Jakarta, CNBC Indonesia - Reli saham perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sempat mengangkat raksasa teknologi kini mulai runtuh.
Para investor mulai menyadari bahwa lanskap AI bukan hanya lahan subur bagi saham, tetapi juga sumber risiko besar yang memicu gejolak harga saham.
Euforia AI sebelumnya menjadi motor penggerak utama pasar bullish AS, terutama lewat lonjakan saham perusahaan teknologi dan emiten yang terlibat dalam pembangunan pusat data. Bahkan, 2026 sempat digadang-gadang sebagai tahun AI mulai berdampak nyata pada laba korporasi.
Namun situasi berbalik. Kekhawatiran terkait belanja modal AI yang sangat besar menekan harga saham sejumlah perusahaan terbesar dunia, termasuk Amazon.com dan Microsoft.
- AI Jadi Mega Proyek Abad Ini: Lebih Mahal dari Misi ke Bulan-Bom Atom
- Google dan Apple Akhirnya Menyerah Dipaksa Berubah Total
- Jualan HP Susah, Model Ini Bakal Laku Keras di 2026
"Terlihat jelas adanya perpecahan dalam perdagangan saham bertema AI yang sebelumnya solid," kata Garrett Melson, portfolio strategist di Natixis Investment Managers Solutions, dikutip dari Reuters, Jumat (13/2/2026).
"Akan ada dinamika tarik-menarik pada saham-saham berbobot besar di indeks, tergantung bagaimana pasar memberi penghargaan pada pemenang dan pecundang dalam perlombaan AI," imbuhnya.
Saham Microsoft tercatat turun 16% sepanjang tahun ini, sementara Amazon.com turun lebih dari 11%. Tekanan muncul di tengah pertanyaan apakah investasi jumbo di AI akan benar-benar menghasilkan imbal balik sepadan.
Guncangan juga merembet ke sektor jasa keuangan. Saham Charles Schwab, LPL Financial, dan Raymond James Financial kompak jatuh masing-masing 7%, setelah startup meluncurkan fitur perencanaan pajak berbasis AI. Di sektor asuransi, Willis Towers Watson dan Arthur J. Gallagher ikut terseret turun.
Indeks S&P 500 memang masih mencatat kenaikan tipis tahun ini dan bertahan dekat rekor tertinggi. Namun, volatilitas meningkat tajam. Saham-saham yang melemah di dalam indeks tersebut rata-rata turun lebih dalam dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Pada 2026, lebih sedikit lebih baik, dan pemilihan saham adalah soal menghindari kehancuran," tulis Michael O'Rourke, chief market strategist di JonesTrading.
(fab/fab)




