EtIndonesia. Amerika Serikat mempercepat konsentrasi kekuatan serangan strategisnya di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait program nuklir dan stabilitas kawasan. Berdasarkan rangkaian citra satelit yang dianalisis hingga awal Februari 2026, terlihat adanya pengerahan signifikan aset udara dan penyesuaian sistem pertahanan di sejumlah pangkalan utama Amerika Serikat di kawasan.
Pengerahan Besar di Yordania: Muwaffaq Salti Jadi Titik Fokus
Citra satelit terbaru menunjukkan peningkatan aktivitas militer di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Hingga 7–10 Februari 2026, pangkalan ini tercatat menampung sedikitnya:
- 8 unit A-10 Thunderbolt II
- 17 unit F-15E Strike Eagle
- 4 unit EA-18G Growler
- Sejumlah pesawat angkut C-130 untuk dukungan logistik
Komposisi ini menunjukkan bukan hanya penguatan daya gempur, tetapi juga kesiapan operasional jangka menengah hingga panjang.
A-10, yang dijuluki “pembunuh tank”, dirancang untuk dukungan udara jarak dekat (close air support), efektif menghancurkan kendaraan lapis baja, posisi artileri, dan sistem pertahanan udara dari ketinggian rendah. F-15E Strike Eagle mampu membawa amunisi presisi jarak jauh, termasuk bom penghancur bunker untuk menarget fasilitas bawah tanah dan pangkalan rudal yang diperkeras.
Sementara itu, EA-18G Growler memainkan peran krusial dalam peperangan elektronik—menekan radar dan sistem pertahanan udara musuh sebelum gelombang serangan utama dilancarkan.
Kombinasi ketiga platform ini mengindikasikan pembangunan arsitektur “penetrasi udara terpadu”: gangguan elektronik, pembukaan koridor serangan, lalu penghancuran target strategis.
Qatar: Patriot Beralih ke Konfigurasi Mobile
Secara paralel, hingga 8 Februari 2026, citra satelit menunjukkan perubahan konfigurasi sistem pertahanan udara Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Sistem yang sebelumnya ditempatkan dalam posisi relatif tetap kini dipasang pada truk taktis berat, memungkinkan pola operasi “tembak dan berpindah” (shoot and scoot). Strategi ini bertujuan:
- Mengurangi risiko sistem terkunci dan dihantam rudal balistik.
- Meningkatkan daya tahan terhadap serangan drone dan rudal jelajah.
- Memperbesar fleksibilitas respons dalam skenario serangan simultan.
Langkah ini dinilai sebagai antisipasi terhadap ancaman balasan Iran, terutama dari jaringan rudal balistik dan drone jarak jauh.
Iran Angkat Suara, Aktivitas Laut Meningkat
Ketegangan meningkat setelah pejabat Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan.
Citra satelit juga mendeteksi aktivitas kapal induk drone Angkatan Laut Iran, Shahid Bagheri, di Teluk Persia pada awal Februari 2026. Kehadiran kapal ini dipandang sebagai pesan simbolik bahwa Teheran siap meningkatkan tekanan asimetris melalui operasi drone maritim.
Elemen Laut dan Opsi Kapal Induk Kedua
Di domain maritim, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan sejak akhir Januari 2026 sebagai elemen utama deterensi laut.
Presiden Donald Trump pada awal Februari 2026 menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kelompok tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah. Jika direalisasikan, langkah ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan dan serangan presisi jarak jauh.
F-35A di Eropa: Lapisan Persiapan Tambahan
Pada akhir Januari 2026, enam unit F-35A Lightning II milik Garda Nasional Udara Vermont diterbangkan menuju Pangkalan Udara Lajes, Kepulauan Azores, Portugal.
Penempatan ini dipandang sebagai cadangan strategis. F-35A dikenal sebagai platform utama untuk misi penyerangan dan penghancuran sistem pertahanan udara musuh (SEAD/DEAD), sangat relevan dalam menghadapi jaringan pertahanan udara berlapis Iran.
Analis menilai pengerahan ini memberi Washington fleksibilitas untuk meningkatkan eskalasi dengan cepat bila diperlukan.
Deterensi atau Persiapan Operasi Besar?
Sejumlah pakar militer menilai konfigurasi saat ini masih bersifat deterensi dan defensif. Jumlah F-15E dan A-10 lebih diarahkan untuk melindungi Israel dan instalasi AS dari ancaman rudal serta drone.
Namun, untuk operasi udara skala penuh dan berkepanjangan terhadap target strategis Iran, diperlukan tambahan pembom strategis, tanker udara, serta sistem komando dan kontrol yang lebih luas.
Dengan kata lain, struktur saat ini cukup untuk respons cepat dan terbatas—tetapi belum sepenuhnya mencerminkan mobilisasi perang total.
Tekanan Ekonomi: Sanksi dan Dampaknya
Di luar ranah militer, Washington memperketat tekanan finansial terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataan publik awal Februari 2026 mengakui bahwa sanksi dirancang untuk menciptakan kelangkaan dolar di Iran.
Dampaknya terasa sejak akhir 2025 hingga awal 2026:
- Nilai rial Iran terdepresiasi tajam.
- Inflasi melonjak.
- Sistem perbankan mengalami tekanan berat.
- Gelombang protes muncul di berbagai kota besar.
Pemerintah AS menyebut pendekatan ini sebagai strategi “tekanan maksimal tanpa perang langsung.” Sementara Teheran menuduh kebijakan tersebut memperparah krisis domestik dan mengganggu stabilitas nasional.
Kesimpulan: Kawasan Mendekati Titik Kritis
Pergerakan militer sejak akhir Januari hingga pertengahan Februari 2026 menunjukkan peningkatan kesiapan tempur yang sistematis: dari udara, laut, hingga sistem pertahanan rudal.
Meski belum memasuki fase konfrontasi terbuka, kombinasi pengerahan militer dan tekanan ekonomi menempatkan Timur Tengah pada fase sensitif.
Jika diplomasi gagal dan salah satu pihak mengambil langkah ofensif, konfigurasi yang kini terlihat di Yordania, Qatar, dan perairan Teluk dapat dengan cepat berubah dari sinyal deterensi menjadi operasi militer nyata.





