Mengungkap Identitas Mikroorganisme dengan Validasi berbasis Standar DNA Barcode

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Dunia mikroorganisme menyimpan keragaman kehidupan yang luar biasa, namun sebagian besar masih sulit dikenali karena ukurannya yang sangat kecil dan karakteristiknya yang kompleks. Saat ini, para ilmuwan mengungkap identitas mikroorganisme dengan validasi berbasis standar DNA barcode, sebuah pendekatan modern yang memungkinkan identifikasi mikroba dilakukan secara lebih cepat dan akurat melalui analisis materi genetik. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa koleksi mikroorganisme yang disimpan dalam berbagai lembaga riset benar-benar memiliki identitas yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Melalui upaya mengungkap identitas mikroorganisme dengan validasi berbasis standar DNA barcode, penelitian biodiversitas mikroba menjadi semakin maju, sekaligus membuka peluang pemanfaatan mikroorganisme untuk berbagai bidang, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan bioteknologi.

Dalam konteks nasional, penguatan sistem identifikasi mikroorganisme berbasis DNA barcoding memerlukan dukungan infrastruktur ilmiah berupa koleksi referensi mikroorganisme yang tervalidasi. Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Indonesian Culture Collection (InaCC) berperan sebagai pengelola koleksi ilmiah mikroorganisme nasional Indonesia. InaCC berfungsi sebagai pusat konservasi, karakterisasi, dan distribusi mikroorganisme yang mendukung pengembangan basis data referensi, standardisasi identifikasi molekuler, serta penguatan ekosistem riset biodiversitas mikroorganisme di Indonesia.

Sejarah

Konsep DNA barcoding diperkenalkan oleh Dr. Paul Hebert pada tahun 2003 dengan mengusulkan penggunaan segmen gen cytochrome c oxidase subunit I (COI) dari DNA mitokondria sebagai penanda universal identifikasi spesies hewan. Metode ini bertujuan menyederhanakan proses identifikasi spesies dengan menggunakan sekuens DNA pendek yang unik, yang berfungsi sebagai “barcode” biologis bagi setiap organisme [1][2][3].

Perkembangan selanjutnya memperluas penggunaan DNA barcoding pada berbagai kelompok organisme, termasuk tumbuhan, melalui penggunaan penanda seperti rbcL, matK, dan ITS2 [15]. Seiring evolusi metodologi, penelitian mulai mengadopsi pendekatan DNA barcoding pada komunitas mikroorganisme, yang sebelumnya sulit diidentifikasi menggunakan metode konvensional berbasis kultur [16].

Integrasi teknik berbasis PCR memungkinkan karakterisasi komunitas mikroorganisme tanpa memerlukan proses kultur, sehingga meningkatkan efisiensi analisis biodiversitas mikroba [17]. Saat ini, DNA barcoding diakui sebagai alat penting dalam sistematika dan taksonomi mikroorganisme serta berkontribusi dalam pengembangan standar identifikasi berbagai kelompok taksonomi, termasuk bakteri, archaea, hewan, dan fungi [13].

Dalam konteks pengelolaan biodiversitas mikroorganisme, keberadaan koleksi referensi nasional seperti InaCC mendukung pengembangan penelitian DNA barcoding melalui penyediaan isolat mikroorganisme yang tervalidasi secara taksonomi dan molekuler, sehingga memperkuat integritas data identifikasi mikroorganisme.

Standar Penanda Genetik Berdasarkan Kelompok Mikroorganisme

DNA barcoding merupakan teknik identifikasi spesies yang menggunakan penanda genetik pendek dan terstandarisasi untuk mengklasifikasikan organisme dalam suatu spesies tertentu. Pendekatan ini umumnya memanfaatkan gen yang bersifat konservatif dengan tingkat variasi antarspesies yang cukup tinggi. Gen cytochrome c oxidase subunit I (COI) merupakan penanda pertama yang diakui sebagai barcode untuk identifikasi spesies hewan dan menunjukkan variasi antarspesies sekitar 11,3% serta variasi intraspesies berkisar antara 0% hingga 2% [18].

Pemilihan penanda genetik dalam DNA barcoding sangat bergantung pada karakteristik evolusi dan kebutuhan resolusi taksonomi masing-masing kelompok mikroorganisme. Sejumlah gen telah diakui sebagai standar identifikasi molekuler (gold standard) pada berbagai kelompok mikroorganisme seperti ditampilkan pada Gambar 2.

Gen 16S rRNA digunakan sebagai standar utama untuk identifikasi bakteri dan archaea karena memiliki kombinasi daerah konservatif dan variabel yang memungkinkan klasifikasi taksonomi secara luas [4][5]. Pada kelompok cyanobacteria, penggunaan gen 16S rRNA sering dikombinasikan dengan ITS untuk meningkatkan resolusi identifikasi pada tingkat spesies [6].

Pada kelompok fungi filamen, daerah ITS digunakan sebagai penanda utama karena memiliki variasi genetik yang tinggi. Untuk kelompok ragi, selain ITS, wilayah Large Subunit ribosomal RNA (LSU) khususnya domain D1/D2 digunakan sebagai penanda tambahan untuk meningkatkan akurasi identifikasi.

Pada kelompok protozoa, gen 18S rRNA banyak digunakan karena memiliki konservasi evolusioner yang sesuai untuk analisis filogenetik organisme eukariotik uniseluler. Sementara itu, pada alga mikro, gen rbcL sering dikombinasikan dengan 18S rRNA untuk meningkatkan resolusi identifikasi organisme fotosintetik mikroskopis.

Berbeda dengan mikroorganisme seluler, identifikasi virus menggunakan berbagai gen target tergantung pada tipe genom virus. Gen seperti RNA-dependent RNA polymerase (RdRp), DNA polymerase (DNA pol), dan Major Capsid Protein (MCP) banyak digunakan karena memiliki peran penting dalam replikasi dan struktur virus serta menunjukkan konservasi evolusioner yang memadai.

Standarisasi penggunaan penanda genetik tersebut memerlukan ketersediaan koleksi referensi yang tervalidasi secara ilmiah. Dalam konteks Indonesia, InaCC berperan dalam menyediakan isolat mikroorganisme referensi yang mendukung validasi penanda genetik serta pengembangan basis data referensi nasional yang kompatibel dengan sistem basis data internasional.

Aplikasi dan Tantangan DNA Barcoding Mikroorganisme

DNA barcoding menjadi salah satu metode penting untuk mengenali dan mempelajari mikroorganisme secara cepat dan akurat melalui analisis DNA. Teknologi ini membantu peneliti memahami keanekaragaman mikroba di berbagai lingkungan, seperti tanah dan perairan, termasuk mikroorganisme yang sulit diteliti dengan metode konvensional. Selain mendukung penelitian ekologi, DNA barcoding juga berperan dalam dunia kesehatan untuk membantu mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit secara lebih tepat [7][8][9][12][16].

Teknologi ini juga bermanfaat dalam pengawasan spesies invasif, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan sumber daya hayati. Di Indonesia, pemanfaatan DNA barcoding didukung oleh keberadaan Indonesian Culture Collection (InaCC) yang dikelola BRIN sebagai penyedia koleksi mikroorganisme referensi untuk memastikan identifikasi mikroorganisme dilakukan secara akurat dan dapat dipercaya.

Tantangan

Meskipun memiliki berbagai keunggulan, penerapan DNA barcoding dalam mikroorganisme menghadapi sejumlah tantangan metodologis dan teknis. Salah satu tantangan utama adalah ketidaksesuaian antara identifikasi berbasis DNA dan klasifikasi morfologi tradisional, terutama pada organisme dengan keragaman genetik tinggi atau kompleksitas taksonomi yang belum sepenuhnya dipahami [11].

Tantangan lainnya meliputi potensi kontaminasi spesies, bias primer dalam proses amplifikasi PCR, serta keterbatasan basis data referensi global. Bias primer dapat menyebabkan over-representasi atau under-representasi taksa tertentu, sehingga mempengaruhi interpretasi hasil analisis [10]. Selain itu, keterbatasan basis data referensi dapat menghambat identifikasi spesies baru atau spesies endemik yang belum terdokumentasi secara molekuler.

Penguatan koleksi mikroorganisme nasional melalui InaCC berperan penting dalam mengatasi tantangan tersebut dengan menyediakan isolat yang tervalidasi secara taksonomi dan molekuler, sehingga mendukung pengayaan basis data referensi serta meningkatkan akurasi identifikasi mikroorganisme di tingkat nasional dan internasional.

Metodologi

Metode identifikasi mikroorganisme dengan standar DNA barcode dilakukan dengan membaca informasi genetik mikroba melalui teknologi sekuensing DNA. Prosesnya dimulai dengan mengambil DNA dari mikroorganisme, kemudian memperbanyak bagian gen tertentu menggunakan teknik PCR agar dapat dianalisis lebih lanjut. Untuk membaca urutan DNA, ilmuwan dapat menggunakan metode Sanger yang dikenal sangat akurat untuk satu jenis mikroorganisme, atau teknologi yang lebih modern seperti Next-Generation Sequencing (NGS) yang mampu menganalisis banyak mikroorganisme sekaligus. Pemilihan bagian gen yang dianalisis, seperti gen 16S rRNA pada bakteri dan ITS pada jamur, sangat penting untuk memastikan identifikasi spesies dilakukan dengan tepat.

Setelah urutan DNA diperoleh, data tersebut dibandingkan dengan basis data referensi menggunakan analisis komputer untuk memastikan identitas mikroorganisme. Dalam proses validasi koleksi ilmiah, keberadaan mikroorganisme referensi yang sudah teruji sangat penting untuk memastikan hasil identifikasi akurat dan dapat dipercaya. Pendekatan ini membantu meningkatkan kualitas data koleksi mikroorganisme sekaligus mendukung penelitian keanekaragaman hayati, layanan ilmiah, dan pengembangan teknologi berbasis mikroorganisme.

Arah Pengembangan Masa Depan

Perkembangan teknologi sekuensing membuat identifikasi mikroorganisme menjadi semakin akurat, termasuk untuk spesies yang sulit dikenali secara visual. Penggunaan teknik modern seperti metagenomik memungkinkan peneliti mempelajari komunitas mikroorganisme secara lebih lengkap [13][14]. Di Indonesia, penguatan peran Indonesian Culture Collection (InaCC) sebagai pusat referensi mikroorganisme nasional menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan DNA barcoding berbasis kekayaan biodiversitas Indonesia.

Agar hasil penelitian lebih konsisten dan dapat dibandingkan, diperlukan standar metode DNA barcoding serta basis data referensi yang kuat. InaCC bersama Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN berperan dalam menyediakan koleksi mikroorganisme yang tervalidasi, memperkaya data referensi, serta mendorong kolaborasi penelitian untuk memperkuat pengelolaan dan pemanfaatan biodiversitas mikroorganisme di Indonesia.

Perkembangan Terkini

Kemajuan teknologi sekuensing telah meningkatkan kemampuan identifikasi komunitas mikroorganisme secara signifikan. Platform NGS seperti Illumina memungkinkan analisis throughput tinggi dengan efisiensi biaya yang meningkat [16].

Selain itu, teknologi sekuensing generasi ketiga memungkinkan pembacaan panjang yang mendukung perakitan genom secara lebih lengkap. Perkembangan ini membuka peluang penelitian biodiversitas mikroorganisme yang lebih mendalam.

Penguatan kapasitas nasional dalam pemanfaatan teknologi ini memerlukan integrasi fasilitas riset, koleksi referensi mikroorganisme, dan sistem pengelolaan data ilmiah. InaCC berpotensi menjadi pusat unggulan nasional dalam pengelolaan koleksi mikroorganisme berbasis pendekatan molekuler dan genomik.

Kesimpulan

DNA barcoding merupakan pendekatan penting dalam identifikasi dan karakterisasi mikroorganisme yang mendukung penelitian biodiversitas, diagnostik klinis, biosekuriti, dan konservasi sumber daya hayati. Penggunaan penanda genetik seperti 16S rRNA, ITS, dan penanda lainnya telah meningkatkan akurasi identifikasi spesies serta memperluas pemahaman mengenai keragaman mikroorganisme.

Pengembangan DNA barcoding memerlukan dukungan infrastruktur ilmiah berupa koleksi referensi mikroorganisme, teknologi sekuensing, dan sistem pengelolaan data yang terintegrasi. Dalam konteks Indonesia, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN melalui Indonesian Culture Collection (InaCC) memiliki peran strategis dalam menyediakan koleksi referensi mikroorganisme nasional yang mendukung standardisasi identifikasi molekuler serta penguatan ekosistem riset biodiversitas mikroorganisme.

Penguatan peran InaCC sebagai pusat referensi mikroorganisme nasional diharapkan dapat meningkatkan kontribusi Indonesia dalam jejaring penelitian global, mendukung pengembangan standar nasional DNA barcoding, serta memperkuat tata kelola sumber daya hayati mikroorganisme secara berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dukungan Netizen Mengalir, Ressa Rizky Rossano Bersyukur: Alhamdulillah
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Sinopsis ISTIQOMAH CINTA SCTV Episode 4, Hari Ini Kamis 12 Februari 2026: Khansa Menghilang, Rahasia Lama Dr. Akhsan Terkuak
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Gempa M4,8 Guncang Meulaboh Aceh Barat
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Menimbang Ulang Keanggotaan Indonesia di dalam Board of Peace
• 21 jam lalukompas.com
thumb
OJK Akui Green Financing Indonesia Rendah, Pendanaan UMKM Hijau Perlu Didorong
• 12 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.