EtIndonesia. Guan Heng, seorang aktivis pembangkang asal Tiongkok, pernah merekam dan mempublikasikan video yang ia sebut sebagai “kamp konsentrasi Xinjiang”, yang kemudian menarik perhatian luas dari berbagai pihak. Dalam wawancara khusus, ia dan ibunya berbagi kisah mengenai perubahan pemikirannya serta tekanan yang mereka hadapi.
Guan Heng menjelaskan bahwa titik balik dalam cara pandangnya terjadi pada awal tahun 2020, saat wabah COVID-19 (disebutnya sebagai “virus PKT”) mulai merebak di Tiongkok.
Pengalaman Saat Lockdown 2020: “Pertama Kali Merasakan Kepalan Besi”
Pada 2020, ketika wabah COVID-19 meluas di Tiongkok, kompleks tempat tinggal Guan Heng memberlakukan pembatasan keluar-masuk yang ketat. Ia mengatakan, sebuah pengalaman saat itu membuatnya untuk pertama kali merasakan secara langsung apa yang ia sebut sebagai “kepalan besi komunisme”.
Guan Heng mengenang:
“Saat itu saya sebenarnya tidak punya izin khusus (surat jalan). Penjaga tidak mengizinkan saya keluar. Saya membujuknya cukup lama hingga akhirnya dia membiarkan saya pergi. Setelah saya membeli bahan makanan dan kembali, penjaganya sudah berganti. Yang baru tidak mengizinkan saya masuk. Saya mencoba masuk secara paksa, belum jauh, dia langsung menarik saya hingga terjatuh. Pemerintah Tiongkok saat itu benar-benar memberi ancaman langsung kepada saya—ancaman terhadap kelangsungan hidup. Sayuran yang saya beli berhamburan di tanah, seolah-olah saya bahkan tidak diizinkan untuk makan.”
Momen ketika ia ditarik hingga terjatuh itu membuatnya teringat pada peristiwa kelaparan besar di Xinyang, Henan, pada tahun 1959.
BACA JUGA : Merekam Kamp Konsentrasi Xinjiang Secara Diam-diam dengan Risiko Besar: Wawancara dengan Guan Heng yang Menceritakan Perjalanannya (Bagian 1)
Guan Heng berkata:
“Saat itu, di Xinyang, kondisi kelaparan sangat parah. Gudang pemerintah sebenarnya masih memiliki persediaan makanan, tetapi rakyat tidak punya apa-apa. Orang-orang yang mencoba melarikan diri untuk mencari makanan ditembak mati, mungkin oleh polisi bersenjata atau aparat lainnya. Mereka tidak diizinkan melarikan diri.”
Refleksi atas Kontrol Sistematis Negara
Sejak saat itu, Guan Heng mulai merenungkan bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) menjalankan kontrol sistematis terhadap masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk melalui slogan-slogan propaganda politik yang tersebar di mana-mana.
Ia menuturkan:
“Saat saya pergi ke Xinjiang pada 2019, saya memasukkan banyak slogan itu ke dalam video saya. Seperti ‘Partai Komunis Tiongkok itu baik’, ‘kebijakan etnis’, ‘kebangkitan besar bangsa Tiongkok’. Banyak orang sebenarnya hanya bisa ikut arus. Saya bahkan tidak bisa mengatakan mereka didorong—karena jika sedikit saja berjalan ke arah berlawanan, mesin negara akan langsung tanpa ampun menghancurkan Anda.”
Tekanan terhadap Keluarga Tak Pernah Berhenti
Meski kini Guan Heng tinggal di luar negeri, tekanan terhadap keluarganya di Tiongkok disebut masih terus berlanjut.
Ibunya, Luo Yun, mengatakan:
“Saya bisa memahami mereka (kerabat atau orang sekitar). Berusaha menjaga jarak dari saya, bagi mereka itu adalah bentuk perlindungan.”
Mendapat Suaka Politik, Ingin Lebih Banyak Menemani Ibu
Saat ini, Guan Heng telah memperoleh suaka politik di Amerika Serikat.
Mengenai rencana ke depan, ia mengatakan ingin lebih banyak meluangkan waktu bersama ibunya, serta berencana membuat film dokumenter tentang empat tahun kehidupannya di Amerika. (Jhon)





