NASIB anak-anak sekolah di lokasi banjir bandang Sumatra bagaikan setelah terjatuh, lalu tertimpa tangga. Belum usai rumah hingga bangunan sekolah porak-poranda dan tertimbun lumpur hingga 3 meter akibat bencana banjir besar pada November 2025 lalu, persoalan lain datang lagi.
Dari penelusuran Media Indonesia, di SD Negeri 11 Linge, Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh misalnya, ratusan lembar seng atap sekolah itu hilang sejak sebulan lalu. Padahal atap seng spandek berbahan campuran aluminium dan silikon berkualitas bagus itu juga merupakan aset sekolah milik negara.
Semua itu harus dilindungi dan tidak boleh diganggu, apalagi berpindah tangan. Meskipun keberadaannya di lokasi bencana alam atau sempat terendam banjir.
Baca juga : Perbaikan Jalinsum Tapanuli Tengah Dikebut Jelang Puasa dan Idul Fitri
Padahal, bagian atap seng tersebut baru terpasang saat rehab gedung dua tahun lalu. Atap seng itupun dalam kondisi bagus larena tidak sampai terendam saat banjir 24-27 November 2025 kala itu. Sedangkan 6 ruangan kelas, 1 ruang kantor guru, dan 1 gudang beragam barang itu tenggelam genangan banjir sebatas pintu dan jendela.
Lalu material gedung sekolah itu seperti daun pintu, jendela, plafon, dan sebagian rangka kayu juga raib entah ke mana. Kemudian fasilitas pendukung misalnya bola lampu, kabel instalasi listrik, dan sebagian bangku juga ikut hilang.
Padahal bahan bagian atas gedung itu masih layak digunakan pada bangunan lain, atau paling kurang bisa untuk membangun ruang belajar sementara. Sayangnya, keberadaan sekolah itu yang seharusnya dijaga bersama, kini malah hadir tangan jahil yang membongkar dan mengangkut seng atap berwarna marun itu.
Baca juga : Cuaca Panas, Siswa Korban Banjir di Aceh Tengah hanya Sanggup Belajar 2 Jam Sehari di Tenda Darurat
"Padahal sebelumnya sekitar dua pekan pascabanjir, yakni pada 5 Desember 2026, kondisi gedung sudah saya laporkan tertulis ke Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah. Ternyata sebulan kemudian pada 6 Januari 2026, semua bahan gedung yang masih bisa digunakan termasuk fasilitas pendukung lainnya sudah hilang. Kami guru walau tidak sanggup mencegah, tapi tidak mau berkoordinasi aset itu dibongkar," tutur Kepala SDN 11 Linge, Aceh Tengah, Zupariah.
Muhammad Aditya Ibnu Salim, Relawan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta yang ikut membantu proses belajar mengajar di SD Negeri 11 Linge, kepada Media Indonesia mengatakan, bahan-bahan struktur bangunan itu diambil oleh sekelompok orang bepakaian seragam dan termasuk orang nomor wahid di pemerintahan tingkat kampung dan pemimpin adat Mukim.
Anehnya perbuatan melanggar hukum dan tidak berperipendidikan itu dilakukan berkelompok pada siang hari, seperti tidak merasa bersalah. Bahkan pembongkaran itu ada yang berpakaian seragam. Mereka beralasan untuk membersihkan sesuai arahan pemerintah lebih tinggi.
Menurut Muhammad Aditya dan 11 teman relawan UGM yang bergabung dengan relawan Yayasan Sukma itu, bahan dan barang pada gedung bekas banjir yang masih layak pakai bisa digunakan untuk pembangunan sekolah sementara. Apalagi materialnya berasal dari 6 ruang kelas, 1 ruang kantor guru, dan 1 gudang barang. Setiap ruangan itu berukuran 8x7 meter.
Ke-12 relawan Mahasiswa UGM itu mengharapkan pemerintah segera memulihkan dunia pendidikan di pedalaman Linge, Aceh Tengah, dan lokasi banjir Sumatra lainnya. Kemudian mereka juga berharap aparat penegak hukum tidak membiarkan para tangan jahil mengambil kesempatan di saat masyarakat masih memulihkan diri dari bencana.
"Sudah cukup tercabik-cabik alam pendidikan para generasi yang masih polos itu. Kalau tidak sanggup maembantu, jangan lagi menganggu fasilitas perjuangan masa depan mereka," tutur Muhammad Aditya, mahasiswa asal Purwokerto yang kini berkuliah semester VI Fisipol, UGM tersebut. (MR/E-4)





