Industri Logam Tumbuh 15,71%, Utilitas Produksi Baja Masih Tertahan

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Industri baja nasional mencatat pertumbuhan signifikan pada 2025. Namun di tengah capaian tersebut, tingkat utilisasi kapasitas produksi belum optimal dan menunjukkan masih adanya tantangan struktural yang perlu dibenahi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sektor industri logam tumbuh 15,71% pada 2025, melampaui rata-rata manufaktur dan PDB nasional.

“Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen di atas rata-rata manufaktur dan PDB nasional,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (13/2/2026).

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan konsumsi baja domestik dari 18,6 juta ton pada 2024 menjadi 19,3 juta ton pada 2025. Permintaan berasal dari sektor konstruksi yang berkembang, termasuk Program Pembangunan 3 Juta Rumah, serta sektor manufaktur dan otomotif.

Meski demikian, dengan kapasitas produksi nasional sekitar 16–17 juta ton per tahun, tingkat utilisasi industri baja masih berada di bawah 60%-70%. Kondisi ini menunjukkan masih adanya ruang produksi yang belum terserap optimal di dalam negeri.

Di sisi lain, hilirisasi disebut turut mendorong kinerja ekspor. Komoditas fero-nikel tercatat mencapai nilai ekspor US$14,94 miliar pada Januari–November 2025. 

Baca Juga

  • Truk Dilarang Melintas saat Lebaran, Begini Respons Pengusaha Besi Baja
  • Berburu Saham Batu Bara Mercy Harga Bajaj Kala Harga Emas Hitam Memanas 2026
  • Danantara Bantu KRAS Bangun Pabrik Hulu Baja, Proyek dengan China Mundur?

Pasar ekspor juga diklaim semakin terdiversifikasi, dengan Australia menjadi tujuan utama produk barang dari besi dan baja senilai US$1,6 miliar, disusul Singapura dan Inggris. Sementara itu, RRT tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor lebih dari US$16 miliar.

“Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar, dan baja Indonesia telah memiliki kualitas dengan standar global,” terangnya.

Dari sisi investasi, nilai penanaman modal asing di sektor ini meningkat dari US$8,05 miliar pada 2021 menjadi US$16,37 miliar pada 2025, dengan kontribusi terbesar dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok. 

Namun, pemerintah juga menyoroti tantangan global berupa potensi kelebihan pasokan baja dunia yang diperkirakan mencapai 2,5 miliar metrik ton pada 2025 serta meningkatnya tren proteksionisme.

Memasuki 2026, isu dekarbonisasi dan penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi perhatian. Pemerintah mendorong transformasi menuju green steel melalui adopsi teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF) yang diklaim mampu mereduksi emisi hingga 85%.

Untuk menjaga pasar domestik, pemerintah memperkuat perlindungan melalui Bea Masuk Anti-Dumping pada sejumlah produk baja, pengetatan larangan dan pembatasan impor melalui kewajiban Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor untuk 440 pos tarif, serta pemberlakuan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib.

Pertumbuhan dua digit memang menjadi catatan positif bagi industri baja nasional. Namun, dengan tingkat utilisasi yang belum maksimal dan tekanan pasar global yang masih kuat, efektivitas berbagai kebijakan penguatan industri akan menjadi faktor penentu keberlanjutan kinerja sektor ini ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Stafsus: Gubernur DKI Jakarta Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Majukan Olahraga
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Akankah Imlek 2026 Turun Hujan? Inilah Penjelasan BMKG dan Maknanya
• 7 jam lalugrid.id
thumb
11 Cara Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan Agar Tidak Boros
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Akan Beri Bintang Mahaputera ke Kapolri: Kebahagiaan Bapak ke Anaknya
• 3 jam laludetik.com
thumb
IHSG Berpotensi Rebound Jelang Akhir Pekan, Empat Saham Ini Bisa Dicermati
• 9 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.