Langit Indonesia akan dihiasi Gerhana Bulan Total (GBT) saat Ramadan 1447 Hijriah. Fenomena alam ini terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan 13 Ramadan berdasarkan takwim standar Kementerian Agama.
Gerhana Bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Pada fase ini, Bumi berada di tengah dan bayangannya menutupi Bulan sepenuhnya. Bulan akan tampak berwarna kemerahan karena cahaya Matahari yang dibelokkan atmosfer Bumi tetap mencapai permukaannya.
Peneliti astronomi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Judhistira Aria Utama, mengatakan GBT pada 3 Maret dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia selama cuaca cerah. Di Bandung, fase yang bisa disaksikan berlangsung dari puncak totalitas pada pukul 18.33 WIB hingga gerhana berakhir pada 21.33 WIB.
Saat awal kemunculan, ketinggian Bulan kurang dari 7 derajat di atas ufuk timur. Oleh karena itu, warga yang ingin mengamati keindahan gerhana tersebut perlu memilih lokasi dengan pandangan terbuka ke arah timur tanpa halangan gedung atau perbukitan.
"Untuk mengamati gerhana Bulan tidak diperlukan teleskop mahal. Cukup langit yang cerah dan kemauan untuk mengamati," kata Judhistira dalam pernyataan tertulis yang diterima kumparan, Jumat (13/2).
Sebelum Gerhana Bulan Total muncul pada 3 Maret 2026, langit Bumi juga bakal kedatangan Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026. Sayang, fenomena tersebut tidak melintasi Indonesia sehingga tidak bisa disaksikan dari dalam negeri.
Data perhitungan astronomi untuk periode 2000 hingga 2100 mencatat 453 gerhana. Dari jumlah itu, sebanyak 217 peristiwa dapat diamati dari Indonesia dan hanya 19 penampakan yang beririsan dengan Ramadan. Fakta ini menunjukkan gerhana saat bulan puasa bukan peristiwa rutin tahunan.





