Jakarta, VIVA - Bursa Asia-Pasifik anjlok pada pembukaan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Koreksi menyusu kekhawatiran tentang gangguan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) yang memicu koreksi di indeks acuan Wall Street untuk hari ketiga berturut-turut.
Beberapa sektor pasar saham AS terpukul tahun ini akibat peluncuran alat AI yang dapat meniru bisnis. Implementasi inovasi ini setidaknya mengurangi margin keuntungan perusahaan.
Beberapa saham emiten perusahaan truk dan logistik tergincir karena kekhawatiran alat AI baru dapat mengurangi inefisiensi pengiriman barang secara signifikan. Ini menyebabkan penurunan permintaan terhadap layanan industri ini.
Saham properti dan keuangan juga menjadi korban akibat inovasi AI ini. Saham perusahaan pialang properti komersial turut memperpanjang kerugian untuk hari kedua beruntun.
Pelaku pasar di kawasan Asia tengah mencermati berbagai dampak tidak langsung dari inovasi AI ini. Meskipun Taiwan sebagai pasar paling terkemuka di bidang AI libur Tahun Baru Imlek.
Dikurtip dari CNBC Internasional, indeks Nikkei 225 Jepang tergerus 0,58 persen setelah berhasil menyentuh angka 58.000 pada sesi perdagangan sebelumnya. Indeks Topix melemah 0,58 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,35 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham berkapitalisasi kecil tergelincir 1,36 perse
Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1,02 persen pada perdagangan awal. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di angka 26.703 atau lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di angka 27.032,54.
Semalam di Wall Street, Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1,34 persen. Penurunan dipicu koreksi tajam sahan Cisco Systems sebesar 12 persen setelah perusahaan melaporkan proyeksi yang mengecewakan untuk kuartal I-2026.
Indeks S&P 500 tergerus 1,57 persen. Begitu juga, Nasdaq Composite tergerus 2,03 persen.





