasi Asuransi, Jasindo Ajak Mahasiswa Perbanas Paham Pengelolaan Risiko

“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga," ujar Asep.

Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

BACA JUGA: Sambut Imlek 2026, ANTAM Luncurkan Emas Batangan Year of the Horse

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional.

Melalui pengolahan biogas, limbah organik dapat diubah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan pendekatan teknologi tepat guna berbasis komunitas merupakan kunci keberlanjutan program.

“Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Pemanfaatan biogas ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG serta berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO?e per tahun.

Selain itu, residu biogas dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat yang mendukung pertanian ramah lingkungan.

Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem hadir sebagai solusi atas persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka.

Teknologi pengering berbasis energi matahari ini dirancang untuk menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan bernilai jual lebih tinggi.

Melalui peresmian biogas dan Solar Dryer House ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta ini diharapkan bisa menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi, serta dapat meningkatkan perekonomian di dua desa tersebut.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Bantah Isu Suahasil Nazara Ikut Seleksi DK OJK, Sebut Berpeluang Jadi Ex-Officio
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Kemkomdigi dan Kemenhub Perkuat Jaringan Telekomunikasi untuk Dukung Kelancaran Mudik Lebaran 2026
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Sembilan guru-perawat di Korowai dievakuasi usai KKB tembak pesawat
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Kapuspenkum Ungkap Ultimatum Jaksa Agung ke Jaksa soal Aset Sitaan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Nasihat Ulama untuk TNI yang akan ke Gaza
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.