Harga Jagung Ternak Tembus Rp6.935, Telur dan Daging Ayam Terancam Naik Jelang Ramadan

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga jagung di tingkat peternak berpotensi menimbulkan efek domino terhadap harga telur dan daging ayam ras menjelang Ramadan 2026.

Berdasarkan pemantauan per 6 Februari 2026, Kantor Staf Presiden (KSP) mencatat harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.935 per kilogram, jauh di atas harga acuan pembelian (HAP) Rp5.800 per kilogram dan berstatus tidak aman. Harga tersebut sekitar 19,57% lebih tinggi dibandingkan HAP.

Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP Popy Rufaidah mengatakan lonjakan harga jagung berisiko menekan biaya produksi unggas. “Jika kondisi ini bertahan, tekanan biaya produksi dapat merembet ke harga telur dan daging ayam. Sehingga penguatan pasokan jagung pakan perlu dipercepat,” kata Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (9/2/2026).

KSP juga mencatat harga telur ayam ras masih berada di atas HAP Rp30.000 per kilogram. Per 6 Februari 2026, harga telur mencapai Rp33.700 per kilogram dan berstatus tidak aman, meski telah turun dibandingkan periode sebelumnya.

“Tentunya ini perlu mendapatkan perhatian karena telur adalah komoditas konsumsi harian. Koreksi harga perlu dipercepat agar tidak mengangkat inflasi pangan,” ucapnya.

Sementara itu, harga daging ayam ras secara nasional berada pada level Rp42.100 per kilogram, di atas HAP Rp40.000 per kilogram dan berstatus waspada. Adapun harga ayam ras pedaging hidup tercatat Rp23.795 per kilogram, berada dalam status waspada namun di bawah HAP Rp25.000 per kilogram.

Baca Juga

  • Langgar Ketentuan Sawah Abadi, Menteri Nusron Minta 409 Kabupaten dan Kota Rombak Tata Ruang (RTRW)
  • Harga Pupuk Subsidi 2026, Prabowo Janjikan Ini Kepada Petani
  • 10.000 Hektare Lahan Baru di Rote NTT Dibuka untuk Proyek Garam, APBN Masuk Rp700 Miliar

Popy menilai persoalan utama bukan pada kekurangan pasokan nasional, melainkan distribusi dan biaya logistik, terutama ke wilayah dengan akses terbatas. “Isu utamanya bukan kekurangan nasional, tetapi biaya distribusi dan pasokan ke wilayah sulit yang membuat gap harga tetap lebar,” terangnya.

Di sisi lain, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai lonjakan harga jagung langsung memukul struktur biaya produksi peternakan unggas. Ia menjelaskan, pakan menyumbang sekitar 60 persen dari total biaya produksi, dengan jagung sebagai komponen utama yang porsinya hampir 50 persen.

“Jagung merupakan komponen vital atau campurannya hampir 50%-nya. Sementara harga jagung melonjak akibat kebijakan penghentian impor jagung yang memicu kelangkaan stok bagi peternak mandiri dan mengutamakan penggunaan jagung dalam negeri,” kata Eliza kepada Bisnis, dikutip Jumat (13/2/2026).

Menurut dia, peternak kini bergantung pada jagung lokal yang harganya lebih mahal karena ongkos produksi domestik relatif tinggi dibandingkan negara produsen utama seperti Amerika Serikat dan Brasil. Jika dibandingkan dengan AS, biaya produksi jagung di Indonesia disebut sekitar 2,5 kali lebih tinggi.

Kenaikan harga jagung juga tercermin dari membaiknya nilai tukar petani pangan (NTPP). Badan Pusat Statistik mencatat NTPP berada di level 113,43 pada Januari 2026.

Namun, Core menilai struktur pasar pakan yang oligopolistik memperburuk situasi. Penyerapan jagung lokal masih didominasi pabrik pakan berskala besar, sehingga peternak mandiri kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.

“Peternak mandiri skala kecil kesulitan mendapatkan bahan baku murah dan harus membeli melalui rantai distribusi yang panjang dengan harga mahal. Ini nggak efisien bagi peternak mandiri,” ujarnya.

Eliza memperingatkan, jika pelaku usaha di setiap mata rantai distribusi menyesuaikan harga untuk menjaga margin, maka kenaikan harga berpotensi diteruskan hingga ke konsumen. Risiko itu dinilai makin besar menjelang Ramadan dan Lebaran, ketika permintaan meningkat.

“Apalagi demand ketika puasa dan Lebaran ini akan lebih tinggi dari biasanya, ditambah program MBG [makan bergizi gratis], maka kita harus waspadai kenaikan harga,” sambungnya.

Core menyarankan langkah jangka pendek berupa penguatan operasi pasar dan pemangkasan rantai distribusi, khususnya untuk segmen kelas menengah bawah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Solusi instannya adalah operasi pasar untuk segmen kelas menengah bawah dan UMKM. Sediakan bahan pangan murah dengan memotong rantai distribusi,” tuturnya.

Untuk meredam tekanan inflasi pangan menjelang Ramadan, KSP meminta pemerintah daerah memperkuat pengawasan di kantong-kantong harga tinggi dan menggelar pasar murah. Selain itu, Kementerian Perdagangan diminta memantau pergerakan harga secara harian guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas unggas


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Syahganda Meyakini Prabowo Subianto Meragukan Ijazah Jokowi
• 12 jam lalugenpi.co
thumb
Indonesia dan Norwegia Luncurkan Dana Rp7 Miliar untuk Perkuat Target FOLU Net Sink 2030
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Penumpang Membludak, Tiket KAI Probolinggo Laku Keras Saat Imlek
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Syarat Ikut Mudik Gratis Lebaran 2026, Catat Dokumen dan Cara Daftarnya
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Perkuat Ekonomi Desa, Bank Jatim dan Kemendes PDT Teken Perjanjian Kerja Sama
• 37 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.