7 Juta WNI Terancam Fibrilasi Atrial, Stroke Mengintai Tanpa Gejala

tvrinews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Jakarta

Indonesia menghadapi ancaman kesehatan senyap bernama fibrilasi atrium (Atrial Fibrillation/AF), gangguan irama jantung yang meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. Ironisnya, hampir setengah kasus tidak terdiagnosis karena sering kali tanpa gejala.

Hal itu terungkap dalam konferensi pers Pulse Day 2026 yang digelar Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) bersama Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta.

Advisory Board InaHRS sekaligus Founder gerakan MENARI, Prof. Yoga Yuniadi, mengungkapkan prevalensi AF di Indonesia mencapai 3,2 persen. Dengan penyesuaian struktur usia penduduk, jumlah penderitanya diperkirakan lebih dari 7 juta orang pada 2023.

“Angkanya besar sekali. Dan banyak yang tidak menyadari dirinya mengalami AF sampai terjadi stroke,”kata Yoga dalam keterangan yang diterima tvrinews di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

AF terjadi akibat gangguan aktivitas listrik di serambi jantung sehingga denyut menjadi tidak teratur. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di jantung yang sewaktu-waktu bisa lepas dan menyumbat pembuluh darah otak.

Stroke akibat AF cenderung lebih berat karena sumbatan yang terjadi umumnya berukuran besar. Risiko kematian dalam 30 hari pertama dua kali lebih tinggi dibanding stroke non-AF, dan tingkat kecacatan jangka panjang juga lebih besar.

Menurut Head of Pulse Day Task Force APHRS, dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP(K), hipertensi menjadi faktor risiko utama yang mendorong tingginya kasus AF di Indonesia. Sayangnya, sebagian besar penderita hipertensi belum terdiagnosis atau belum terkontrol dengan baik.

“Banyak pasien datang tanpa keluhan. Tiba-tiba sudah stroke. Padahal kalau AF diketahui lebih awal dan diobati, risiko stroke bisa dicegah hingga 90 persen,” jelasnya.

Sebagai respons atas situasi tersebut, APHRS dan InaHRS menggaungkan kampanye global Pulse Day yang diperingati setiap 1 Maret. Kampanye ini mengajak masyarakat melakukan deteksi dini melalui gerakan MENARI (MEraba NAdi SendiRI).

Metode ini cukup dengan meraba denyut nadi di pergelangan tangan selama 15–30 detik untuk menilai keteraturan irama. Jika terasa tidak teratur, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Selain metode manual, pemanfaatan wearable device seperti smartwatch juga dapat membantu skrining awal, meski diagnosis tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).
Dengan meningkatnya kesadaran dan deteksi dini, para dokter berharap angka stroke akibat fibrilasi atrium di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.

“Ini penyakit yang bisa dicegah komplikasinya. Kuncinya adalah mengenali lebih awal,”tuturnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Vonis Diperberat Jadi 12 Tahun Penjara, Hakim Djuyamto Ajukan Kasasi
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Bapanas: Satgas pantau 9.138 titik, harga pangan mulai terkendali
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
LKPP Ungkap Harga Laptop Tergolong Mahal, JPU Patahkan Klaim Eks Mendikbudristek Klaim
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenko PM: Ramadan Jadi Momentum Percepatan Program Indonesia Berdaya
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Sambut Ramadan, Seskab Teddy Titip Pesan Kebersamaan
• 2 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.