Dewi dan Tanaman Keberuntungan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada masa Buddha masih hidup, terdapat seorang dermawan yang sangat mendukung penyebaran ajaran Buddha. Dia kerap menyumbangkan harta bendanya untuk menolong para fakir miskin dan mereka yang hidup dalam kesendirian. Karena kedermawanannya itu, masyarakat menjulukinya “Dermawan Penolong Kaum Papa.”

Pada masa itu, masyarakat hidup dalam sistem kelas yang sangat ketat. Kaum budak berada pada lapisan paling bawah dan disebut sebagai golongan hina.

Meski sang dermawan sangat kaya dan memiliki kedudukan sosial tinggi, dia dikenal berhati lembut, penuh kasih, dan memperlakukan semua orang tanpa membeda-bedakan kelas. Dia bahkan memiliki seorang sahabat karib yang berasal dari golongan budak—kelas sosial paling rendah saat itu.

Budak tersebut berakhlak baik dan dapat dipercaya. Sang dermawan begitu mempercayainya hingga menyerahkan pengelolaan hartanya kepada orang itu.

Namun para kerabat dan sahabat sang dermawan yang berasal dari kalangan atas merasa sangat tidak setuju. Mereka berulang kali menasihatinya agar menjauh dari budak yang dianggap hina itu.

Sang dermawan menjelaskan dengan sabar bahwa hakikat manusia adalah setara, tanpa perbedaan mulia atau hina. Namun karena pandangan kelas sosial telah mengakar kuat di benak para kerabatnya, dia pun merasa sangat tertekan. Akhirnya, dia menemui Buddha untuk memohon petunjuk.

Buddha memuji kebajikan sang dermawan yang menghormati martabat manusia, dan menjelaskan bahwa sikap setara itu bukan hanya miliknya di kehidupan ini, melainkan juga telah dia praktikkan dalam kehidupan lampau.

Kemudian Buddha menceritakan sebuah kisah tentang hubungan sang dermawan dengan budak tersebut di kehidupan sebelumnya.

Pada zaman yang sangat lampau, hidup seorang raja yang memiliki istana megah dan taman kerajaan yang sangat indah. Di taman itu tumbuh berbagai tanaman langka.

Di antara tanaman tersebut, terdapat segerombol rumput keberuntungan yang tumbuh subur dan indah. Saat tertiup angin, daunnya bergoyang lembut dan mengeluarkan aroma harum.

Selain itu, ada pula sebuah pohon aprikot raksasa dengan batang tegak lurus dan cabang rimbun. Pohon ini adalah yang paling besar dan paling megah di taman, hingga dijuluki “Raja Pohon.”

Suatu hari, para pelayan istana melaporkan kepada raja bahwa sebuah bangunan bernama Aula Pilar Tunggal sudah sangat tua dan kini hanya disangga oleh satu tiang besar. Bangunan itu terancam roboh. Raja pun memerintahkan para pengrajin untuk mengganti tiang lama dengan kayu terbaik.

Namun setelah mencari ke seluruh negeri, para pengrajin tidak menemukan kayu yang cocok. Akhirnya mereka menyadari bahwa satu-satunya kayu yang memenuhi syarat adalah pohon aprikot raksasa di taman istana.

Meski raja sangat menyukai pohon itu, Aula Pilar Tunggal merupakan bangunan yang jauh lebih penting. Setelah mempertimbangkan dengan berat hati, raja memutuskan untuk menebang pohon tersebut.

Pada masa itu, orang-orang percaya bahwa setiap pohon dan tanaman memiliki roh penjaga. Maka para pengrajin menyiapkan persembahan buah-buahan, memuja roh pohon, dan berdoa:

“Karena Aula Pilar Tunggal hampir runtuh, kami terpaksa menebangmu untuk dijadikan tiang.
Mohon ampunilah kami.”

Setelah itu, mereka pun pergi.

Roh penjaga pohon aprikot adalah seorang dewi. Ketika mendengar bahwa dirinya akan ditebang, dia menangis dengan penuh kesedihan. Para roh pohon di sekitarnya pun ikut bersedih dan mengeluh, namun tak satu pun tahu bagaimana cara menolongnya.

Selama ini, sang dewi selalu bersikap ramah kepada roh rumput keberuntungan.

Kini, roh rumput itu datang menghiburnya dan berkata: “Mengeluh saja tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kita harus segera mencari jalan keluar dari bahaya ini.”

Namun roh-roh pohon yang merasa lebih tinggi derajatnya memandang rendah roh rumput tersebut.

Mereka mencibir dan berkata: “Kami saja tidak tahu harus berbuat apa, apalagi kamu, roh rumput kecil dan hina. Apa yang bisa kamu lakukan?”

Roh rumput menjawab dengan tenang: “Jika kita sungguh-sungguh memikirkan jalan keluarnya, pasti akan ada cara.”

Malam itu, roh rumput mengumpulkan banyak serangga dan menyuruh mereka membawa tanah serta menempelkannya di batang pohon aprikot. Tak lama kemudian, batang pohon itu dipenuhi gundukan tanah kecil, seolah-olah telah terserang hama parah.

Keesokan paginya, ketika para pengrajin datang untuk menebang pohon, mereka terkejut melihat kondisi tersebut.

“Kenapa pohon ini tiba-tiba jadi seperti ini? Sudah rusak parah karena hama. Kayunya tidak bisa dipakai.”

Akhirnya, mereka pun membatalkan rencana penebangan.

Sang dewi dengan penuh rasa syukur berkata: “Selama ini para roh pohon selalu menasihatiku agar tidak bergaul dengan roh rumput yang dianggap rendah. Namun ketika aku benar-benar berada dalam bahaya,  justru hanya roh rumputlah yang mampu menolongku.”

Setelah menyelesaikan kisah itu, Buddha berkata kepada sang dermawan: “Dewi dalam cerita itu adalah dirimu di kehidupan lampau. Roh rumput keberuntungan itu adalah budak yang kini menjadi sahabatmu. Dalam kehidupan ini memang ada perbedaan antara baik dan buruk, tetapi tidak ada perbedaan mulia dan hina di antara manusia.

Kalian telah saling menolong dari kehidupan ke kehidupan dan menjalin hubungan kebajikan yang sangat baik.  Jagalah persahabatan ini dengan sepenuh hati.”

Pada umumnya, manusia mudah menilai orang lain berdasarkan kekayaan, kekuasaan, dan tingkat pendidikan, lalu meremehkan mereka yang dianggap lebih rendah.

Padahal, ketenaran, kekayaan, dan jabatan bersifat semu dan tidak kekal. Semua itu bukanlah nilai sejati kehidupan.

Hanya dengan memperlakukan setiap orang secara setara dan menjalin hubungan dengan ketulusan dan kasih, kita dapat menjalani hidup yang benar-benar bijaksana.

Renungan

Jika dipikirkan, pohon itu pada akhirnya tetap ditebang— kalau tidak, bagaimana mungkin ada kehidupan berikutnya?

Meski aku sendiri tidak sepenuhnya percaya pada konsep reinkarnasi, aku percaya bahwa kepribadian seseorang akan menarik jenis teman yang serupa.  Orang yang tulus, suka menolong, dan ramah terhadap sesama akan dikelilingi oleh orang-orang dengan sifat yang sama. Sebaliknya, mereka yang hanya mengejar keuntungan akan menarik orang-orang yang berpikir serupa.

Hidup manusia— tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu singkat. Sebagian besar waktu diwarnai ketidakberesan dan ujian.

Karena itu, jangan sombong saat sedang berjaya, dan jangan tenggelam dalam keluh kesah saat sedang terpuruk.

Jika dalam keseharian kita tulus memperlakukan orang lain, maka ketika kesulitan datang, akan selalu ada tangan yang bersedia menolong.

Kelas sosial dan status  hanyalah ciptaan manusia yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Merendahkan sesama karena merasa lebih unggul hanya akan menumbuhkan kesombongan— dan pada akhirnya, kesombongan itu akan membawa akibatnya sendiri.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Malut United vs Persijap, Laskar Kie Raha Pantang Anggap Remeh Kalinyamat
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Niat Mandi Jumat Lengkap dengan Tata Caranya
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Khofifah Minta Maaf Baru Hadir di Sidang Dana Hibah, Tegaskan Bersikap Kooperatif
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Darma Henwa dan Huawei Cloud Pelopori Digitalisasi Pertambangan
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Generasi Doom-Scrolling: Kesepian yang Disamarkan Jadi Tren Viral
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.