PT Smart Cakrawala Aviation angkat bicara terkait insiden penembakan pesawat PK-SNR rute Tanah Merah-Koroway Batu, Papua Selatan pada Rabu (11/2) lalu.
Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation, Pongky Majaya, memaparkan rentetan kejadian berdasarkan informasi yang diterima perusahaan dari ruang kontrol.
Pongky menjelaskan, peristiwa itu terjadi saat pesawat menjalankan penerbangan perintis membawa 13 penumpang yang mana satu di antaranya adalah balita.
“Sekitar pukul sepuluh Waktu Indonesia Timur, kami mendapatkan informasi... eh... pesawat kami PK-SNR melakukan penerbangan membawa 12 penumpang dewasa dan satu penumpang balita dari Tanah Merah menuju Koroway Batu. Penerbangan berjalan lancar dan dengan cuaca yang cukup baik dan mendarat di Koroway Batu dengan selamat,” kata Pongky kepada kumparan, Jumat (13/2).
Menurutnya, situasi berubah sesaat setelah pesawat mendarat dan penumpang turun.
“Pas sesaat setelah pesawat mendarat dan pilot membantu penumpang untuk turun dari pesawat, tiba-tiba terdengar sejumlah tembakan dan seluruh penumpang dan kru berlari menyelamatkan diri ke arah hutan,” ujarnya.
Pongky menjelaskan, dari ruang kontrol, perusahaan menerima sinyal darurat.
“Pada saat itu, kami dari ruang kontrol mendapatkan kiriman sinyal SOS yang mana setelah itu tindakan pertama yang bisa kami lakukan adalah segera menghubungi seluruh pihak terkait sambil menunggu perkembangan berikutnya,” ucap dia.
Selang beberapa menit kemudian, perusahaan menerima pesan singkat dari kopilot.
“Selang beberapa menit kemudian, kami mendapatkan text message dari kopilot, eh pada saat itu bertugas sebagai kopilot, Kapten Baskoro, menyatakan bahwa beliau dan Kapten Egon berlindung di hutan dan bersembunyi di sarang. Kami juga berhasil melacak koordinat yang bersangkutan,” jelas Pongky.
Smart Aviation kemudian membentuk pusat krisis untuk memantau situasi.
“Segera yang dilakukan oleh perusahaan adalah membentuk Crisis Center dan seluruh pengawasan terkait dengan kasus ini kami serahkan ke Crisis Center,” katanya.
Komunikasi terakhir yang diterima perusahaan berisi permintaan agar koordinat terus dilacak.
“Komunikasi kami terakhir yang kami dapatkan adalah bahwa 'tolong kami dilacak terus koordinat kami, karena kami kesulitan mengirimkan berita',” tutur Pongky.
Ia menjelaskan, selama sekitar 40 menit, koordinat terpantau tidak banyak bergerak.
“Kurang lebih 40 menit kami memantau koordinat tersebut, tidak ada terlalu banyak pergerakan yang mana kami asumsikan seharusnya di posisi yang masih aman,” ucapnya.
Pongky melanjutkan bahwa, kemudian, koordinat justru bergerak mendekati pesawat.
“Selang berapa lama setelah itu, kami mendapatkan koordinat bergerak menuju ke arah pesawat yang mana pada saat itu kami ber-positive thinking, berprasangka baik mungkin karena kondisi sudah aman maka pilot mendekati pesawat,” kata dia.
Tak lama berselang, perusahaan menerima informasi bahwa kru dan pesawat disandera.
“Namun selang beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi lisan yang mengatakan bahwa kru dan pesawat disandera oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Pongky.
Ia mengatakan, konfirmasi tragis diterima setelahnya melalui rekaman video dan informasi aparat.
“Selang berapa menit kemudian kami mendapatkan konfirmasi berupa video rekaman yang diduga juga direkam oleh pelaku, ada dua sosok manusia yang tergeletak di sekitar runway... eh yang satunya tergeletak di rumputan. Dan itu dengan ciri-ciri seperti kru kami,” katanya.
“Kemudian kami juga dalam waktu singkat kami mendapatkan informasi yang lebih akurat dari aparat bahwa kedua kru kami sudah dieksekusi. Dan sejak itulah semua komunikasi titik koordinat sudah tidak bergerak dan kami sudah tidak dapat melakukan pemantauan lagi. Diduga alat pelacak itu sudah di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab,” lanjutnya.
Terkait evakuasi, Pongky kemudian mengatakan proses sempat terkendala akibat cuaca dan waktu.
“Proses evakuasi memang langsung kita upayakan kita berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk mengevakuasi kedua kru kami sesegera mungkin. Namun terkendala oleh cuaca dan juga waktu yang sudah terbatas sehingga proses evakuasi itu baru bisa dilakukan keesokan harinya,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kondisi penumpang pasca kejadian, Pongky memastikan seluruh penumpang selamat.
“Sebagaimana informasi yang kami dapatkan dari pihak aparat bahwa ke-13 yakni 12 yang dewasa dan satu balita selamat sampai ke rumah masing-masing dalam keadaan yang baik ya,” kata Pongky.





