Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Tokyo, Jepang
Penyerang sayap Jepang Ritsu Doan berbicara tentang kejutan di Piala Dunia, ekspektasi, dan bagaimana ia menerima peran sebagai pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan untuk Hajime Moriyasu.
Jepang mampu konsisten tidak pernah absen masuk ke putaran final Piala Dunia sejak debut pada 1998 di Prancis. Di empat dari tujuh Piala Dunia yang sudah diikuti Jepang, mereka empat kali mampu ke 16 besar, yakni 2002, 2010, 2018, dan 2022.
Salah satu Piala Dunia paling berkesan bagi Samurai Blue mungkin Qatar ’22. Bagaimana tidak? Saat itu di fase grup saja mereka sudah bersama dua negara juara dari tiga gelaran terakhir Piala Dunia.
Hebatnya, baik Jerman (saat itu juara dunia 2014) dan Spanyol (kampiun 2010) berhasil ditekuk Jepang dengan skor identik. Jepang pun melaju ke 16 besar dengan status pemenang Grup E, ditemani Spanyol sebagai runner-up.
Salah satu nama yang menarik perhatian dari kesuksesan Jepang menekuk dua raksasa Eropa – bahkan bisa dibilang dunia – itu adalah Ritsu Doan. Pasalnya, ia mencetak gol pertama Jepang saat membungkam Jerman dan Spanyol. Hebatnya, Doan melakukan itu semua bukan sebagai pemain starter.
“Saya kira, gol saat melawan Jerman,” ujar Doan, sayap kanan Timnas Jepang, seperti dikutip situs resmi FIFA, saat ditanya mana yang lebih disukai dari kedua gol di Piala Dunia 2022 itu.
“Masalahnya, itu gol pertama saya di Piala Dunia. Itu juga menjadi momen yang benar-benar membangkitkan semangat tim, jadi itu sangat berarti bagi saya.
“Rasanya seperti terjadi dalam gerakan lambat. Bola jatuh ke saya, dan saya langsung menembak dan mencetak gol. Itulah gambaran yang terpatri dalam pikiran saya sejak saat itu,” tutur penyerang berusia 27 tahun yang kini membela klub Bundesliga Jerman, Eintracht Frankfurt.
Kendatipun Jepang kalah adu penalti melawan Kroasia di babak 16 besar, hasil melawan tim-tim raksasa dunia tersebut telah memperkuat kepercayaan diri bangsa dan membuat negara lain memandang mereka sebagai pemain serius di panggung terbesar olahraga ini.
Kini, Jepang masih dilatih Hajime Moriyasu. Melalui kualifikasi zona Asia (AFC), Samurai Blue menjadi negara pertama di luar tuan rumah – Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko – yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Faktor utama konsistensi Jepang yang mampu berada di posisi teratas zona AFC adalah pengalaman banyak pemain yang kini bermain di beberapa liga terbesar Eropa, termasuk Doan yang telah bermain di luar negeri selama sembilan tahun setelah pindah dari Gamba Osaka.
Sebagai salah satu bintang Jepang yang paling lama berkiprah di Eropa, Doan sangat menyadari manfaat yang dapat diperoleh dari bermain di lingkungan yang sangat kompetitif di level klub bagi tim nasional.
“Fakta banyaknya pemain kami yang kini bersaing di Eropa membawa standar untuk tim agar mampu naik ke level global. Banyak di antara kami yang bermain di Liga Champions dan Liga Europa, dan itu menjadi langkah besar bagi sepak bola Jepang,” ucap Doan.
Doan mengawali karier di Eropa saat ditarik klub asal Belanda, FC Groningen, pada awal Juli 2018. Perkembangannya yang pesat membuat salah satu klub raksasa Belanda, PSV Eindhoven mengontraknya pada Agustus 2019.
Usai dipinjamkan ke klub Jerman, Arminia Bielefeld (September 2020 sampai Juni 2021), PSV melepas Doan ke SC Freiburg pada Juli 2022. Lantas, sejak Juli 2025 silam, Doan memperkuat Frankfurt hingga sekarang.
Meskipun sudah berkarier di Jerman sejal 2022, Doan mengaku hingga kini masih beradaptasi dengan kultur sepak bola Jerman. Namun ia mengaku menikmati belajar untuk menerima dan beradaptasi dengan budaya sepak bola yang sangat berbeda daripada budaya yang ia alami saat tumbuh di Jepang.
“Pengalaman ini membantu saya untuk menghargai tidak hanya pentingnya kerja sama dan kekuatan persatuan yang saya miliki dengan Jepang, tetapi juga keterampilan individu yang dibutuhkan di (klub seperti) Frankfurt,” katanya.
“Saya bersyukur atas pengalaman bermain dengan tim yang berbeda. Ini memberi saya kesempatan untuk membandingkan mereka dan melihat mereka dari perspektif yang berbeda.”
Di Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni (dan berakhir 19 Juli) nanti, Jepang akan tergabung di Grup F bersama Belanda, Tunisia, dan satu pemenang play-off B kualifikasi zona Eropa (salah satu dari: Ukraina, Swedia, Polandia, atau Albania).
Sekira empat bulan sebelum turnamen dimulai, Jepang memiliki sejumlah masalah mulai dari cederanya sejumlah pemain kunci macam kiper utama Zion Suzuki, kapten Takumi Minamino, hingga penyerang sayap Takefusa Kubo.
Problem Jepang lainnya adalah tidak adanya sosok bintang yang benar-benar bisa diandalkan untuk membuat perbedaan saat dibutuhkan. Belum lagi di lini depan, karena Jepang hingga kini belum memiliki striker yang mematikan.
Di kualifikasi lalu, Ayase Ueda yang menjadi pencetak gol terbanyak Jepang hanya menceploskan 8 gol, diikuti Koki Ogawa dengan 6 gol. Jumlah itu jauh di bawah top scorer kualifikasi AFC, Almoez Ali, asal Qatar, yang juga lolos ke Amerika ’26.
“Tidak peduli berapa pun usia Anda, sepanjang ada kepercayaan dari pelatih dan dari seluruh tim. Saya merasa akan mampu terus berkembang, dan memasuki Piala Dunia dengan semangat yang tidak saya miliki sebelumnya,” kata Doan yang kini berusia 27 tahun.
Jepang bersaing di kualifikasi zona Asia sejak putaran kedua. Hingga memastikan lolos, Doan tercatat dipanggil untuk 13 pertandingan dengan 10 di antaranya menjadi starter, dua masuk dari cadangan, dan sekali tidak dimainkan. Ia mencetak tiga gol dan tiga assist sepanjang kualifikasi lalu.
“Saya merasa bahwa orang-orang bergantung pada saya. Jadi, tentu saja performa saya sendiri sangat penting. Saya ingin menjadi tipe pemain yang membuat timnya menjadi tim yang menang,” kata Doan,yang sudah mencetak 11 gol dalam 62 pertandingan Jepang sejak debut pada September 2018.
“Saya rasa Jepang membutuhkan pemain-pemain yang bisa diandalkan oleh pelatih dan tim. Seperti, ‘Saya tahu bisa mengandalkan Ritsu saat dia ada di sekitar’, atau ‘Ritsu bisa membantu kita tetap tenang bahkan saat keadaan sulit’, atau ‘Jika dia kuat, kita juga akan tetap solid’, hal-hal seperti itu. Tim-tim terbaik selalu memiliki pemain seperti itu.
“Tentu saja, saya juga ingin membuat para penggemar dan bahkan lawan terkesan. Saya ingin mencetak gol kemenangan jika memungkinkan. Namun, lebih dari itu, saya fokus pada seberapa baik performa tim. Mungkin itu sesuatu yang telah berubah bagi saya.”
Editor: Tri Cahyo Nugroho





