EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek tradisional Tiongkok, berbagai wabah penyakit masih merebak di sejumlah wilayah, khususnya penyakit saluran pernapasan yang menjadi perhatian utama.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok menyatakan bahwa influenza dan COVID-19 masih berada dalam periode penyebaran, namun situasi secara keseluruhan disebut mulai mereda. Meski demikian, banyak warga di berbagai daerah melaporkan rumah sakit penuh sesak, jumlah pasien kritis dan kasus kematian mendadak terus bertambah, serta tingkat positif COVID-19 kembali meningkat.
Masyarakat pun mempertanyakan apakah kondisi wabah yang sebenarnya telah diremehkan atau tidak disampaikan secara transparan.
Dengan datangnya Tahun Baru dan meningkatnya mobilitas penduduk dalam skala besar, tekanan terhadap pencegahan wabah dikhawatirkan akan kembali meningkat, sehingga arah perkembangan situasi ini menjadi perhatian luas.
Data Resmi: Masih Musim Puncak Penyakit Pernapasan
Baru-baru ini, CDC Tiongkok melaporkan bahwa penyakit menular saluran pernapasan di negara tersebut masih berada pada musim dengan angka kejadian tinggi, meskipun secara umum disebut menunjukkan tren menurun.
Influenza dilaporkan berada pada tingkat penyebaran sedang. Tingkat positif virus syncytial pernapasan (RSV) menunjukkan tren penurunan, sementara rhinovirus, virus parainfluenza, dan coronavirus biasa masih menunjukkan aktivitas pada tingkat tertentu.
Pada 10 Februari, media resmi Partai Komunis Tiongkok menyebut bahwa musim dingin dan awal musim semi memang merupakan periode dengan angka tinggi penyakit infeksi saluran pernapasan akut. Selama libur Tahun Baru, peningkatan kerumunan orang akan memperbesar risiko penularan. Data pemantauan terbaru menunjukkan bahwa patogen utama penyebab infeksi pernapasan akut adalah virus influenza dan RSV.
Warga Laporkan Rumah Sakit Penuh dan Kematian Mendadak
Namun, warga di Mongolia Dalam, Jiangsu, dan wilayah lain menyampaikan gambaran yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa jumlah orang yang mengalami demam dan flu sangat banyak, rumah sakit penuh, dan pasien dalam kondisi kritis juga meningkat. Sebagian menduga COVID-19 kembali merebak, sementara otoritas dinilai tidak mengungkapkan kondisi sebenarnya.
Seorang warga Hohhot bermarga Mu mengatakan: “Banyak yang batuk, pilek, sakit tenggorokan. Rumah sakit penuh. Kasus pneumonia berat dan ‘paru-paru putih’ sering terjadi. Sering juga ada yang meninggal, banyak yang masih relatif muda, 50 atau 60 tahun. Masalahnya kebanyakan terkait paru-paru.”
Seorang warga Wuxi, Jiangsu, bermarga Su menyatakan: “Dalam dua tahun terakhir, kematian di sekitar saya sangat banyak. Kematian mendadak cukup sering terjadi. Di perkampungan di Wuxi, banyak orang tiba-tiba meninggal. Ini jelas tidak normal, pasti ada wabah.”
Tingkat Positif COVID-19 Naik, Kematian Cenderung Lebih Muda
Berdasarkan data pekan ke-5 yang dirilis CDC Tiongkok terkait tingkat positif tes asam nukleat, persentase infeksi COVID-19 pada pasien rawat jalan dengan gejala mirip influenza maupun pasien rawat inap dengan infeksi pernapasan akut berat meningkat dibanding pekan sebelumnya.
Warga menyatakan bahwa jumlah kematian mendadak di berbagai daerah meningkat dan cenderung terjadi pada usia yang lebih muda.
Seorang warga desa di Wuhan bermarga Sun mengatakan: “Kasus berat, di sekitar saya banyak yang masih muda, usia 30-an dan 40-an, tiba-tiba saja meninggal. Kami pulang ke kampung halaman, keadaannya dari tahun ke tahun semakin sepi. Dulu banyak orang di mana-mana, sekarang hampir tidak ada. Desa seperti hampir punah. Rasanya sangat menyedihkan.”
Sementara itu, seorang warga Ordos, Mongolia Dalam, mengungkapkan bahwa pemerintah setempat gencar membangun pemakaman umum dengan harga makam berkisar antara 30.000 hingga 60.000–70.000 yuan.
Ia mengatakan: “Di tempat kami, tahun ini rumah duka dibangun lagi dan diperluas. Setelah kremasi, semuanya harus dimakamkan di pemakaman umum. Ini menjadi cara pemerintah mencari pemasukan.”
Kematian Mendadak Tokoh Publik Picu Perhatian
Belakangan, media di Tiongkok juga memberitakan sejumlah kematian mendadak tokoh publik yang memicu perhatian.
Pada 2 Februari, Shen Xianbing, mitra pendiri perusahaan investasi kuantitatif swasta Qilin Investment, meninggal mendadak pada usia 40 tahun.
Baru-baru ini, seorang influencer kebugaran berusia 26 tahun dari Ningbo, bernama Bi Jiaqi, juga meninggal secara mendadak dalam tidurnya. Sehari sebelumnya ia masih berinteraksi normal dengan teman-temannya di platform media sosial.
Seorang dokter lulusan Universitas Okayama Jepang, Zhen Lixue, mengatakan: “Beberapa laporan menunjukkan bahwa populasi Tiongkok tampaknya menurun tajam. Pemerintah tentu tidak akan mengumumkan angka pastinya, tetapi jika populasi turun drastis dan krematorium sangat sibuk, itu mencerminkan dari sisi lain bahwa tingkat kematian memang tinggi.”
Kekhawatiran Jelang Arus Mudik Besar-besaran
Dengan semakin dekatnya Tahun Baru Imlek, mobilitas penduduk dalam skala besar dan lintas wilayah akan meningkat drastis. Ditambah dengan cuaca dingin dan lingkungan tertutup, kondisi ini dikhawatirkan semakin memperbesar risiko penyebaran virus.
Perkembangan wabah dalam beberapa pekan ke depan pun menjadi perhatian publik, terutama di tengah laporan warga mengenai meningkatnya kasus berat dan kematian mendadak. (Jhon)
Sumber : NTDTV.com





