Penulis: Irfan Sudrajat
TVRINews - Roma, Italia
Gennaro Gattuso harapan Italia menghapus kutukan yang membayangi Gli Azzurri setelah juara Piala Dunia 2006.
Masa depan sepak bola Italia ada di tangan Gennaro Gattuso. Tanggal 26 dan 31 Maret 2026 menjadi waktu yang sangat penting bagi Gli Azzurri.
Itu akan menjadi momen saat nasib Italia di pertaruhkan. Juara Piala Dunia 2006 ini harus menghadapi Irlandia Utara pada 26 Maret 2026.
Jika beruntung bisa mengalahkan Irlandia Utara, Italia akan melangkah ke final lawan pemenang dari laga Wales vs Bosnia dan Herzegovina.
Kemenangan akan membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Jika itu terjadi, Gennaro Gattuso akan diingat sebagai pelatih yang menyelamatkan wajah Italia di mata sepak bola dunia.
Namun, jika gagal, Italia akan kembali mengalami masa-masa gelap yang panjang. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, mereka hanya akan menjadi penonton Piala Dunia, seperti halnya pada 2018 dan 2022.
Gennaro Gattuso hanya akan diingat sebagai salah satu dari dua pelatih lainnya yang gagal membawa Italia tampil di Piala Dunia, Gian Piero Ventura dan Roberto Mancini. Gian Piero Ventura adalah pelatih ketika Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018 sedangkan Roberto Mancini adalah pelatih saat Italia mengalami kemunduran kedua, tanpa Piala Dunia 2022.
Gennaro Gattuso tidak sendirian menghadapi tantangan yang berat ini. Dia didampingi figur seperti Gianluigi Buffon sebagai manajer (Kepala Delegasi), asisten pelatih Leonardo Bonucci dan Luigi Ricco. Termasuk juga Cristiano Lupatelli.
Tantangan Gennaro Gattuso saat ini bahkan sudah mengadang ketika dia harus menyikapi, tidak ada pemusatan latihan untuk menyongsong laga play-off tersebut. Ini menjadi hal yang tidak biasa tentunya. Dalam situasi ini, banyak yang mengharapkan tim Italia akan bersama-sama berada dalam satu tempat.
Namun, itu justru tidak terjadi, tidak ada pemusatan Latihan (training camp). Gianluigi Buffon menegaskan bahwa situasi tersebut tidak akan memengaruhi. Sebaliknya, mantan kapten dan bintang Juventus serta legenda hidup Timnas Italia ini optimistis.
"Saya adalah orang yang selalu mengambil sisi baik dari sebuah keadaan darurat," kata Gianluigi Buffon, Rabu (11/2/2026) kepada La Stampa terkait tidak adanya pemusatan latihan.
"Sebagai seorang pria, pesepak bola, dan sekarang manajer, saya tidak pernah berpikir untuk membuat alasan. Kami membuat beberapa usulan, tetapi sayangnya usulan tersebut tidak terwujud, dan hanya itu. Selebihnya, kami bekerja sangat keras, sangat hebat, sangat mulia, sangat kuat, dan sangat indah," katanya lagi.
Situasi ini memang sulit. Pasalnya, tidak akan mudah mengumpulkan pemain dalam sebuah pemusatan latihan ketika kompetisi masih berlangsung. Ini tentu akan mengganggu klub. Karena itulah, Gennaro Gattuso pernah mengundang sejumlah pemain untuk makan malam.
Pelatih berusia 48 tahun ini juga mengunjungi banyak pemain secara satu per satu di klubnya. Inilah yang dilakukan Gennaro Gattuso, bertindak bukan hanya sebagai pelatih melainkan seperti seorang psikolog.
Cara dan pendekatan Gennaro Gattuso jauh lebih penting dibandingkan tentang isu kutukan atau takhayul yang muncul di antara sejumlah penyebab gagalnya Italia tampil dalam dua Piala Dunia terakhir.
"Gattuso luar biasa, tidak ada yang seperti dia," kata Gianluigi Buffon lagi. "Kami tidak mengharapkan bantuan apa pun, jadi satu-satunya fokus kami adalah mencoba untuk mencapai dua pertandingan itu dengan cara terbaik, memproyeksikan semangat tim dan altruisme yang tak tertandingi."
Gianluigi Buffon menyatakan bahwa Rino Gattuso telah menemukan cara untuk menyatukan pemain menjadi sebuah kelompok yang lebih baik.
"Pelatih itu (Gattuso) benar-benar luar biasa. Tidak ada yang seperti dia, yang berbicara dengan semua pemain setiap minggu, mengetahui kunci dan metodenya. Semua itu untuk memastikan energi positif tidak terbuang sia-sia. Kami yakin bahwa dia memberi dan akan terus memberi."
Buffon yang juga berusia 48 tahun juga tidak percaya dengan kutukan. Tidak sedikit yang menggambarkan bahwa deretan kegagalan Timnas Italia ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di Piala Dunia 2006 silam.
Pada 2022 lalu contohnya, di hari ketika Italia sudah dipastikan gagal ke Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Pers Spanyol, Marca, menggambarkan kegagalan Italia saat itu dengan "Kutukan 16 Tahun" di Piala Dunia.
Setelah Piala Dunia 2006 saat Italia juara, hingga Piala Dunia 2022, total 16 tahun rentang waktu antara keduanya. Jika kembali gagal di tahun ini, kutukan itu akan bertambah tentunya menjadi 21 tahun.
Peristiwa Materazzi dan Zidane
Faktanya, kutukan tersebut bukan hanya tentang kegagalan tidak tampil di Piala Dunia melainkan deretan hasil buruk yang terjadi setelah meraih gelar Piala Dunia 2006. Marca menyinggung kutukan itu ada karena insiden provokasi bek Italia, Marco Materazzi kepada playmaker Prancis, Zinedine Zidane di final.
Saat itu, Marco Materazzi disebut melontarkan perkataan yang menghina saudara perempuan Zinedine Zidane. Bintang asal Prancis tersebut kemudian menanduk dada Marco Materazzi. Provokasi tersebut mengakhiri karier sang playmaker setelah mendapatkan kartu merah.
Prancis bermain dengan kekurangan pemain setelah tanpa Zinedine Zidane. Memang, ada adu penalti di mana Prancis kalah, namun tidak sedikit yang meyakini bahwa apa yang dilakukan Marco Materazzi menjadi penyebab dari rangkaian masa-masa kelam yang harus ditanggung Italia, hingga saat ini.
Boleh jadi itu hanya takhayul. Faktanya bukan hanya Marca, sejumlah pers Eropa, serta suara di media sosial, tetap mengingatkan tentang "cacatnya" gelar Timnas Italia saat meraih gelar Piala Dunia 2006 silam.
Gennaro Gattuso akan mencoba untuk mengakhiri kutukan tersebut. Jika dia berhasil membangun Timnas Italia dengan caranya, Gli Azzurri akan kembali lagi ke panggung sepak bola dunia.
Bersama Gianluigi Buffon, Gennaro Gattuso adalah generasi terakhir yang membawa Italia juara Piala Dunia pada 2006 itu. Namun, keduanya juga bermain ketika Italia memasuki masa-masa pahit dan kelam baik di Piala Dunia 2010 maupun Piala Dunia 2014.
Berikut ini, Empat Kegagalan Italia di Piala Dunia setelah Juara 2006:
Piala Dunia 2010
Dalam Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan, Italia datang dengan status juara bertahan. Gli Azzurri justru berakhir tragis di Piala Dunia ini.
Berada satu grup dengan Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru, Italia yang saat itu masih di bawah asuhan Marcello Lippi, pulang lebih cepat.
Mereka berada di posisi akhir setelah hanya dua kali imbang dan mengalami satu kekalahan. Hanya meraih dua poin.
Piala Dunia 2014
Di Piala Dunia ini, Italia ada di Grup Neraka bersama tim seperti Inggris, Uruguai, dan Kosta Rika. Italia dan Inggris menjadi korban, dua tim besar yang harus pulang lebih cepat.
Bagi Italia, ini kedua kalinya secara beruntun setelah Piala Dunia 2010 mereka juga gagal lolos dari fase grup. "Kutukan" tersebut makin terlihat, sebagai titik terendah dari sejarah Italia.
Namun, itu hanya memperlihatkan titik terendah karena di dua Piala Dunia selanjutnya, justru menjadi tragedi bagi sepak bola negeri ini.
Piala Dunia 2018
Italia ada di bawah Spanyol dalam kualifikasi Grup G karena itu mereka harus tampil di play-off. Italia menghadapi Swedia fase tersebut. Mereka harus menang untuk bisa tampil di Piala Dunia 2018.
Pada pertandingan pertama yang digelar di Solna, Italia kalah 0-1. Lalu di laga kedua yang digelar di Milan, hasilnya hanya imbang 0-0, yang membuat Italia tidak bisa tampil I Piala Dunia 2018. Ini juga menjadi laga perpisahan Gianluigi Buffon sebagai kiper Timnas Italia.
Piala Dunia 2022
Italia baru saja meraih gelar Piala Eropa 2020. Namun, Piala Dunia menjadi sangat berbeda bagi Italia. Gli Azzurri berada di bawah Swiss di Grup C.
Dengan hasil tersebut, mereka kembali harus tampil di play-off jika ingin tampil di Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar.
Italia menghadapi Makedonia Utara di fase play-off. Yang terjadi kemudian, dalam laga di Palermo di kandang sendiri, Italia kalah 0-1 dengan cara menyesakkan. Gol Aleksandar Trajkovski di menit ke-90+2 membuat Italia kembali gagal ke Piala Dunia.
Editor: Irfan Sudrajat




