tvOnenews.com - Puasa di bulan suci Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Di balik ibadah yang tampak sederhana ini, ada unsur batin yang sangat menentukan nilai amal seseorang di sisi Allah, yaitu niat.
Tak sedikit umat Islam yang masih bertanya-tanya: apakah niat puasa harus dilafalkan, atau cukup di dalam hati?
Pertanyaan ini kerap muncul terutama menjelang Ramadhan atau saat menjalankan puasa sunnah.
Sebagian orang terbiasa melafalkan niat dengan kalimat tertentu, sementara yang lain meyakini bahwa niat cukup di dalam hati.
Lalu bagaimana sebenarnya tuntunan yang tepat?
- Pexels/Thirdman
Imam Besar Masjidil Haram, Makkah, sekaligus Presiden Urusan Dua Masjid Suci, Syekh Abdurrahman as-Sudais, memberikan penjelasan yang sangat jernih mengenai hal ini.
Beliau menegaskan bahwa niat memiliki posisi yang sangat mendasar dalam ibadah puasa.
“Niat merupakan pembeda antara puasa wajib berupa ibadah dengan sebuah kebiasaan,” ujar Syekh Abdurrahman as-Sudais.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa inti dari puasa bukan hanya aktivitas fisik menahan diri, tetapi tujuan di baliknya.
Dua orang bisa saja sama-sama tidak makan dan minum sepanjang hari, namun nilainya berbeda di sisi Allah jika niatnya tidak sama.
Syekh as-Sudais juga mengingatkan bahwa puasa tanpa niat yang benar bisa kehilangan nilai ibadahnya.
“Ketika seseorang berpuasa hanya ikut seperti orang-orang berpuasa, ia tidak memperoleh pahala,” ujarnya.
Artinya, jika seseorang berpuasa sekadar mengikuti lingkungan, tren, atau kebiasaan sosial tanpa kesadaran ibadah, maka puasanya tidak bernilai pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah.
Karena itu, niat harus benar-benar dihadirkan.
- Pexels/timur-weber
Beliau kemudian menjelaskan bagaimana niat puasa seharusnya ditetapkan.
“Maka ia perlu menetapkan niat bahwa ia menahan diri dari segala pembatal puasa, karena mengharapkan ridha Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, serta mengharapkan pahala dari Allah SWT,” terang Syekh as-Sudais.
Di sini terlihat bahwa niat bukan sekadar formalitas, melainkan kesadaran penuh bahwa puasa dilakukan karena Allah, dalam rangka ketaatan dan mengharap ganjaran-Nya.




